Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Misi Anggita


__ADS_3

Walau Anggita tidak perduli dengan ucapan Sella tetapi dalam hati, Anggita merasa marah juga dengan perbuatan Byantara, kalau memang benar apa yang dikatakan Sella.


Aku harus menyelidiki benar tidak apa yang dikatakan Sella, pikir Anggita.


"Sudah ya, habis ini tidur Benji! Besok kau harus bangun pagi dan ke sekolah. Benji yakin, gak pa pa kan ke sekolah?" tanya Anggita.


"Enggak ma, Benji sudah sembuh benar!" sahut Benji yang memang sedang semangat sekolah.


"Nah! Ayo tidur sekarang!" ajak Anggita setelah Benji selesai meminum susunya dan sikat gigi.


Benji langsung menurut dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sedangkan Anggita langsung menarik selimut menutupi tubuh Benji, sambil mengecup dahi Benji. Sebentar saja Benji sudah tertidur.


********


Hari ini Anggita yang mengantar Benji sendiri dengan diantara supir keluarga Darmawan. Bu Darmawan yang sedang flu memutuskan tidak ikut dan berada dalam satu mobil, Bu Darmawan khawatir kalau sakitnya menjalar ke Benji dan Anggita, kalau dia tetap memaksa ikut juga.


"Iya Bu, sebaiknya ibu beristirahat saja. Gita berangkat sendiri sama Benji saja Bu!" ujar Anggita.


"Mengapa tidak berangkat bersama Byantara saja? Byantara mengapa kau tidak pergi ke kantor bersama Benji dan Anggita sekalian?" tanya Bu Darmawan.


"Hari ini aku ada urusan Bu, lebih praktis aku membawa mobil sendiri, Bu!" ujar Byantara yang terpaksa menolak usul Bu Darmawan, karena ada hal penting yang mau dia lakukan.


"Biarkan aku sendiri saja yang mengantar Benji Bu, mas Byan kan sibuk." tolak Anggita yang segera menyiapkan tas Benji


"Ayo Benji!" ajak Anggita dengan cepat, setelah berpamitan pada Bu Darmawan.


"Kau ini bagaimana sih, Byan? Katanya kau ingin memperbaiki hubungan mu dengan Gita! Kau harus mempersiapkan waktu mu lebih banyak kalau mau memperbaiki hubungan kalian!" omel Bu Darmawan kesal, merasa usaha yang sudah dia lakukan itu jadi sia-sia.


"Aku mengerti tujuan ibu. Tetapi hari ini aku harus menemui customer dari luar negeri pagi-pagi, karena jam sepuluh nanti mereka sudah mau kembali ke negara asal mereka." ujar Byantara.


Mendengar itu akhirnya Bu Darmawan tidak protes lagi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau ada kesempatan ibu akan membantu mu lagi. Ibu kembali ke kamar dulu untuk istirahat. Hati-hati di jalan, jangan ngebut!" pesan Bu Darmawan.


*********


Samuel yang tanpa sengaja melihat Byantara masuk ke mobil, akhirnya memilih menunggu mobil Byantara keluar dari Mansion dulu baru memutuskan masuk ke Mansion Darmawan untuk mencari Anggita.


Samuel harus menelan kekecewaan kembali, ketika mendengar sang penjaga pintu berkata kalau Anggita tidak sedang berada di Mansion. Baru saja Samuel hendak bertanya ke mana Anggita pergi, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.


Tampak Sella yang keluar membawa tas koper. Tanpa harus bertanya lagi, Samuel sudah mendapat jawaban dari Sella ke mana Anggita pergi.


"Kau pasti datang mencari Anggita bukan? Anggita biasanya di jam ini sedang mengantar anaknya ke sekolah!" ujar Sella.


"Benji sudah sekolah?" tanya Samuel tidak yakin, karena saat ini adalah pertengahan tahun pelajaran. Samuel tentu tidak mengira kalau Benji sudah disekolahkan.


"Iya, Benji sudah sekolah di sekolah Internasional Anak Bangsa!" sahut Sella yang langsung memberitahu di mana Benji bersekolah.


"Baiklah nona...." ujar Samuel lupa dengan Sella.


"Saya Sella, bekas istrinya Byantara juga! Kemaren saya baru diceraikan oleh Byantara," ujar Sella tanpa ditanya, membuat Samuel menjadi serba salah.


