
Anggita masih duduk di atas tempat tidurnya dan mencerna kata Byantara satu persatu. Rasanya dia ingin berteriak marah pada Byantara yang sudah bersikap seenaknya dan melarang hubungannya dengan Samuel.
Semakin kau larang, akan semakin aku lakukan! Untuk apa aku perduli pada orang sakit jiwa seperti itu!pikir Anggita yang masih kesal.
Wajah tegang Anggita langsung mengendur, ketika tiba-tiba Benji masuk dan berjalan sambil melompat-lompat bahagia.
"Mama! Benji banyak main!" ujar Benji tersenyum senang. Sedangkan Bu Darmawan yang berada di belakang Benji juga tersenyum bahagia.
"Gita, Benji sangat lucu!" ujar Bu Darmawan tertawa juga, sambil menatap ke arah Benji dengan mata berbinar-binar.
Benji pun kelihatan begitu bahagia dan menceritakan apa saja yang sudah dia naiki di tempat bermain kepada Anggita, sedangkan Anggita berusaha tersenyum dan kadang bertepuk tangan memuji Benji pintar. Anggita sungguh tidak menyangka, Benji sejak berada di Mansion Darmawan menjadi semakin lancar berbicara.
"Gita, ibu berencana memasukkan Benji ke sekolah. Benji sudah berumur empat tahun Gita! Kau lihat Benji semakin lancar berbicara, karena tadi di tempat main dia mendapat teman-teman yang seumur dengannya," usul Bu Darmawan.
"Saya memang berencana memasukkan Benji ke sekolahan tahun depan Bu, saat pembukaan pendaftaran anak baru," sahut Anggita.
"Jangan tunggu lagi, besok kita segera mencari sekolah yang cocok untuk Benji, biar dia mulai dari Play Grup dulu, lumayan setengah tahun, jadi nanti saat dia masuk TK, dia sudah bisa menyesuaikan diri," usul Bu Darmawan lagi.
"Baik Bu, Gita ikut ibu saja, ibu lebih ngerti!" sahut Anggita yang merasa usul Bu Darmawan ada benarnya juga.
"Hore! Benji mau sekolah!" teriak Benji sambil melompat-lompat senang.
"Sudah! Jangan loncat-loncat terus Benji, nanti keringatan lagi. Benji kan mau mandi dulu! Sudah seharian berada di luar." ujar Bu Darmawan.
"Gita, biar Bu Tatik yang bantuin Benji mandi ya, ibu ingin bicara dengan mu!"
"Gak tahu, Benji mau tidak dibantu, biasa kalau baru kenal gak mau Bu," sahut Gita ragu.
__ADS_1
"Pasti mau Gita, tadi seharian Bu Tatik menemani Benji, pasti dia sudah tidak asing," sahut Bu Darmawan yakin.
*********
Benar saja ucapan Bu Darmawan, ternyata Benji tidak keberatan. Mungkin tadi sudah bermain bersama seharian dan moodnya Benji sedang bagus, jadi Benji sama sekali tidak rewel.
"Gita, maaf ibu mau tanya. Siapa sebenarnya Om Sam? Kok sepertinya hubungan Benji dan orang yang dia sebut Om Sam kelihatannya baik?" tanya Bu Darmawan menyelidik.
"Om Sam itu Tuan Samuel, cucu dari Nenek Tang, tempat aku dulu bekerja Bu!" sahut Anggita.
"Ahh begitu! Untunglah!" ujar Bu Darmawan.
"Kenapa Bu?" tanya Anggita bingung mendengar jawaban Bu Darmawan.
"Begini lho Gita. Hubungan Byantara dan Benji kan agak jauh. Ibu bermaksud membuat hubungan mereka lebih dekat. Bagaimana juga Byantara itu ayahnya Benji, Gita. Tadi waktu ibu ngajak Benji bermain, Benji beberapa kali menyebutkan kalau main sama Om Sam kayak gini. Pokoknya sering sekali Benji menyebut Om Sam. Tadinya ibu sempat khawatir kalau Om Sam yang disebut Benji itu kekasih mu, tapi saat ibu tahu kalau itu adalah cucu bos mu, ibu jadi lebih lega!" ujar Bu Darmawan.
