
"Papa, keluar!" omel Benji sambil menarik tangan Byantara, tentu saja Byantara sama sekali tidak bergerak. Tarikan Benji mana efek buat Byantara yang badannya tinggi besar. Byantara malah merasa lucu dan tersenyum, melihat Benji yang berusaha menariknya dengan sekuat tenaga.
"Kenapa Benji? Bukannya Benji sudah baikan sama papa?" Bu Darmawan yang tadi berada di belakang Benji segera menghampiri Benji dan merasa bingung dengan kelakuan Benji.
Anggita yang melihat itu juga merasa aneh, tapi Anggita merasa senang.
Biar tahu rasa! Anaknya saja tidak suka padanya, pikir Anggita yang terpaksa menahan tawanya karena ada Bu Darmawan.
"Huh! Benji gak suka papa dekat-dekat mama nya Benji! Mama punya Benji" ujar Benji dengan kesal sambil menghentakkan kakinya, karena dia sama sekali tidak berhasil menarik Byantara.
"Mama! Mama gak boleh bobok sama papa lagi. Mama punya Benji!" ujar Benji yang langsung menghampiri Anggita dan memeluk kaki Anggita.
"Enggak Benji, mama cuman bobok sama Benji saja, enggak bobok sama papa," hibur Anggita sambil mengelus rambut Benji.
"Mama bohong! Kemaren Benji ke atas, papa bobok sama mama," protes Benji.
Anggita langsung menatap kesal ke Byantara.
Bisa-bisanya dia melakukan itu tanpa mengunci pintu! Untung gak kelihatan Benji! pikir Anggita yang merasa malu.
"Mama gak tahu Benji, kemaren mama sudah lelah karena sakit. Mama gak tahu kalau papa pindah tidur di kamar ini," ujar Anggita akhirnya berbohong.
"Awas kalau papa ambil mama lagi! Benji gak mau panggil papa lagi!" ancam Benji kembali menghampiri Byantara dan menarik Byantara.
"Tapi mama kan bukan punya Benji saja," ujar Byantara yang akhirnya bangun karena kasihan melihat Benji yang menariknya menggunakan seluruh tenaganya.
__ADS_1
"Mama punya Benji," ujar Benji yang semakin marah setelah mendengar perkataan Byantara dan kini berusaha menarik Byantara keluar dari kamarnya.
"Sudah Byan! Kau keluar saja dulu, lagian ngapain kau berada di kamar Anggita terus?" tanya Bu Darmawan mendukung Benji, setelah melihat Benji berusaha menarik Byantara sampai wajahnya memerah.
Bu Darmawan sudah hafal dengan sifat Byantara yang kadang suka mengerjai anak kecil. Ada suatu kali Byantara mengerjai anak tamu sampai menangis, saat Mansion mereka sedang mengadakan pesta. Untung saja orang tuanya merasa segan kepada Byantara, sehingga dapat memaklumi saat Bu Darmawan meminta maaf.
Begitu Bu Darmawan menegur Byantara, Byantara hanya menjawab ringan kalau anak itu lucu dan menggemaskan, sehingga Byantara hanya ingin main-main saja dengan anak itu. Tapi Byantara tidak pernah tahu cara bermain dengan anak kecil dan mengambil hati anak kecil, itu yang menjadi masalahnya. Sehingga tidak ada anak kecil yang menyukai Byantara, bahkan kini Benji pun kurang menyukainya.
*********
"Iya Bu, mas Byan suka mendadak muncul di kamar Gita, untung saja Gita tidak punya sakit jantung. Mas Byan juga sudah berbohong katanya mau pasangkan kunci, tapi sampai sekarang belum dikerjakan. Gita gak nyaman Bu, kalau mas Byan bebas masuk keluar kamar Gita," ujar Anggita yang sekalian ikut protes.
"Ayo Byantara, keluar sekarang!" ujar Bu Darmawan yang akhirnya merasa kesal pada perbuatan Byantara, kini malah Bu Darmawan yang menarik tangan Byantara untuk keluar dari kamar Anggita.
Benji yang merasa sang ibu memihak padanya dan menuruti keinginannya langsung memeluk Anggita senang.
Dasar anak aneh, masak bapaknya dekat sama ibunya gak boleh? Masak Anggita cuman punya dia? Dasar anak egois entah menurun dari siapa sifatnya itu! gerutu Byantara yang tidak sadar kalau sifat Benji mirip dengannya.
