Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Anggita sakit


__ADS_3

Anggita merasa malas untuk keluar kamarnya setelah memandikan Benji. Karena banyak mainan yang tersedia di kamar, Benji pun tidak ribut keluar kamar. Benji masih tertarik dengan berbagai mainan yang terdapat di lemari itu yang belum dicoba.


Namanya juga Sultan, tentu mainan yang dibeli bukan mainan biasa dan sudah pasti membuat Benji tertarik.


Anggita ikut duduk di lantai, tapi hanya matanya saja yang menatap ke arah Benji, tapi pikirannya sedang mengembara ke mana-mana.


Anggita yang resah memikirkan keadaan Samuel, resah menghadapi Bu Darmawan yang terus mendorongnya untuk bersatu kembali lagi dengan Byantara, bingung bagaimana menolak bu Darmawan, hal-hal tersebut yang membuat Anggita akhirnya nafsu makannya hilang dan tubuhnya menjadi tidak enak karena stres dan frustasi.


"Benji! Mama tidur sebentar ya, Benji main sendiri dulu. Rasanya tubuh mama sedang tidak enak Benji. Nanti setengah jam lagi mama bangun," janji Anggita yang langsung merebahkan tubuhnya di lantai yang dilapisi karpet bulu.


"Baik ma," sahut Benji yang masih sibuk dengan mainan barunya, jadi tidak terlalu memperhatikan sang ibu.


**********


Ketika Samuel sadar, tampak nenek Tang yang duduk di kursi samping tempat tidurnya memperhatikannya.


"Nenek! Apa yang terjadi?" tanya Samuel yang baru sadar, jadi masih bingung mengapa dia berada di ruangan bercat putih itu.


"Kau lupa? Kau mengalami kecelakaan Sam!" ujar nenek Yang menggenggam tangan sang cucu.


Tampak Samuel mengerutkan dahinya dan coba berpikir apa yang sudah terjadi padanya sebelum dia berada di tempat itu.


"Ah! Betul aku kecelakaan, ada mobil yang memepet ku membuat aku menabrak pohon besar di depan ku!" ujar Samuel tersadar apa yang sudah terjadi.


"Nenek sudah bilang berulang kali Sam, kau lupakan Anggita. Kau kubur saja mimpimu untuk memiliki Anggita! Nenek yakin ini berhubungan dengan kau yang masih ngotot mendekati Gita! Sadarlah Sam, sebaiknya kau jangan melawan Byantara!" ujar sang nenek menghela nafas panjang.


"Apakah maksud nenek Byantara yang sudah mencelakai aku?" tanya Samuel.


"Nenek tidak bisa yakin, nenek hanya ingin agar kau mencegah saja. Sebaiknya kau lupakan saja Anggita, dan jangan mencarinya lagi, Samuel!" nasehat nenek Tang.

__ADS_1


"Aku tidak perduli nek! Negara kita negara hukum, jangan mentang-mentang dia orang terkaya di negeri ini dia menjadi kebal hukum! Aku berhubungan dengan Gita tidak masalah nek! Gita kan sudah bukan istri Byantara lagi!" ujar Samuel yang tidak terima dengan ucapan sang nenek.


"Memang negara kita negara hukum. Tapi pernahkah kau mendengar kalau hukum itu tumpul ke atas?" sahut nenek Tang lagi.


"Aku tidak perduli nek, selama aku masih bisa berjuang, aku akan berjuang mendapatkan apa yang kuinginkan. Gita juga menyukai ku nek!" jawab Samuel yang masih pada keputusannya.


"Kata siapa? Setidaknya Gita lebih waras dari otak mu itu. Saat kau tidak sadarkan diri, Gita sudah datang ke sini dan berjanji pada nenek untuk tidak menjumpai mu lagi. Kau juga sebaiknya jangan mencari Gita di Mansion keluarga Byantara lagi, Sam!" ujar nenek Tang


"Pasti nenek yang sudah memaksanya bukan? terakhir kali bertemu, hubungan kami masih baik-baik saja nek!"


"Percayalah, nenek hanya menyarankan saja, dan hubungan nenek dengan Gita juga tetap baik-baik saja. Gita sadar sendiri kalau dia tidak mungkin bersama mu! Sebaiknya mulai sekarang kau belajar melupakan Gita! Jangan membuat nenek khawatir pada mu Sam." nasehat nenek Tang.


"Baiklah nek," sahut Samuel yang merasa tidak tega sudah membuat neneknya tidak tenang, lagipula percuma dia bersikeras dengan neneknya itu.


