
Anggita membawa Benji mengelilingi halaman Mansion Darmawan, Anggita sangat familiar dengan Mansion Darmawan, karena sejak umur dua belas tahun Anggita sudah tinggal di Mansion itu.
Tanpa sadar berjalan di sekitar tempat kenangan membuat Anggita terkenang kembali masa lalunya. Masih teringat bagaimana saat pertama dia tiba di Mansion Darmawan, Anggita disambut hangat Bu Darmawan. Byantara awalnya juga cukup baik padanya.
Anggita teringat saat pertama dia bertemu Byantara, dia sudah langsung menyukai Byantara yang terlihat tegas dengan wajah serius, seakan banyak sekali yang ada di pikiran Byantara, padahal saat itu Byantara baru berusia lima belas tahun, terpaut tiga tahun dengannya.
Pria dengan karakter seperti itu biasanya bijaksana dan pasti akan menyayangi istrinya kelak, pikir Anggita saat itu.
Tapi hari ini saat teringat hal itu, Anggita hanya bisa tersenyum sinis.
Ternyata segala sesuatu tidak bisa hanya dilihat dari kulit luarnya saja! Lihat bagaimana akhir dari pernikahan kami hanya gara-gara aku begitu tergila-gila dengan Byantara saat itu? pikir Anggita, sampai tidak sadar kalau Sella sudah berdiri di hadapannya.
**********
"Kau sudah puas bukan?" tanya Sella dengan wajah tidak bersahabat.
Mendengar suara ketus Sella, Anggita yakin sudah pasti Sella akan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar. Anggita segera menarik Benji ke sudut halaman. Di sana terdapat banyak burung Nuri yang coraknya indah, sejak dulu Pak Darmawan penggemar burung Nuri, salah satu jenis burung yang berasal dari daerah Timur Indonesia itu, walaupun pak Darmawan sudah meninggal, ternyata burung Nuri itu tetap dipelihara.
"Benji lihat-lihat dulu burung itu, kalau yang putih namanya kakak tua, ada yang bisa tiru ucapan Benji," ujar Anggita. Benji dengan antusias langsung berlari ke arah burung itu. Sebentar saja Benji sudah konsentrasi memperhatikan burung-burung itu dengan seksama.
"Katakanlah apa mau mu sekarang! Ku harap setelah ini lebih baik kita jangan terlalu sering berinteraksi. Aku tidak suka pada mu!" ujar Anggita yang suka berkata jujur.
"Ku peringati Gita, kau ke sini jangan menggoda Byantara!" ujar Sella tidak senang teringat laporan Tutik kepada Bu Darmawan tadi. Sella seperti lupa ingatan, kalau dia dulu juga menggoda Byantara saat Byantara masih menjadi suami Anggita.
"Aku tidak seperti mu Sella! Aku punya harga diri, aku tidak suka pria yang sudah beristri!" sindir Anggita dengan pedas.
"Buat apa Byantara mendatangi kamar mu tengah malam? Pasti kau yang memanggilnya bukan? Kau hendak mencari perhatian Byantara bukan?" tuduh Sella kesal karena dia selalu kalah setiap beradu mulut dengan Anggita.
"Kau tanya saja sendiri pada as Byan, untuk apa dia datang ke kamar ku tengah malam! Kau jaga suami mu itu baik-baik! Aku juga tidak suka kalau dia mendatangi kamar ku malam-malam! Hanya mengganggu ketenangan ku saja! Kau sendiri bilang pada nya supaya jangan ke kamar ku lagi dengan seenaknya!" sahut Anggita dengan kesal.
"Aku malas bicara dengan kalian berdua! Sudah jangan ganggu aku lagi!" sambung Anggita dengan ketus, setelah itu melangkah pergi meninggalkan Sella.
__ADS_1
Sella yang selalu kalah kalau beradu mulut dengan Anggita, hanya bisa memandang bayangan Anggita dengan perasaan cemburu dan dendam.
*********
"Gita, ibu kangen dengan kue brownis keju buatan mu! Selama ini ibu cari ke toko-toko tidak ada. yang mirip dengan buatan mu!" ujar bu Darmawan.
"Kalau begitu biarkan aku sekarang buatkan buat ibu." sahut Anggita dengan semangat, Anggita memang bosan juga tanpa kegiatan, lagipula Anggita memang hobi membuat kue.
"Benarkah? Apakah kau sedang tidak capek?" tanya Bu Darmawan.
"Tidak Bu, Gita justru bosan tanpa kegiatan."
