
Setelah hampir dua jam di dalam ruangan persalinan, akhirnya tangis bayi yang ditunggu banyak orang pun terdengar. Seketika tangis haru menyelimuti semua orang yang ada di sana. Mishel baru saja melahirkan seorang putra yang begitu tampan dengan persalinan normal.
Ibu Fira dan Ayunda yang menemani di dalam ruangan dan sejak tadi memberikan dukungan pun menghujani putri mereka dengan ciuman dan rasa terimakasih. Mereka bisa melihat sendiri bagaimana Mishel berjuang melahirkan putranya, tentu bukan hal yang mudah apalagi ini adalah pengalaman pertamanya. Dari mulai pembukaan pertama hingga akhir yang memakan waktu lama dan itu normal karena ini pertama, karena kata dokter bahkan ada yang sampai dua belas jam hingga pembukaan ke sepuluh.
"Selamat nak, kamu sudah menjadi seorang ibu sekarang. Ibu sangat bangga padamu, kamu wanita yang sangat kuat." Ibu Fira tentu tau bagaimana rasanya melahirkan secara normal. Karena itulah dia tidak beranjak sedetikpun dari samping sang putri sejak memasuki ruangan itu.
"Benar kata ibumu, kamu sangat hebat. Kamu ibu yang luar biasa." Ayunda pun ikut bangga dan berterimakasih atas perjuangan Mishel. Walaupun dia tidak tau bagaimana rasanya melahirkan secara normal karena dulu dia melahirkan secara Caesar. Apapun caranya tentu sama-sama penuh perjuangan, apalagi operasi Caesar penuh resiko.
__ADS_1
Kedua ibu itu sangat bangga pada Mishel meski dalam kesakitan pun dia tetap terlihat kuat dan tidak banyak mengeluh tadi. Dia bahkan sama sekali tidak merepotkan kedua ibunya. Mishel hanya menggenggam tangan mereka dengan tenang mengikuti instruksi dari dokter. Yang lebih bangga lagi dia bisa melalui semua itu tanpa dampingan dari laki-laki sejak awal kehamilan hingga melahirkan.
Peluh keringat yang membasahi tubuh Mishel menjadi saksi seberapa besar perjuangannya. Begitupun dengan rasa sakit yang menerjang saat kontraksi berlangsung. Tapi semua itu terbayarkan saat mendengar suara tangis anak yang sudah ia tunggu-tunggu kehadirannya. Buliran bening itu tak kuasa dibendung lagi, betapa dia terharu dan bahagia.
"Terimakasih nak, kamu juga hebat sudah berjuang bersama ibu." Mishel memandang putranya yang sedang dibersihkan.
Dokter dan perawat yang ada di ruang persalinan pun ikut terharu. Sebenarnya bukan hanya kali ini, sebelumnya pun mereka selalu terharu tapi kali ini seperti berbeda. Mereka bisa melihat ketulusan di wajah pasien yang baru melahirkan. Awalnya mereka bertanya-tanya mengapa tak ada suami yang mendampingi tapi melihat bagaimana dia begitu kuat dan tegar membuat mereka sadar ada sesuatu yang tidak harus mereka ketahui.
__ADS_1
Mishel terpaku saat bayi kecil nan mungil itu di letakkan di atas tubuhnya. Ini bukan mimpi, bayi kecil itu adalah putranya.
"Lihatlah nak, dia sangat tampan. Cucu Oma sangat tampan sekali." Ayunda terpesona pada cucunya sendiri. Ah dia terlihat seperti Marco saat itu tapi Ayunda tak akan mengatakan hal itu di situasi seperti ini. Bahkan tanpa melakukan tes DNA pun sudah terbukti. Ayunda bahagia karena selama ini perasaannya benar. Walaupun tidak ada keraguan tapi setidaknya dia bisa menunjukkan pada suami dan putranya. Ahh Marco ... kau sungguh akan menyesal.
Kebahagiaan pun tidak hanya terjadi di dalam ruangan. Di luar ruangan pun ada dua orang yang sedang menunggu. Mereka sama bahagianya saat mendengar tangis bayi dan bisa bernafas lega akhirnya setelah sejak tadi khawatir. Namun kebahagiaan itu dalam sekejap berubah menjadi sebuah pukulan dan penyesalan untuk seseorang.
"Paahh ... dia sudah lahir. Pah ... apa sekarang aku sudah menjadi seorang ayah ...." Pertama kalinya dalam hidupnya Marco menyesali keputusannya yang bod00h. Biasanya dia tidak pernah salah dalam mengambil keputusan tapi kali ini dia benar-benar sudah berakhir. Bahkan dia malu untuk mengatakan jika anak itu adalah anaknya. Laki-laki itu terduduk lemas di kursi tunggu, menutup wajahnya yang kedua telapak tangannya. Pundaknya bergetar karena dia sedang terisak. Jika saja waktu bisa di putar, dia tidak akan melakukan hal bod00h.
__ADS_1
"Nak ...."
"Aku lelaki yang sangat bod00h, Pah," ujar Marco sembari memukuli tubuhnya sendiri.