
"Bu, Tante Gita dan Benji ke mana? Kok gak kelihatan?" tanya Hani yang mencari Benji. Hani memang suka kesal kalau disuruh menjaga Benji terus, tapi kalau sudah seharian tidak melihat Benji terkadang dia juga kangen bermain dengan Benji.
"Kau tidak usah cari lagi, mereka sudah gak di sini! Mungkin mereka sudah kembali ke tempat asal!" sahut Bu Minah.
"Maksud ibu tempat om Byantara?" tanya Hani lagi.
"Gak tahu Hani, kau juga gak usah pengen tahu semua urusan orang dewasa! Kau yang rajin belajar saja! Ini juga suatu pelajaran buat mu! Jangan menjadi si punguk merindukan bulan! Pasti akan berakhir tidak baik. Sebaiknya besok-besok kalau kau cari suami kalau bisa yang sederajat saja. Makanya ibu menguliahkan kamu, biar besok derajat mu sedikit naik! Makanya kau yang rajin belajar." nasehat Bu Minah.
"Apanya derajat Bu? Ibu belum tahu saja kayanya om Byantara! Om Sam mah kalah jauh! Kantornya aja pencakar langit Bu, Hani gak perhatiin di lantai berapa Bu, tapi tinggi banget! Kenapa juga Tante Gita ninggalin cowok kayak gitu, sayang banget" cerita Hani.
"Mungkin Tante Gita yang dibuang!" tebak Bu Minah, akhirnya kepancing gosip anaknya.
"Gak mungkin Bu, soalnya Hani hari itu lihat om Byantara menahan kepergian tante Gita dan Benji. Bahkan ibunya om Byantara terlihat sayang banget sama Tante Gita. Cuman Tante Gita yang bersikeras kembali ke sini." ujar Hani.
"Kalau begitu mungkin om Byantara punya selingkuhan dan Tante Gita gak mau dimadu! Kalau gak salah sekarang istri nya kan artis" tebak Bu Minah.
"Wah ibu pintar juga, bisa jadi Bu. Tapi kalau Tante Gita balik ke om Byantara lagi, Hani mau deh minta koneksi sama Tante Gita buat kerja di perusahaan om Byantara."
Belum apa-apa Hani sudah membayangkan satu tempat kerja dengan Rizky.
"Gak usah macam-macam kau! Nenek Tang sudah bilang kau boleh kerja di perusahaannya, jangan cari yang sulit kalau ada yang mudah! Kau lihat saja Tante Gita, kenapa harus mencari yang sulit dalam hidup? Kalau ibu yang jadi Tante Gita, ibu gak perduli si Tuan Byantara mau ngapain, yang penting kan menikmati hidup!" ujar Bu Minah.
"Ah ibu mah cuman mementingkan uang, gak seru. Kalau cerita ibu difilmkan sama sekali tidak menarik, beda kalau cerita Tante Gita!" protes Hani sambil melangkah pergi meninggalkan sang ibu.
*********
Samuel yang pulang mengantar nenek Tang dengan semangat mencari Anggita. Ketika melihat di sekitar halaman dan ruang lain, Samuel belum menemukan Anggita dan Benji juga, Samuel pun ke kamar Anggita dan mengetuk pintu kamar Anggita. Hani yang dari jauh melihat itu, segera menghampiri Samuel.
"Gak ada orang om!" ujar Hani.
__ADS_1
"Tante Gita dan Benji memangnya ke mana?" tanya Samuel.
"Pulkam om," sahut Hani.
"Maksudnya apa Hani?" tanya Samuel yang masih bingung.
"Pulang kampung, om Sam." jawab Hani.
"Lho memang kampungnya Tante Gita di mana? Kok gak ada kabar tiba-tiba pulang kampung? Kapan balik lagi?" tanya Samuel yang merasa aneh dengan jawaban Hani.
"Maksudnya Hani kayaknya Tante Gita balik lagi sama om Byantara, dan gak akan kembali ke sini lagi Om Sam!"
"Kau jangan suka bergosip Hani!" tegur Samuel tidak percaya, Samuel masih ingat kalau tadi Anggita masih tersenyum manis padanya dan membiarkan dirinya dipeluk. Bahkan kemaren Anggita sudah setuju untuk mengikuti dia ke New Zealand.
"Hani gak berani berbohong sama om Sam, nih kalau om Sam gak percaya!" ujar Hani yang langsung membuka kamar yang biasa dihuni Anggita dan Benji itu. Bukan hanya itu saja, Hani bahkan membuka lemari pakaian di dalam kamar itu yang kini sudah kosong semua.