Mendengar perkataan Bu Darmawan, Anggita langsung terdiam. Anggita juga bingung menjelaskan hubungan antara dia dan Samuel, walaupun Samuel menyatakan rasa suka padanya, tapi mereka juga belum terikat hubungan yang jelas.
Melihat Anggita yang sepertinya sedang berpikir dan terlihat seperti keberatan, Bu Darmawan kembali mempengaruhi Anggita.
"Ibu tahu kalau ibu memang egois, ibu sepertinya hanya membela Byantara, setelah semua yang dia lakukan pada mu. Kau pasti tahu kalau sejak dulu ibu juga menyayangi mu dan menganggap kau seperti anak sendiri, ibu hanya ingin saat Benji sekolah teman-temannya melihat Benji mempunyai orang tua yang lengkap!" ujar Bu Darmawan lagi.
Mendengar itu akhirnya Anggita tidak tega menolak permintaan Bu Darmawan, Anggita hanya bisa mengangguk pasrah.
"Baiklah Bu, asal mas Byan tidak sibuk dengan pekerjaannya. Kalau memang sibuk, biar aku dan ibu saja yang pergi," ujar Anggita yang berharap kalau Byantara yang menolak karena sibuk.
*********
__ADS_1
"Mama, kata nenek si montel itu ayahnya Benji. Benar ma?" tanya Benji saat Anggita menyisir rambut Benji dan bersiap-siap turun untuk makan malam.
"Iya, Benji," sahut Anggita mau tidak mau menjawab dengan jujur.
"Kenapa dulu ayah gak sama kita?" tanya Benji penasaran dengan dahi berkerut.
Melihat wajah Benji yang serius, Anggita langsung tertawa, kemudian berjongkok memperhatikan wajah Benji dan mencubit pelan kerutan itu.
"Ha-ha-ha, Benji sekarang semakin pintar saja! Benji sudah pintar bicara." ujar Anggita tertawa dan langsung menarik Benji ke pelukannya dan mengecup dahi Benji, mengalihkan pertanyaan Benji.
Benji yang dipuji Anggita, akhirnya merasa bangga dan lupa akan pertanyaan yang mau dia tanyakan. Apalagi mendapat hadiah kecupan dari sang ibu.
"Ayo turun sekarang! Tuh perut karetnya Benji sudah bunyi lagi minta makan!" ejek Anggita menggoda Benji, sambil berdiri dan mengelus kepala Benji.
"Ih..mama!" sahut Benji tersipu dan segera menarik gaun Anggita mengikuti langkah Anggita yang berjalan keluar.
*********
Byantara yang sejak tadi menyaksikan tingkah laku ibu dan anak itu tanpa sadar tersenyum sendiri. Ketika ibu dan anak itu sudah berjalan keluar dari kamar, Byantara pun menyudahi kegiatan mengintainya dengan melepaskan earphone nya dan menutup layar laptopnya.
Byantara yang dari tadi fokus melihat ke arah laptop, sama sekali tidak memperhatikan kalau Sella menatap ke arahnya dengan rasa cemburu. Bahkan hati Sella seperti terbakar saat melihat Byantara yang tersenyum sendiri, padahal selama ini dia saja jarang melihat senyum Byantara yang langka itu.
Tidak berapa lama sesudah itu, Byantara langsung bangun dari duduknya dan melangkah keluar kamar dan sama sekali tidak melihat ke arah Sella yang semakin hari semakin sexy pakaiannya.
Byantara seakan sama sekali tidak menyadari kehadiran Sella di kamar itu, bagaimana Sella tidak merasa dongkol.
Bahkan turun makan saja tidak mengajak ku! Memang dia menganggap aku ini apa? Masak aku sudah berpenampilan seperti ini dia sama sekali tidak tertarik? Dasar pria gak normal! gerutu Sella mengomel-omel sendiri dalam hati.
__ADS_1
Kau tunggu waktunya Byan! Akan ku buat Anggita yang meninggalkan mu! Dasar pria tidak berperasaan!
Bersambung..........