"Baiklah, kalau begitu kau bisa membuat kue dengan tenang, biar ibu yang menjaga Benji. Ibu mau membawa Benji ke tempat bermain." ujar Bu Darmawan.
"Ibu sendirian menjaga Benji apakah tidak capek? Benji agak aktif Bu." sahut Anggita khawatir.
"Jangan khawatir, ibu ditemani Bu Tatik juga. Ibu ingin membeli baju yang lucu-lucu buat Benji. Kau ijinkan ibu bawa Benji ya, ibu ingin sekali berjalan-jalan dengan Benji." mohon Bu Darmawan.
"Baiklah Bu, Gita hanya khawatir ibu tidak bisa mengatasi Benji sendiri, tapi kalau ibu pergi sama Bu Tatik, Anggita tidak khawatir lagi!" ujar Anggita tersenyum.
Perlahan dia akan mulai mempengaruhi Benji agar tidak takut lagi pada Byantara.
**********
"Nona Gita makin cantik saja!" ujar Bu Ida menyambut kedatangan Anggita di dapur. Bu Ida adalah koki yang sudah bekerja di sana saat Anggita masih berstatus istri Byantara, jadi Bu Ida cukup mengenal Anggita yang setelah menikah dengan Byantara sering berada di dapur, karena sudah berhenti kerja dari perusahaan Darmawan kala itu.
"Ah..bisa saja Bu Ida." sahut Anggita tersenyum. Sebentar saja Anggita sudah sibuk mulai membuat kue permintaan Bu Darmawan. Karena dibantu Bu Ida, akhirnya Anggita dapat menyelesaikan kue itu dengan cepat dan sudah mulai mengukus brownis itu.
"Nona Gita, ada tamu yang mencari nona dan berada di depan gerbang!" ujar salah satu pelayan muda yang baru muncul di dapur itu.
"Baiklah, saya akan segera ke depan menemui tamu itu!" ujar Anggita yang mengira kalau Theo yang datang mencarinya, karena hanya Theo yang tahu dia kembali ke Mansion Darmawan, dan Theo sempat berjanji akan datang mengunjunginya.
__ADS_1
"Bu Ida bisa bantu aku menjaga kukusan brownis ku tidak?" tanya Anggita.
"Tenang saja nona Gita, tinggalkan saja pada saya. Nona Gita temui saja tamu nona." sahut Bu Ida.
"Baik, terimakasih ya Bu Ida!" sahut Gita yang segera melepaskan celemek nya dan segera berjalan menuju ke pintu Gerbang.
*********
Begitu sampai di gerbang depan, Anggita langsung terpaku ketika melihat sosok tinggi Samuel yang berdiri di sana dan menatap rindu padanya.
"Gita!" panggil Samuel.
"Mas Sam? Bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Anggita yang merasa bersalah sudah meninggalkan Samuel tanpa pesan.
"Kau tidak perlu tahu aku tahu dari mana Gita! Ada hal yang ingin ku bicarakan pada mu!" ujar Samuel.
"Baiklah mas Sam, sebaiknya mas Sam masuk ke dalam dulu." ajak Anggita yang membawa Samuel menuju ke ruang tamu. Samuel menurut dan segera mengikuti Anggita dari belakang.
"Benji di mana Gita?" tanya Samuel.
"Sedang di bawa ibu ku jalan-jalan mas Sam." ujar Anggita yang mempersilahkan Samuel untuk duduk.
"Kau masih punya ibu?" tanya Samuel yamg merasa bingung.
"Ibu mas Byan, adalah ibu angkat ku yang sudah membesarkan ku, ketika kedua orang tua ku meninggal dalam kecelakaan pesawat," ujar Anggita menghela nafas.
Samuel langsung terdiam, Samuel kini mengerti apa yang dimaksud dengan hubungan rumit yang sudah dikatakan oleh Theo. Tapi ini tentu tidak menjadi penghalang buat Samuel untuk tetap berusaha memiliki Anggita.
Samuel tiba-tiba bangun dari duduknya dan berjongkok di hadapan Anggita yang juga sedang duduk di hadapan Samuel.
"Gita, aku tidak perduli dengan semua status mu. Ajakan ku untuk menikahi mu dan membawa mu ke New Zealand tetap berlaku. Aku yakin kau juga mempunyai perasaan pada ku. Jawablah aku Gita, maukah kau memberi kesempatan pada ku?" tanya Samuel sambil menggenggam kedua tangan Anggita yang berada di pangkuan Anggita.
__ADS_1
Anggita dan Samuel sama sekali tidak sadar kalau saat itu mereka sedang direkam Sella yang sedang tersenyum licik.
Bersambung...........