Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 16


__ADS_3

Hari ini Ayunda kembali memaksa sang putra untuk menemui calon istrinya. Pagi-pagi sekali wanita paruh baya itu sudah berisik mengingatkan Marco yang masih terlelap untuk pergi ke rumah Mishel. Karena rencananya Mishel akan memeriksakan kandungannya, setelah sebelumnya Ayunda membuat janji dengan dokter kepercayaannya.


"Mamah tidak mau tau, pokoknya hari ini kamu harus menemani Mishel ke dokter kandungan. Kau harus tau sendiri bagaimana keadaan anakmu, Marco."


Marco yang masih mengantuk hanya bergumam menanggapi ocehan sang mamah yang sudah membicarakan hal itu semalam. Memintanya untuk mengantarkan wanita itu ke dokter kandungan. Bagi Marco tentu dia sangat malas karena dia masih ragu kalau janin itu adalah hasil dari apa yang sudah dia lakukan. Walaupun malam itu memang dialah yang pertama untuk wanita itu tapi tidak ada yang tau setelahnya wanita tersebut bersama dengan siapa saja.


"Marco, cepat bangun. Kamu harus menjemput Mishel ke rumahnya."


"Apa? Kenapa harus aku Mah, suruh saja supir menjemputnya biar tidak membuang waktu. Aku akan menemuinya di rumah sakit." Marco seenaknya sendiri.

__ADS_1


Ayunda menghela nafas, putranya itu sungguh membuat dia kehabisan kesabaran. Apa dia tidak tau bagaimana menderita Mishel saat mengandung anaknya. Dia mual dan muntah setiap hari bahkan kesusahan untuk menelan makanan. Ayunda sangat berharap putranya lebih perhatian pada Mishel mungkin dengan begitu janinnya bisa merasakan dan mengerti akan keadaan ibunya.


Cairan bening itu tak sanggup lagi Ayunda tahan melihat putranya masih asyik di bawah selimut. Rasanya sungguh percuma menuntut laki-laki yang tidak peka dan punya perasaan seperti sang putra.


"Baiklah, Mamah tidak akan memaksamu lagi. Lakukan apapun yang kamu mau, Mamah tidak peduli. Oh ya, rasanya kamu juga tidak perlu menikahi Mishel. Dia terlalu baik untuk kamu yang tidak punya hati. Kamu pergilah bersenang-senang, biarlah Mishel dan anaknya mamah yang akan mengurusnya."


Mendengar perkataan sang mamah yang penuh kekecewaan membuat Marco segera membuka matanya. Dia tidak menyangka kalau apa yang dia lakukan akan membuat mamahnya menangis. Kenapa mamahnya sangat membela wanita itu dari pada anaknya sendiri.


"Mamah mengerti, salah mamah yang terlalu memaksa kamu. Seharusnya mamah yang minta maaf, sekarang mamah tidak akan memaksa kamu melakukan apa yang mamah mau. Jika kamu memang tidak menginginkan mereka tidak apa-apa. Mamah yang akan mengurus mereka. Hmmm." Ayunda berlalu dari sana dengan penuh kekecewaan. Dia sudah lelah setiap hari mengajak putranya berbicara baik-baik. Dia juga kasihan pada Mishel kalau seandainya pernikahan ini tetap berlanjut. Wanita itu terlalu baik untuk disakiti putranya yang sikapnya seperti itu.

__ADS_1


"Mah, dengarkan aku Mah." Marco mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya berdenyut mencoba mencerna semuanya. Sang mamah menyuruh nya untuk melakukan apapun dan tidak harus melanjutkan rencana pernikahan itu. Seharusnya Marco senang karena tidak perlu terikat dengan wanita itu tapi kenapa perasaannya kacau seperti ini. "Aaarrrggghhh!! Sial, ini pasti karena mamah yang kecewa. Ya, aku tidak tahan melihat mamah sedih."


Ayunda kembali ke dalam kamarnya untuk bersiap karena dia saja yang akan menemani Mishel untuk memeriksa kandungannya. Dia tidak peduli lagi meski putranya tidak menginginkan mereka karena dia sudah merasa sayang pada Mishel dan anak dalam kandungannya yang merupakan cucunya.


"Loh Mah, apa kamu mau pergi?" tanya sang suami melihat istrinya tengah bersiap-siap.


Ayunda berusaha tersenyum pada suaminya. "Iya Pah, aku mau menemani Mishel untuk memeriksa kondisi kandungannya."


"Bukannya mamah sudah menyuruh anak itu untuk menemani Mishel. Apa dia membuat kekacauan lagi? Apa dia menolak? Biar aku yang akan membuat dia sadar." Dengan amarah yang bergemuruh, Gerry mau mencari putranya tapi sang istri menahannya.

__ADS_1


"Tidak Pah, tidak lagi. Mamah lelah menghadapi Marco. Sekarang mamah tidak akan menyuruhnya melakukan apapun. Terserah dia mau melakukan apa. Aku juga ingin membatalkan pernikahan mereka Pah."


"Apa? Kenapa Mah, apa yang terjadi. Kemarin kamu yang ingin sekali mereka menikah tapi kenapa sekarang tiba-tiba kamu ingin mereka batal menikah." Gerry duduk di samping istrinya. Tidak mungkin Ayunda memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Pasti ada sesuatu yang membuat dia akhirnya menyerah.


__ADS_2