
"Maaf Tuan, Nona Anggita saat ini tidak berada di Mansion", sahut sang penjaga Gerbang, ketika Samuel datang untuk menemui Anggita.
Pada awalnya Samuel mengira sang penjaga membohonginya, agar dia tidak bisa bertemu dengan Anggita. Tapi ketika mendapat jawaban kalau Anggita sedang dibawa ke rumah sakit, akhirnya Samuel pun percaya.
"Maaf pak, ke Rumah Sakit mana?" tanya Samuel khawatir.
"Belum tahu pak, soalnya tadi mendadak kejadiannya. Nona Anggita tidak sadarkan diri. Tuan Byantara sendiri yang membawanya pergi ke Rumah Sakit, dan saat ini belum kembali. Kami juga belum tahu dibawa ke mana pak," sahut sang penjaga gerbang.
Samuel akhirnya kembali ke Mansion Tang dengan hati tidak tenang, sudah tidak bertemu Anggita, bahkan Anggita sedang dibawa ke Rumah Sakit. Rencananya yang sudah matang untuk bertemu Anggita akhirnya gagal.
**********
Nafas Anggita sudah teratur walau belum sadar. Bantuan oksigen juga sudah dilepas.
Byantara duduk di kursi samping tempat tidur menjagai Anggita, menunggu Anggita sadar.
Malah Benji yang sudah membaik duluan, tapi Benji berada di ruang anak-anak ditemani Bu Darmawan.
Benji tadi sudah melihat keadaan Anggita, kemudian dibujuk bu Darmawan untuk ke ruang perawatan anak-anak, karena anak-anak sebenarnya tidak diperbolehkan untuk mengunjungi tempat orang dewasa dirawat. Untungnya Benji kali ini menurut dan tidak banyak protes, setelah Byantara berjanji akan menjaga. Anggita.
"Biar papa saja yang menjaga mama, nanti kalau sudah boleh pulang papa dan mama segera ke ruangan Benji. Benji sama nenek ya!"
*********
Tampak tubuh Anggita yang mulai bergerak, Anggita merasakan tangannya yang hangat berada dalam genggaman seseorang.
"Mas Theo, terimakasih sudah selalu menolong ku," ujar Anggita tanpa sadar mengigau.
Dulu saat pertama Anggita menolong Byantara, Theo lah yang sudah membawa Anggita ke Rumah Sakit, dan Theo juga yang sudah meminta Sella yang dia temui di depan danau untuk memanggil pelayan lain mengangkat Byantara. Sella akhirnya menggunakan kesempatan itu untuk menjaga Byantara, Tuan Muda di tempat ibunya bekerja yang memang sudah lama dia kagumi.
Sedangkan Theo yang sudah sejak lama menyukai Anggita, kalang kabut melihat Anggita yang tidak sadarkan diri, dan memutuskan membawa Anggita ke Rumah Sakit saat dia tidak menemui Bapak dan Bu Darmawan di Mansion
__ADS_1
Ketika Byantara sadar, Byantara mengira kalau Sella yang sudah membantunya.
Karena Byantara yang kena gigit ular, akhirnya Bapak dan Bu Darmawan yang kembali ke Mansion sibuk dengan keadaan Byantara dan tidak menyadari Anggita yang hilang.
Saat Theo membawa Anggita kembali ke Mansion, Bapak dan Bu Darmawan sedang membawa Byantara untuk pemeriksaan ke dokter. Mendengar Anggita mengucapkan terimakasih saja, Theo sudah berbahagia saat itu.
Saat Theo hendak keluar dari Mansion itulah, Theo dihadang oleh Sella
"Kau sudah lama kan menyukai nona Anggita?" tanya Sella dengan berani.
"Siapa kau? Tidak usah sok tahu urusan ku!" sahut Theo dengan ketus.
"Aku ingin berterus terang pada mu, ku pikir kita mempunyai tujuan yang sama. Aku ingin memiliki Tuan Byantara, anda menginginkan nona Anggita bukan?" tanya Sella lagi dengan yakin.
Sella memang sudah lama mengincar Byantara, antara rasa kagum dan juga tidak ingin hidup miskin dan susah lagi. Sella tidak ingin menjadi penerus ibunya lagi, hanya menjadi seorang pelayan. Sella ingin merubah nasib nya, apalagi setelah dia melihat Anggita yang sudah yatim piatu itu bisa menjadi seorang nona di keluarga Darmawan yang kaya itu.
"Aku tidak mengenal mu! Apa mau mu? Katakan saja langsung!" ujar Theo yang menatap curiga ke Sella saat itu.