Melihat itu Samuel langsung terdiam dan mengepalkan tangannya geram.
*********
Kali ini Anggita sudah tidak kebingungan seperti dulu, seperti saat dia meninggalkan Mansion Byantara. Anggita selalu menabung gaji yang dia dapat dari nenek Tang selama bekerja di sana. Anggita juga tidak sedang dalam keadaan hamil seperti dulu. Bahkan kini dia sudah mempunyai teman, yaitu Benji. Setidaknya keberadaan Benji membuat dia tetap semangat menjalani hidup.
Anggita akhirnya memilih untuk menyewa kos yang diperuntukkan keluarga. Kali ini Anggita sudah tidak mau terburu-buru, pengalaman sudah mengajarkan padanya untuk tidak terburu-buru menyewa rumah hanya karena harga murah. Anggita tidak ingin mendapatkan rumah dengan kondisi yang jelek lagi, setidaknya dia harus mencari rumah dengan ventilasi yang cukup.
"Mama ke mana?" tanya Benji bingung.
"Kita akan tinggal di tempat baru Benji, sebentar lagi Benji sudah mau sekolah, sudah tidak cocok tinggal di tempat nenek Tang lagi Benji. Di sana kalau mau ke sekolah perjalanannya panjang, Benji!" ujar Anggita memberi alasan.
"Benci mau kak Hani, mau om Sam!" ujar Benji sambil menggoyang-goyangkan tangan Anggita memohon.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Benji, nanti kalau di tempat baru Benji akan punya teman baru juga." hibur Anggita.
Benji akhirnya sudah tidak protes lagi di sepanjang jalan, tapi mukanya terlihat murung. Anggita hanya bisa mengelus rambut Benji dan menghela nafas sedih.
*********
Byantara merasa senang ketika mendapat kabar dari Theo, kalau mungkin dalam waktu dekat ini Anggita akan datang ke perusahaannya dan memohon pada Byantara sesuai rencana mereka berdua.
"Sisanya tergantung kau sendiri Byan, aku sudah membantu mu Byan. Ku harap kau bisa berlaku lebih baik pada Anggita! Jangan terlalu kejam seperti dulu lagi. Kalau mengingat pertama kali aku bertemu Anggita dan melihat keadaan Anggita saat itu, aku sungguh marah pada mu Byan!" tegur Theo mengingatkan.
"Huh, kau tahu apa soal perasaan ku. Gita saja yang keras kepala! Aku juga tidak ingin dia semenderita itu. Dulu aku hanya ingin memberi pelajaran saja padanya, agar jangan suka mengatur hidup ku. Itu saja," sahut Byantara mengakhiri pembicaraan mereka.
Tapi entah mengapa saat-saat menunggu kedatangan Anggita, Byantara merasa hatinya berdebar-debar terus. Byantara sungguh tidak mengerti dengan hatinya sendiri.
*********
Anggita setelah mendapatkan penginapan dan mempunyai tempat untuk menaruh bawaannya, Anggita pun mulai merencanakan akan mengunjungi Byantara. Sebetulnya Anggita merasa enggan sekali untuk bertemu Byantara lagi, tapi perasaan hutang budinya pada Theo dan teringat ibu Theo yang terbaring sakit membuat Anggita membulatkan tekad menuju ke perusahaan Byantara.
"Mama!" panggil Benji yang terlihat agak takut ketika mereka sampai di Gedung tinggi itu.
"Jangan takut Benji, ada mama!" hibur Anggita yang segera menggendong Benji dan melangkah masuk ke gedung itu.
*********
Sella yang merasa tidak puas karena menjadi bahan pembicaraan di tempat syutingnya memutuskan untuk menemui Byantara. Lagipula Sella juga ingin mengetahui bagaimana hubungan Byantara dan Anggita saat ini, dan ke depannya apa yang akan dilakukan Byantara dengan keberadaan Benji.
Sella tidak menyangka saat dia sedang menunggu lift, tanpa sengaja dia melihat sosok Anggita yang sedang menggendong Benji di depan resepsionis.
Mau apa perempuan itu ke sini? Apakah dia ingin mendekati Byan kembali dengan menggunakan keberadaan anaknya itu. Aku harus mencegahnya, pikir Sella yang memutuskan menghampiri Anggita.
__ADS_1
Bersambung............