
Sebulan berlalu, semakin mendekati hari perkiraan lahir tidak membuat Mishel bermalas-malasan. Dia semakin banyak beraktivitas demi kelancaran persalinannya kata ibu dan mamahnya yang sudah berpengalaman. Jujur saja sebagai seorang ibu muda dan baru pertama kali melahirkan membuat Mishel kadang merasa takut dan banyak kekhawatiran, beruntung dia di kelilingi oleh orang-orang yang baik dan sangat perhatian.
"Nak, kamu sudah siap?" tanya ibu Fira. Rencana Mishel akan melakukan pemeriksaan lagi Minggu ini untuk memastikan tidak ada masalah saat persalinan nanti memang disarankan untuk melakukan pemeriksaan menjelang hari perkiraan lahir.
"Sudah Bu." Wajah cantik itu tersenyum, bahkan saat hamil dia semakin terlihat cantik mungkin karena dia rajin merawat dirinya sendiri. Mishel sadar jika dia harus tetap melanjutkan hidup demi anaknya dan dia sudah bertekad untuk tidak terulang terus meratapi nasibnya. Yang terpenting ada orang yang selalu menguatkannya yaitu sang ibu tercinta, satu-satunya orang tua yang ia miliki karena ayahnya meski masih ada pun tidak pernah Mishel harapkan lagi.
Fira mengusap Surai rambut hitam panjang putrinya, dia juga sama khawatirnya memikirkan sebentar lagi sang putri akan menjalani persalinan. Tidak mudah saat pertama kali dan seharusnya sangat membutuhkan sosok laki-laki yang seharusnya menemani nya.
"Ibu kenapa? Apa yang ibu pikirkan?" tanya Mishel.
"Apa sebaiknya kamu mengikuti saran dari nyonya Ayu saja nak," ujar Fira.
"Tidak Bu, aku ingin melahirkan anakku dengan cara normal. Ibu ... aku ingin melalui semua prosesnya secara alami. Dokter juga sudah menjelaskan bagaimana proses melahirkan dan aku juga sudah banyak melihat video melahirkan. Aku ingin berjuang untuk anakku, saat mendengar suara tangisnya nanti aku akan merasa sangat bahagia dan beruntung."
Mishel memang sejak awal sudah memutuskan untuk melahirkan dengan cara normal karena kehamilannya pun tidak ada masalah apapun. Walaupun di awal kehamilan cukup menyiksa karena dia tidak bisa makan dengan baik tapi semua itu memang prosesnya dan dia menikmati hal itu.
"Baiklah nak jika memang kamu sudah memutuskan, ibu akan menemanimu nanti."
"Terimakasih Bu, terimakasih selalu ada untukku. Tetaplah sehat agar kita bisa sama-sama merawatnya ibu sampai dia dewasa."
Fira tersenyum dengan bola mata berkaca-kaca, tentu dia ingin sekali melihat cucunya tumbuh dewasa dan ingin merawatnya juga.
__ADS_1
...
Mereka sudah ada di rumah sakit. Hanya para ibu yang menemani Mishel. Gerry sedang bekerja dan ada pertemuan hari ini jadi tidak bisa ikut mengantar. Mishel tidak masalah, baginya mamah Ayunda sudah begitu perhatian saja sudah cukup, dia tidak akan lancang dan berani untuk meminta lebih.
Di rumah sakit tepatnya di poli kandungan sudah banyak orang yang mengantri. Sama seperti Mishel bedanya kebanyakan dari mereka ditemani suaminya. Apa Mishel iri? Ada sedikit perasaan seperti itu tapi dia berusaha meyakinkan dirinya jika memang itu adalah jalan takdirnya. Dia merasa lebih beruntung karena ditemani dua ibu ke sana.
"Sayang, bagaimana jika bayi kita mirip denganku. Aku ingin bayi kita mirip denganmu, dia pasti akan terlihat tampan."
"Aku lebih suka dia mirip denganmu, aku ingin sifat kamu menurun padanya."
Mishel bisa mendengar percakapan mereka yang ada di dekatnya. Pasti bahagia sekali memeriksakan kandungan bersama dengan suaminya.
