Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Tidak berhenti berbuat jahat


__ADS_3

Tanpa sadar Anggita meneteskan air mata saat dia sudah berada di kamarnya sendiri. Anggita sendiri tidak mengerti dengan isi hatinya sendiri. Semakin baik Byantara terhadapnya membuat Anggita menjadi sedih. Rasanya dia juga terbawa suasana saat Byantara tadi memeluknya dan mengecup ubun-ubun nya. Gita merasa Byantara begitu berbeda dengan yang dulu.


Tapi perbuatan Byantara yang lembut justru membuat Anggita semakin sakit hati, mengapa baru sekarang Byantara berlaku baik padanya? Mengapa tidak sejak dulu saja Byantara belajar mencintainya saat dia masih berstatus istrinya.


Perbuatan Byantara malah mengingatkan Anggita kalau dia sempat mau menghilangkan nyawa Benji dari perutnya karena rasa bencinya pada Byantara.


Anggita yang kini duduk di atas tempat tidur memperhatikan wajah Benji yang sedang terlelap, tanpa sadar Anggita mengelus wajah polos Benji dengan penuh kasih.


Maafkan mama yang pernah ingin melenyapkan mu Benji, untung masih ada orang baik yang mengingatkan mama, sesal Anggita yang tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya bila tidak ada Benji di sisinya. Pasti hidupnya akan terasa hampa. Hal itulah yang membuat Anggita merasa sulit memaafkan Byantara.


Bahkan saat menyendiri seperti ini, tanpa bisa dikontrol pikirannya memutar kembali kejadian saat dia masih tinggal di gang kecil, di rumah yang tanpa ventilasi itu. Kalau diingat lagi saat itu keadaan Benji sangat menyedihkan, Benji yang terlahir prematur sangat kecil dan tidak seperti bayi pada umumnya. Tapi saat itu Anggita sendiri seperti orang stres, pagi-pagi sudah berkeliling di jalan-jalan untuk menjual kue, sebetulnya bukan karena ingin mencari uang lebih, tapi lebih karena perasaan tidak tega melihat keadaan Benji, sehingga dia memilih menitipkan Benji ke tetangga dan mencari uang lebih untuk membayar tetangganya yang membantu menjaga Benji.


Sampai akhirnya dia bertemu dengan Theo dan nenek Tang yang merubah hidupnya dan Benji menjadi lebih baik. Nenek Tang yang meyakinkan pada Anggita, kalau Benji bisa tumbuh normal asal dijaga baik-baik. Nenek Tang yang keturunan China sangat mengerti pengobatan tradisional China. Nenek Tang yang merasa kasihan pada Benji, sering memberikan obat racikan dari tumbuh-tumbuhan kering dan menyuruh Anggita merebusnya bersama bubur yang Anggita buat untuk Benji. Akhirnya Benji bisa tumbuh normal seperti anak kecil lainnya.


Karena perasaan hutang budinya pada nenek Tang itulah yang membuat Anggita tidak berani menerima Samuel, semenjak nenek Tang memintanya menjauhi Samuel. Tidak mungkin dia membalas air susu dengan air tuba.


Bukankah aku mau bertanya pada mas Theo, apakah benar kata Sella kalau mas Theo sudah bekerjasama dengan Byantara membuat ku kembali ke sini? Tiba-tiba Anggita teringat dengan pertanyaan yang hendak dia tanyakan dengan Theo. Tapi ketika melihat hari sudah malam, Anggita memutuskan besok baru dia akan menghubungi Theo untuk menanyakan kebenarannya.


Tapi rasanya kok sudah lama mas Theo tidak pernah ke sini? pikir Anggita merasa heran

__ADS_1


*********


Byantara duduk termenung di kamar nya. Byantara kembali membayangkan perbuatan yang sudah dia lakukan pada Anggita dulu. Kalau dipikir ulang lagi, Byantara merasa bersalah mengapa dulu dia mempersulit Anggita yang hendak melamar pekerjaan. Harusnya dia cukup menceraikan Anggita dan tidak melakukan hal itu. Tapi semua dia lakukan karena perasaan marahnya, saat dia hendak memperbaiki hubungan dengan Anggita, dia diberitahu Sella kalau Anggita bersama laki-laki lain.


Dan entah Sella tahu dari mana kalau Anggita sebentar lagi akan memberitahu kehamilannya pada dia. Bahkan Sella menyerahkan sebuah foto yang memperlihatkan Anggita melangkah masuk ke lobby hotel dengan seorang pria. Byantara tentu mengenali Anggita di foto itu, walaupun saat itu Anggita memakai kaca mata hitam, tapi wajah sang pria tidak jelas, tapi dapat dipastikan kalau yang berjalan di samping Anggita itu seorang pria.


