Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 23


__ADS_3

Mengandung 23


Ucapan sang papah selalu terngiang di kepala Marco. Laki-laki yang biasanya tidak peduli dengan wanita kini di buat pusing karenanya. Belum waktunya pulang bekerja, akhirnya Marco memutuskan untuk pulang. Dia bergegas mengambil jasnya lalu berjalan keluar.


"Tuan, Anda mau ke mana?" tanya Sean.


"Aku akan pergi, mungkin tidak kembali lagi ke kantor. Kamu handle dulu semuanya," ujar Marco dengan mudah.


"Apa ada masalah Tuan? Apa perlu bantuan?"


"Tidak, kamu tidak akan bisa membantuku." Mereka berhenti di depan lift, saat pintu lift terbuka Marco pun segera menaikinya. Meninggalkan sang sekretaris yang masih kebingungan karena mendadak tuannya pergi di saat masih jam kerja, ya tidak biasanya tuannya itu melakukan hal itu jika bukan karena hal yang benar-benar penting.


"Apa dia salah makan tadi siang," gumam Sean bertanya-tanya.


Mengendarai mobil sendiri, Marco memecah jalanan yang cukup padat menuju suatu tempat. Dia berhenti di toko mainan sebelum itu membeli beberapa mainan anak untuk seseorang yang akan dia temui. Dia tidak menyangka akan ada saatnya dia datang menemui orang yang pernah menyakiti hatinya dan membuat dia tidak percaya cinta lagi. Dia akan menemui mantan kekasihnya yang telah menikah dengan sahabatnya sendiri.


Mobil sport berwarna merah itu memasuki halaman sebuah rumah mewah.


"Aku datang ke sini juga." Marco melihat rumah itu tampak sepi. Dulu mereka adalah teman baik tapi karena cinta segitiga itu membuat hubungan mereka renggang bahkan Marco enggan bertemu dengan mereka lagi setelah mengetahui hubungan yang mereka jalin dibelakangnya. Entah mengapa dia sekarang datang ke sana, dia sedang ingin memastikan sesuatu.

__ADS_1


Marco turun dari mobil dan disambut dengan sebuah bola yang menggelinding di kakinya.


"Uncle, bisa berikan bola itu padaku," ucap seseorang yang tidak jauh dari Marco saat ini. Mau tak mau Marco pun menoleh dan tersenyum simpul pada anak itu tapi kemudian matanya bertemu dengan seseorang yang akan dia temui. Seorang wanita yang berdiri di belakang anak itu. Siapa sangka kalau dia akan tersenyum juga padanya.


"Jadi ini bolamu? Uncle akan memberikannya padamu, tangkap ini." Marco melempar bola itu pada anak kecil yang begitu mirip dengan temannya.


Setelah anak itu berlari mengejar bolanya ditemani oleh pengasuh. Tinggallah mereka berdua yang dalam suasana canggung.


"Temanmu datang, apa kau tidak ingin menyambut ku," ujar Marco berseloroh. Aneh, dulu dia akan sangat kesal dan marah saat bertemu dengan wanita di depannya tapi sekarang dia bisa berbicara dengan normal dan tersenyum.


"Marco, hiks maafkan aku. Sungguh ini adalah kesalahanku. Aku yang egois karena ingin memiliki kalian berdua. Aku yang serakah, setelah bersamamu aku malah ingin juga mendapatkan cinta Leon. Maaf, tolong jangan membenci Leon karena dia tidak salah apapun. Maafkan aku yang sudah membuat persahabatan kalian rusak." Wanita bernama Zoya itu menangis tiba-tiba dan memohon maaf.


"Sudahlah, aku datang ke sini bukan untuk mengingat cerita masa lalu. Aku ingin mengunjungi sahabatku dan aku ingin bertemu dengan anak kalian. Ternyata dia sangat tampan perpaduan dari kalian berdua."


Zoya terkejut melihat perubahan mantan kekasihnya itu yang begitu mendadak. Tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba dia datang. Dia pun segera memberitahu suaminya yang pasti akan sangat senang melihat teman lamanya datang berkunjung.


Mereka sudah ada di dalam rumah sekarang, Leon duduk di sebelah istrinya. Saat diberi tahu lewat telepon dia sama sekali tidak percaya jika Marco datang. Dia sangat tau sebenci apa Marco kepadanya. Tapi setelah melihatnya sendiri bahkan temannya begitu akrab bermain dengan anaknya.


"Bagaimana rasanya memiliki anak?" tanya Marco tiba-tiba.

__ADS_1


Dua orang yang sedang melamun dengan pikirannya sendiri pun tersentak mendengar pertanyaan Marco.


"Ah, itu ... tentu saja kami sangat bahagia. Dia adalah harta yang paling berharga, kebahagiaan keluarga dan seperti malaikat kecil kami," ujar Leon.


"Apa kau menemani istri mu saat dia melahirkan?" tanya Marco lagi semakin membuat semua orang bingung tapi karena dia tampak serius jadilah Leon juga menjawabnya.


"Ya, aku menemani Zoya selama persalinan. Aku melihat bagaimana perjuangannya melahirkan putra kami dan saat itu cintaku bertambah berkali-kali lipat. Saat putra kami lahir juga aku bisa melihat untuk pertama kali dan mendengar suara tangisnya adalah kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata."


Sama persis seperti apa yang papahnya katakan. Ternyata melahirkan memang tidak mudah.


"Hei tunggu, kamu bahkan belum mengatakan apapun. Kenapa kamu bertanya hal aneh sejak tadi," protes Leon. Tidak tahukah Marco jika temannya itu sudah sangat ingin mendengar alasan apa yang membawa teman lamanya datang ke sana.


"Apa yang mau kalian dengar, bukankah sudah aku bilang jika aku hanya ingin berkunjung. Tiba-tiba aku merindukan kalian jadi aku datang," jawab Marco asal.


"Kau kira aku percaya, cepat katakan apa yang membawa mu datang ke sini?" tanya Leon mendesak.


"Aku ingin berbaikan dengan kalian. Aku kira dulu kita memang belum dewasa pemikiran nya wajar saja jika aku marah-marah. Sekarang melihat kalian hidup bahagia membuat aku lega."


"Maafkan aku," ucap Leon.

__ADS_1


"Sudahlah, istri mu sudah menceritakan semuanya pada ku. Tidak pernah membahas hal itu lagi aku sudah melupakannya." Marco sangat yakin akhirnya jika dia sudah tidak memiliki perasaan apapun dan tidak merasa sakit hati.


__ADS_2