Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 2


__ADS_3

Di tempat kerjanya yang merupakan sebuah toko perlengkapan


rumah tangga. Mishel beberapa kali tidak fokus bekerja dan sering melamun.


Tentu saja dia memikirkan bagaimana nasib anak yang ada di dalam kandungannya


dan juga dirinya yang hamil tanpa suami pasti akan menjadi bahan cemoohan


orang-orang. Sama seperti ibunya, yang hidup tanpa suami. Ya, jika di pikir


lagi Mishel ingat dulu saat kecil dirinya sering di hina oleh teman dan


tetangganya karena dia tidak memiliki ayah. Orang-orang memanggilnya anak haram


dan itu sangat menyakitkan.


Tanpa sadar Mishel menyantuh perutnya yang masih rata. Perut


yang kini bersemayang sesosok makhluk kecil yang bernyawa. Memikirkan bagaimana


jika anaknya harus bernasib sama sepertinya. Tidak! Itu tidak boleh terjadi.


Hidup tanpa ayah terlalu menyakitkan dan menderita meski memiliki seorang ibu


yang hebat seperti ibunya sekalipun tetap saja berbeda jika memiliki ayah. Lalu


apa dia harus menemui laki-laki itu, laki-laki brengs3k yang sudah membuatnya


seperti ini.


Ya, Mishel tau siapa laki-laki yang sudah menodainya secara


paksa pada malam itu. Butuh waktu lama sampai dia melupakan malam kelam itu

__ADS_1


yang sampai sekarang masih membuat dia takut jika mengingatnya.


Haruskah dia pergi menvari pria kaya itu, jika iya apa pria


itu akan percaya kalau anak yang dia kandung adalah anaknya. Mengingat jika


pria kaya suka sekali bermain Wanita pasti sudah banyak Wanita yang dia tiduri


bahkan setelah melampiaskan h4sr4tnya pada Mishel malam itu, dia melemparkan


sejumlah uang pada Wanita itu. Tentu Mishel tidak mengambilnya karena dia bukan


Wanita bayaran. Mishel yang terlalu sakit hati sungguh sangat membeci pria itu


dan bergegas pergi dari sana.


“Mishel, apa yang kau pikirkan. Kau melamun lagi? Apa kau


sakit?” tanya rekan kerja Mishel yang bernama Nayla.


“Kalau kau sakit jangan di paksa, jangan sampai menganggu


pekerjaanmu. Kamu tau kan si bos pasti akan marah besar kalau kita melakukan


kesalahan,” ujar Nayla memberi nasehat.


“Iya, aku akan berhati-hati lagi. Terimakasih ya.” Beruntung


Mishel mempunyai rekan yang cukup perhatian.


Siang itu di cuaca yang cukup panas, Mishel berusaha sekuat


tenaga untuk menahan tubuhnya yang terasa pusing dan lemas karena dia hanya

__ADS_1


makan sedikit tadi pagi. Samapi sekarang belum makan apapun lagi karena dia


takut akan mual lagi di tempat kerja dan membuat semua orang curiga. Padahal


perutnya terasa sangat lapar tapi dia menahannya sekuat tenaga.


“Huftt, sabar ya nak. Apa kau lapar, kita tunggu sebentar


lagi. Aku akan membelikanmu roti agar kau tidak kelaparan lagi saat jam


istirahat,” ujar Mishel di dalam hatinya sambil mengusap sedikit perutnya


karena tak ingin ketahuan yang lain. Bibirnya tersenyum miris, apa mungkin dia


sudah Mulai menerima kehadihan makhluk kecil yang ada di perutnya sekarang.


Entahlah, tapi semenjak dia mengetahui tentang kehadiran janin itu di perutnya,


Mishel jadi merasa kalau dia tidak sendiri lagi. Ada kehidupan yang harus dia


saying dan urus di dalam perutnya, meski dia tidak menginginkan kehadirannya


tapi semua sudah ada yang mengatur. Sang Pencipta sudah memilihnya untuk


menjadi ibu dari anak ini.


Namun, ternyata tubuh Mishel tidak sekuat itu. Dia sudah


membayangkan akan membeli rotu dan sesuatu yang manis dan hangat tapi belum


juga waktun ya beristirahat, tubuhnya sudah limbung duluan.


“Mishel!!” teriak rekannya saat melihat tubuh Mishel limbung.

__ADS_1


Seketika barang-barang yang sedang Mishel tata di rak pun berjatuhan


dan pecah.


__ADS_2