Dan yang membuat Byantara emosi dan tidak berpikir panjang lagi adalah saat Anggita mengakui kalau bayi di perutnya bukan anaknya. Anggita sama sekali tidak ada niat menjelaskan padanya, bisa jadi saat itu Anggita juga dalam keadaan emosi karena perkataannya. Memang saat dia menceraikan Anggita, ucapannya terlalu tajam, tapi semua itu karena rasa marahnya karena laporan Sella. Bahkan karena emosinya yang susah dibendung, tadinya Byantara ingin menanyakan tentang foto itu sampai lupa.


Sekarang Byantara baru sadar, kalau Sella adalah perempuan yang licik dan suka mengadu domba. Bahkan ternyata sudah bertahun-tahun membohonginya, dan selalu mengingatkan hutang budi Byantara.


Kini Byantara baru mulai bisa berpikir jernih, setelah semua sudah terlambat, setelah Anggita membenci dirinya.


Tentu saja dia membenci ku, apalagi kata Theo saat bertemu pertama kali dengan Anggita setelah bercerai, keadaannya sungguh menyedihkan.


Padahal banyak masalah yang ingin aku selesaikan dengannya, tapi rasanya tidak mungkin kalau dia membenci ku seperti ini? gumam Byantara menyesal dan akhirnya duduk termenung dengan tatapan kosong.


Otaknya saat ini tidak bisa diajak berpikir lagi, otaknya yang biasa selalu bisa memberikan jalan keluar padanya setiap dia mengalami masalah, kini terasa benar-benar tumpul.


*********

__ADS_1


"Buat apa kau mencari preman di kampung ini Sella? Kau jangan pernah berhubungan dengan pria seperti Raka!" ujar Tanti, ibu Sella yang memilih tinggal di kampung setelah Sella menikah dengan Byantara.


Tanti cukup mengenal Sella, dan Tanti mulai mengetahui sifat-sifat buruk Sella yang ambisius. Tanti juga tahu kalau Sella sejak dulu malu dengan keberadaan ibunya yang bekas seorang pelayan, apalagi setelah dia menikahi Byantara yang seorang konglomerat dan menjadi foto model terkenal. Akhirnya Tanti memilih tinggal di kampung agar Sella tidak terganggu dengan keberadaannya.


Sella saat itu malah menerima dengan senang keputusan sang ibu, Sella langsung memberi Tanti uang dalam jumlah banyak agar membeli rumah di kampung.


Bagaimanapun Sella adalah anaknya, Tanti tetap ingin memberikan kebahagiaan untuk Sella, kalau dengan menjauh dari Sella, Sella akan hidup dengan tenang, Tanti pun dengan ikhlas melakukannya, karena Tanti merasa kalau dia sebagai seorang ibu kurang bisa membahagiakan Sella yang berambisi tinggi dengan pekerjaannya yang hanya seorang pelayan.


"Aku tidak rela diceraikan oleh Byantara karena perempuan itu, Bu!" ujar Sella dengan mata penuh dendam.


"Sudahlah Sella, sudah sejak dulu ibu bilang pada mu jangan menginginkan kepunyaan orang lain, pada akhirnya tidak akan baik hasilnya. Sebaiknya kau hidup tenang di tempat ini bersama ibu, lupakanlah Byantara!" nasehat Tanti.


"Pantas saja ibu selamanya menjadi pelayan, ternyata ibu begitu mudah menyerah! Bukankah Anggita sama dengan ku? Dulu dia juga memanfaatkan pak Darmawan agar Byantara menikahinya?" ujar Sella yang tidak terima.


Tanti hanya bisa menghela nafas, melihat Sella yang sifatnya masih tidak berubah sejak dulu.


"Kau pikir sendiri, bagaimana sifat Byantara. Apakah ayahnya mungkin bisa memaksanya terus kalau Byantara sama sekali tidak ingin? Bukankah kau saat itu yang selalu mengingatkan hutang budi Byantara pada mu untuk mengikat Byantara?" ujar Tanti.


"Bukankah ibu sudah menyuruh mu menghentikan keinginan mu itu Sella? Kalau benar Byantara mencintai mu dengan tulus tentu dia akan memperjuangkan mu saat itu?" sambung Tanti lagi menghela nafas.

__ADS_1


"Huh! Harusnya aku tahu kalau bicara sama ibu percuma, gak bakal kasih solusi juga. Aku tidak akan tenang sebelum menghancurkan hubungan Byantara dan Anggita!" sahut Sella yang langsung melangkah keluar meninggalkan sang ibu dengan kesal.


Bersambung .............


__ADS_2