Nanti kalau sudah pulih baru aku akan mencari Gita, jangan sampai ketahuan nenek, biar nenek tidak khawatir, pikir Samuel merencanakan dalam hati.


*********


Rasanya tadi aku tidur di bawah, mengapa aku bisa berada di tempat tidur? Ah..ke mana Benji? pikir Anggita yang tiba-tiba sadar dan tergopoh-gopoh bangun dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar dan tidak menemukan Benji di kamar itu.


Anggita merasa kepalanya sakit, tapi Anggita juga merasa khawatir dengan Benji. Anggita segera keluar dari kamarnya menuju ke bawah, ketika melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul enam malam.


Tebakan Anggita benar. Benji sedang berada di ruang makan. Kemunculan Anggita membuat semua yang berada di ruang makan memandang ke arahnya. Bu Darmawan yang pertama bangun dari duduknya dan segera menghampiri Anggita.


"Sepertinya kau sedang sakit Gita! Tadi ibu mengecek suhu badan mu sepertinya agak hangat. Ibu sudah minta pelayan membuatkan bubur ayam untuk mu. Biasa kalau sakit kau tidak nafsu makan apa pun Gita! Ayo makan dan isi perut mu dulu, kalau masih sakit ibu panggilkan dokter untuk mu!" ujar Bu Darmawan penuh perhatian.


Perhatian yang membuat Anggita terkenang saat dia muda dulu, Anggita selalu bersyukur saat dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, dia mendapatkan orang tua angkat yang begitu baik padanya. Bahkan hingga sekarang bu Darmawan masih hafal dengan kebiasaan-kebiasaan Anggita .


"Baik Bu," sahut Anggita kali ini menurut, karena dia merasakan kepalanya yang begitu sakit. Anggita segera menuju ke samping Benji dan duduk di samping Benji.

__ADS_1


"Mama sakit?" tanya Benji.


"Enggak Benji, nanti sesudah makan mama juga akan baik-baik saja!" hibur Anggita sambil tersenyum. Anggita pun segera melahap bubur di depan nya, walau tidak nafsu makan.


"Mama kayak Benji lagi, tadi mama digendong papa ke tempat tidur, tapi gak bangun!" ujar Benji mendadak, membuat Anggita seketika salah tingkah. Apalagi sekilas dia merasa Sella yang langsung memandang tajam ke arahnya.


Ah..Benji selalu bicara di saat yang tidak tepat, dan bisa-bisa nya aku gak sadar tadi! sesal Anggita dalam hati yang langsung fokus pada buburnya dan tidak mau melihat sekelilingnya lagi.


*********


"Gita! Sebaiknya malam ini Benji bersama ibu saja, biar kau bisa beristirahat penuh dan lekas sembuh," usul Bu Darmawan saat melihat Anggita yang sudah selesai makan dan hendak mengajak Benji naik ke atas kamar.


"Gak pa pa Bu, nanti Benji malah menganggu waktu tidur ibu," tolak Anggita.


"Tidak mengganggu Gita, ibu malah sudah lama ingin sekali menceritakan dongeng pada cucu ibu suatu hari. Lagipula kau tidak tahu sakit apa, takutnya sakit mu bisa menular. Benji masih kecil, daya tahan tubuhnya masih lemah Gita, Sedangkan besok adalah hari pertama Benji sekolah," sahut Bu Darmawan.


"Baiklah Bu, Gita menurut saja sama ibu kalau begitu. Terimakasih Bu", ujar Gita yang segera menghampiri Benji.


"Benji malam ini sama nenek mau ya?" tanya Gita.


"Iya ma, mama cepat sembuh ya!" sahut Benji yang makin hari makin lancar berbicara.


"Anak mama pintar, selamat malam Benji, jangan nakal ya!" pesan Gita sambil mengecup dahi Benji. Sesudah itu Anggita langsung keluar dari ruang itu, Anggita ingin cepat beristirahat agar dia cepat sembuh, lagi pula dia malas berlama-lama di ruangan itu karena ada Sella dan Byantara, Anggita juga merasa kalau kedua orang itu sepertinya dari tadi memperhatikan gerak geriknya terus.


Huh! Sungguh tidak nyaman! gerutu Anggita dalam hati.


**********.


Sebelum terlambat aku harus membuat Byantara tidur dengan ku! Aku juga ingin punya anak dari Byantara, agar aku tidak dibuang! Aku harus cepat sebelum terlambat! pikir Sella yang semakin kalang kabut, karena sejak makan tadi Sella melihat Byantara terus menerus mencuri pandang ke arah Anggita.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2