"Kalau kau ingin memiliki nona Anggita, kau harus merahasiakan kalau nona Anggita yang sudah menolong Tuan Byantara. Kau harus membantu ku, saat ini Tuan Byantara mengira aku yang sudah menolongnya. Kalau Tuan Byantara bersama ku, maka aku yakin kau bisa memiliki nona Anggita. Aku mengikuti mereka sudah lama, aku tahu kalau nona Anggita menyukai Tuan Byantara. Kalau Tuan Byantara bersama ku, tentu kau sudah tidak punya saingan lagi, apalagi kau teman baik Tuan Byantara. Pasti Tuan Byantara akan mengijinkan kau memiliki Anggita!" ujar Sella dengan liciknya.
Anggita juga tidak ada niat menceritakan hal itu. Anggita malah menyembunyikan kejadian itu, karena dia takut disebut "bodoh" oleh Byantara.
Hal itulah yang membuat Byantara mengira Sella yang sudah menyelamatkannya, dan Anggita sama sekali tidak perduli padanya saat dia sedang sakit.
**********
Byantara langsung merasa cemburu ketika mendengar Anggita mengucapkan terimakasih pada Theo, padahal dia yang sudah membawa Anggita ke Rumah Sakit.
Habis Samuel, sekarang Theo. Apakah begitu bencinya Gita pada ku, tidak pernah sekalipun dia menyebut nama ku lagi! pikir Byantara sambil menatap kesal ke arah Anggita. Apalagi Byantara langsung teringat kalau Anggita bersedia tinggal di mansion nya kembali juga demi Theo.
Perlahan Anggita membuka kelopak matanya, dan langsung kaget ketika melihat Byantara yang berada di hadapannya. Bahkan tangannya juga sedang berada dalam genggaman Byantara. Anggita segera menarik tangannya dari genggaman Byantara.
__ADS_1
"Benji! Mana Benji?" tanya Anggita khawatir dan berusaha bangun dari posisinya.
Byantara langsung bangun dari duduknya dan menekan bahu Anggita agar tidur kembali.
"Kau jangan khawatir, Benji sudah tidak apa-apa. Benji malah sudah bisa bermain. Sekarang dia sedang bersama ibu di ruang anak-anak," ujar Byantara menenangkan.
"Aku sudah tidak apa-apa mas Byan, aku sudah bisa pulang. Aku ingin bertemu Benji," ujar Anggita yang merasa tidak tenang sebelum dia melihat keadaan Benji sendiri.
"Dasar keras kepala!" omel Byantara, tetapi akhirnya mengalah dan membantu Anggita bangun dari tempat tidur.
Tapi kesabaran Byantara habis juga, ketika dia menggandeng Anggita untuk berjalan keluar ruangan mencari Benji, tapi Anggita berusaha melepaskan gandengan tangan Byantara
"Kau ingin menyakiti aku bukan? karena dulu aku sudah menyakiti mu! Bahkan saat seperti ini kau malah mengingat pria lain!" ujar Byantara dengan cemburu.
"Apa maksud mu mas, aku tidak mengerti!" ujar Anggita.
"Dalam tidur saja kau malah berterimakasih pada Theo! Malah Theo yang ada di otak mu!" sahut Byantara ketus.
"Terserah apa pemikiran mu mas, aku tidak perduli! Yang jelas memang mas Theo yang sudah berkali-kali menyelamatkan aku," ujar Anggita.
"Apakah Theo juga yang membawa mu ke Rumah Sakit saat kejadian seperti ini beberapa tahun yang lalu?" tanya Byantara untuk meyakinkan kalau Anggita lah yang sudah menyelamatkannya.
"Apa maksud mu mas Byan?" tanya Anggita yang masih belum mengerti ke arah mana pertamyaan
"Saat aku digigit ular, apakah kau melakukan hal yang sama seperti hari ini?" tanya Byantara lagi.
"Yang sudah berlalu tidak usah disebut-sebut lagi mas!" ujar Anggita menghindari pembicaraan itu.
"Mengapa kau selalu melakukan hal bodoh Gita. Mengapa kau harus membahayakan diri mu sendiri, sementara dokter juga bisa menyelamatkan. Mengapa kau tidak pernah memberitahu aku apa yang sudah kau lakukan?" tanya Byantara.
"Untuk apa aku memberitahu mu, kalau aku sudah tahu paling kau hanya akan mengatai aku bodoh!" sahut Anggita ketus.
__ADS_1
Benarkan dugaan ku, kalau dia tahu perbuatan ku, pasti dia mengatai aku bodoh!
Bersambung...........