Mereka sudah ada di dalam ruangan. Dokter menempelkan alat yang bisa melihat penampakan janin yang ada di dalam perut Mishel. Di layar monitor sudah memperlihatkannya. Ayunda dan Fira sampai terharu sambil mendengarkan.
"Bagaimana dok, tidak ada masalah kan?" tanya Ayunda.
"Semuanya terlihat baik Nyonya. Saya rasa nona Mishel akan sangat siap menjalani persalinan normal. Bayinya dan ibunya sangat sehat jadi Anda tidak perlu cemas."
Mendengar hal itu dua ibu itu sedikit merasa lega walaupun masih ada sedikit kekhawatiran.
Mishel memandangi layar monitor dengan perasaan yang berkecamuk. Dimana layar yang menampakkan janin yang ada di dalam perut dalam bentuk empat dimensi. Selama ini, dia selalu menyimpan foto USG janinnya jadi dia sangat paham bagaimana perkembangannya. Dia terlihat cantik meski tidak begitu terlihat tapi hidungnya sudah jelas sangat mancung seperti Ayunda sang Oma. Sepertinya anaknya akan lebih mirip seperti ayahnya. Sayang sekali padahal Mishel lah yang sudah bersusah payah membawanya kemana-mana selama hampir sembilan bulan ini dan banyak kesulitan lainnya.
__ADS_1
Mishel jadi teringat akan ucapan laki-laki itu yang katanya akan melakukan tes DNA. Menurut Mishel itu tidak lah penting untuk dilakukan karena percuma saja jika laki-laki itu mengetahui faktanya tapi dia tetap tidak menerima kenyataan. Menurut Mishel bukan hasil tes DNA nya yang penting tapi bagaimana laki-laki itu. Sudah jelas sejak awal dia memang tidak ada niatan untuk bertanggungjawab, lebih baik seperti itu sampai akhir saja. Dia tidak ingin laki-laki itu terpaksa menjadi ayah untuk anaknya.
...
Di perusahaan.
Mereka baru saja mengadakan pertemuan untuk proyek baru yang akan perusahaan itu garap. Gerry selaku Presdir pun meninggalkan tempat itu lebih dulu tapi sebelumnya dia sudah berpesan pada sang putra untuk menemuinya di ruangannya.
Sekarang mereka sudah ada di ruangan yang sama.
"Apa yang ingin papah bicarakan?" tanya Marco.
"Kau tau, sebentar lagi Mishel akan melahirkan. Apa kamu tau saat apa yang paling menakutkan bagi papah seumur hidup papah. Yaitu melihat mamahmu melahirkan kamu. Saat itu papah menemani mamahmu persalinan, apa kamu tau mamahmu terlihat sangat tersiksa, dia banyak berkeringat dan banyak mengeluarkan dar4h. Rasanya papah ingin sekali membagi rasa sakit yang mamahmu lalui tapi tidak bisa. Papah hanya bisa menangis dan berdoa sepanjang persalinan agar mamahmu selamat. Papah bahkan tidak peduli dengan mu, yang papah pedulikan hanya mamahmu."
"Tapi sekuat tenaga mamahmu terus berjuang melahirkan mu ke dunia. Katanya seorang wanita tidak akan pernah menyesal telah melalui rasa sakit itu saat mendengar suara tangis anaknya. Apa kamu paham, jika wanita akan sangat menderita saat persalinan dan mereka berjuang untuk hidup dan m4ti. Apa kamu akan tetap meragukan Mishel yang akan berjuang hidup dan mat1 melahirkan anakmu. Papah hanya mengingatkan, jangan sampai saat kamu menyadari itu dan menyesal, semua sudah terlambat."
Marco mengerti maksud papahnya. Setelah dia tidak pernah ikut campur dan peduli kehamilan wanita itu selama ini bahkan saat dia berjuang melahirkan nanti. Lalu tiba-tiba dia datang untuk melakukan tes DNA. Bukankah hal itu akan sangat menyakitinya.
"Pah aku ...."
"Papah paham kamu hanya ingin meyakinkan hatimu dengan melakukan tes DNA. Tapi kamu juga harus menjaga perasaan Mishel. Pergilah temui dia dan meminta maaf. Coba lihat perjuangannya, kamu akan tau nanti."
__ADS_1