Baru kini Samuel memperhatikan penampilan Sella, tampak Sella yang agak berantakan dan tidak berdandan sama sekali, Samuel baru mulai mengingat Sella yang pernah dia temui di pesta yang diadakan neneknya itu. Saat itu penampilan Sella berbeda seratus delapan puluh derajat dengan saat ini. Saat itu Sella berdandan lengkap dan berpenampilan sempurna, sungguh berbeda dengan saat ini. Sehingga sempat membuat Samuel pangling, dan tidak mengenali Sella, andai saja Sella tidak memperkenalkan diri.


"Kau tidak usah merasa aneh mengapa aku menceritakan masalah pribadi ku pada mu, Tuan Samuel!" ujar Sella yang seakan tahu isi hati Samuel.


"Aku ingin memberitahu sesuatu pada mu yang berhubungan dengan Anggita. Tapi sebaiknya jangan di sini, bagaimana kalau kita bicarakan di coffe shop?" ajak Sella yang dengan dagunya menunjuk ke arah penjaga pintu yang kini menatap ke arah mereka curiga.


"Terimakasih ya pak, Saya permisi dulu!" ujar Samuel tanpa menjawab ajakan Sella.


"Ayo, naik ke mobil ku!" ajak Samuel kemudian. Kalau sudah menyangkut Anggita, tentu Samuel otomatis rasa ingin tahunya menjadi besar!


*********

__ADS_1


"Nona!" panggil penjaga pintu pada Anggita yang baru keluar dari mobil. Anggita memutuskan pulang ke Mansion dulu dan tidak menunggu Benji di sekolah, Anggita khawatir dengan keadaan Bu Darmawan dan Anggita ingin melakukan suatu misi.


"Ada apa pak?" tanya Anggita.


"Ada seorang pria mencari nona sudah dua kali, maaf hari itu saya belum sempat memberitahu nona", ujar sang penjaga pintu.


"Mas Theo?" tanya Anggita ragu.


"Bukan nona, saya lupa menanyakan namanya nona, tapi pria itu memiliki tubuh yang tinggi," ujar sang penjaga pintu


Anggita tentu saja dapat menebak siapa yang mencarinya begitu mendengar jawaban penjaga pintu.


"Baiklah pak, kalau besok walaupun aku sedang berada di mansion, katakan saja kalau saya sedang tidak ada di tempat pak!" pesan Anggita yang sudah memutuskan menghindari Samuel. Dia sudah berjanji pada nenek Tang, dia harus menepati janjinya.


"Baiklah nona, saya akan melaksanakan pesan nona," sahut penjaga itu mengangguk.


"Terimakasih pak."


********


Saat Anggita ingin melihat keadaan Bu Darmawan, salah satu pelayan memberitahu kan pada Anggita, kalau Bu Darmawan sedang beristirahat, Anggita pun mengurungkan niatnya, Anggita khawatir nanti dia malah mengganggu kalau Bu Darmawan sedang tidur.


"Ah! Sebaiknya saat ini aku masuk ke kamar mas Byan saja, mumpung mas Byan sedang tidak ada," pikir Anggita yang memilih masuk ke kamarnya dulu, dan masuk ke kamar Byantara melalui pintu tembusan, Anggita khawatir kepergok pelayan kalau dia masuk dari depan.


Begitu berada di kamar Byantara, Anggita terdiam sejenak menatap ke kamar yang juga pernah menjadi miliknya dulu.


Ih..aku kok malah ngelamun sih! Ayo, aku harus cek laptop Byantara, benar tidak dia pasang CCTV di kamar ku! Harus aku buktikan dulu, kalau tidak mas Byan pasti gak mau ngaku, pikir Anggita segera menuju ke meja kerja di kamar itu. Seingat Anggita, dulu Byantara tidak memakai meja kerja di kamar, karena menurut Byantara yang namanya kamar tidur ya buat tidur.


Bahkan prinsipnya pun bisa berubah! pikir Anggita.


Tapi ketika baru sampai di depan meja kerja itu dan baru mau membuka laptop di atas meja itu, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar Byantara, membuat Anggita merasa jantungnya terasa mau copot!

__ADS_1


Bersambung.............


🌜


__ADS_2