Byantara bertambah kesal lagi ketika Benji sempat-sempatnya menjulurkan lidah mengejek Byantara, sambil memeluk Anggita semakin erat, seakan memanasinya.
*********
"Ibu kok malah membela si Benji? Ibu katanya mau mendekatkan aku dengan Gita kembali!" protes Byantara setelah mereka berada di luar.
"Ibu juga ingin melihat kau bersatu kembali dengan Gita. Tapi kau harus sabar. Dan kok bisa-bisanya kau seenaknya masuk ke kamar Gita sih? Saat ini kalian kan sudah bukan suami istri lagi?" tanya Bu Darmawan.
__ADS_1
"Tadi aku hanya melihat keadaan Gita karena kata Bu Tatik kalau Gita sejak kembali tidak turun ke bawah dan belum makan. Aku khawatir kalau Gita masih belum sehat, Bu!" ujar Byantara memberikan alasan.
"Oh.. Begitu," ujar Bu Darmawan mengangguk.
"Sepertinya tugas mu bukan hanya mengambil hati Gita saja, sepertinya kau akan sulit menghadapi Benji. Benji sudah lama hanya hidup berdua saja dengan Anggita, jadi kau harus maklum kalau Anggita adalah segalanya buat dia. Tentu dia tidak ingin kau merebut perhatian Gita dari nya," ujar Bu Darmawan menjelaskan.
"Dasar anak keras kepala! Mau menang sendiri!" omel Byantara menghela nafas kasar, Byantara merasa kesabarannya benar-benar diuji kali ini.
"Memang menurun dari siapa sifatnya itu?" sindir Bu Darmawan.
**********
"Samuel! Kau hendak ke mana?" tanya nenek Tang ketika melihat Samuel yang sudah berpakaian rapi berjalan menuju keluar.
"Saat kemaren pergi dengan Gisella, aku melihat suatu tempat yang indah. Aku ingin mengisi waktu dengan melukis pemandangan di sana!" sahut Samuel sambil tersenyum.
"Oo.. Baiklah kalau begitu Sam, hati-hati di jalan ya!" pesan nenek Tang yang percaya dengan perkataan Samuel, Nenek Tang tidak menyangka kalau Samuel sudah membohonginya.
Sejak kembali dari Rumah Sakit, Samuel mulai menurut dengan kehendak nenek Tang. Saat Nenek Tang meminta Samuel untuk menemani Gisella pergi, Samuel pun mengiyakan sang nenek tanpa banyak protes lagi Setelah beberapa kali Samuel Selalu menuruti kehendak nenek Tang, akhirnya nenek Tang mulai berpikir kalau Samuel sudah mulai melupakan Anggita. Hal tersebut akhirnya membuat nenek Tang mulai tidak terlalu ketat memperhatikan Samuel lagi.
Nenek Tang tidak tahu kalau semua itu hanya trik Samuel saja. Gisella yang memang menyukai Samuel, tentu selalu menerima undangan nenek Tang untuk pergi bersama Samuel, entah hanya mewakili nenek Tang pergi ke pesta yang diadakan rekan bisnis nenek Tang ataupun menghadiri pameran-pameran tertentu yang mengundang nenek Tang.
Nenek Tang menggunakan kesempatan itu untuk mendekatkan Samuel dan Gisella, dengan alasan dia sedang kurang sehat. Samuel bukannya tidak tahu dengan rencana neneknya itu, tapi Samuel memang sengaja mengikuti kehendak neneknya itu dan menunggu saat yang tepat, yaitu ketika neneknya sudah tidak curiga padanya, Samuel akan menemui Anggita.
Aku akan mengajak Gita dan Benji mengikuti aku ke New Zealand. Asal Anggita setuju, aku akan segera menyusun rencana membawa Gita dan Benji ke sana. Kalau sudah berada di New Zealand, nenek sudah tidak bisa mengatur hidup ku lagi. Aku yakin kalau sudah berada di New Zealand, pada akhirnya nenek pasti akan merestui kami! pikir Samuel dengan rencananya.
__ADS_1
Dan ini adalah hari yang tepat, Samuel bukan pergi melukis, tapi saat ini Samuel mengarahkan mobilnya menuju Mansion Darmawan, setelah beberapa kali dia menghubungi Anggita lewat telpon, tidak pernah sekalipun Anggita menjawab telpon nya, baik itu sambungan telpon, maupun pesan yang dia kirim.
Bersambung..........