
Sabar Byan, jangan dengan mudah terprovokasi oleh perkataan Anggita! Apa itu cinta? Yang penting dia dan Benji sudah kembali pada ku dan menjadi milik ku saja itu sudah cukup buat ku. Masalah cinta bisa menyusul belakangan, ujar Byantara pada dirinya sendiri untuk menenangkan perasaannya sendiri.
Buat seorang Byantara yang tidak mengerti cinta, yang penting apa yang dia inginkan menjadi miliknya.
"Aku harus segera kembali ke perusahaan, sehingga aku tidak bisa mengantarmu sekalian untuk menjemput Benji!" ujar Byantara pada Anggita, seakan sama sekali tidak mendengar perkataan Anggita yang ingin menyakitinya itu.
"Aku tahu diri mas Byan. Aku tidak mungkin menyuruh mas Byan mengantar ku hanya untuk suatu hal yang tidak penting!" sahut Anggita yang masih kesal dengan Byantara, sehingga setiap perkataan yang dia keluarkan selalu ingin menyakiti hati Byantara.
"Jangan mengambil kesimpulan sendiri Gita, saat ini kau dan Benji penting untuk diri ku!" sahut Byantara mencengkram kedua bahu Anggita.
"Ingat janji mu! Kau akan melepaskan ku setelah kau punya anak! Jadi aku dan Benji bukanlah orang penting buat mu!" sahut Anggita.
"Aku sudah bercerai dengan Sella!" dengus Byantara kesal.
"Aku sudah tidak perduli! Kau sudah bersekongkol dengan mas Theo untuk menipu aku, aku akan pergi dari sini, mau kau punya anak atau tidak aku tidak perduli!" sahut Anggita menantang.
"Kalau kau pergi, aku akan dengan segala cara mengambil Benji! Coba saja kalau kau berani pergi dari sini tanpa ijin ku!" tantang Byantara yang kesabarannya mulai habis dan menggunakan ancaman lagi.
"Kau tidak bisa seenaknya mengambil Benji dari aku!" teriak Anggita frustasi.
"Kau lihat saja nanti! Aku harus pergi, nanti malam baru kita bicarakan lagi saat pikiran mu sudah tenang!" sambung Byantara.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu aku bicarakan dengan mu lagi, mas Byan!" sahut Anggita.
Byantara sama sekali tidak perduli dengan perkataan Anggita lagi, Byantara bersikap seakan tidak mendengar apa-apa .
Byantara malah melambaikan tangannya ke arah supir keluarga Darmawan.
"Bawa nona Anggita menjemput Benji?" instruksi Byantara pada supir keluarganya yang menghampirinya.
"Baik tuan." sahut sang supir sambil mengangguk.
"Mari nona," ajak sang supir mempersilahkan Anggita menuju ke mobil.
Anggita akhirnya mengikuti langkah supir itu menuju ke mobil. Anggita menatap kesal ke arah Byantara saat melewati Byantara.
*********
Theo datang di saat yang tidak tepat, mood Byantara sudah jelek sejak dia kembali dari Mansion.
Begitu melihat Theo, Byantara langsung teringat dengan ucapan Sella.
Theo yang baru duduk di hadapannya dan belum sempat berkata apa-apa sudah langsung mendapat pertanyaan yang membuat Theo terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Mengapa dulu saat aku digigit ular kau tidak pernah menceritakan kejadian sebenarnya pada ku?", tanya Byantara menatap tajam ke Theo.
"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti?" sahut Theo.
"Kau tidak usah berlagak bodoh Theo! Bukankah Gita pernah berusaha menyelamatkan aku hingga dia tidak sadarkan diri. Bahkan kau yang mengantarnya ke dokter! Mengapa kau tidak pernah mengatakannya pada ku?" tanya Byantara lagi dengan geram.
"Kau tidak pernah bertanya," sahut Theo.
"Tapi aku sering mengeluh pada mu, mengapa Gita sama sekali tidak memperhatikan aku saat aku terluka, tapi Gita bisa mengakui kalau menyukai aku, hingga kedua orang tua ku menikahkan kami! Saat itu kau sama sekali tidak ada niat memberitahu aku! Bahkan kau seakan ingin menunjukkan kalau Gita memang sama sekali tidak benar-benar menyukai ku, dia hanya ingin menguasai harta dan kedudukan ku seperti dugaan ku!" ujar Byantara dengan emosi sampai memukul mejanya.
"Kau hanya curhat, tentu aku tidak perlu menjawab, aku hanya perlu mendengar. Bukankah setiap kata yang keluar dari mulut mu tidak membutuhkan penjelasan? Bukankah kau pernah berkata kalau apa pun yang kau katakan adalah keputusan dan tidak bisa diganggu gugat lagi? Bertahun-tahun aku bekerjasama dengan mu, bukankah setiap kali aku yang harus mendengar semua instruksi mu? Sampai kadang aku berpikir kalau kita ini bukan partner kerja, tapi aku hanya bawahan mu saja. Mungkin kata partner itu hanya biar terdengar lebih enak, karena kita sudah berteman sudah lama!" sahut Theo yang kali ini sudah nekad mengeluarkan semua isi hatinya, lagi pula semua rahasia sudah terbongkar dan tidak ada yang bisa disembunyikan lagi.
"Urusan Gita tidak berhubungan dengan kerjasama kita! Kau jangan mengalihkan pembicaraan Theo! Aku bukannya tidak memberi kesempatan pada mu bukan? Setiap membuka usaha, aku selalu memberi kesempatan pada mu untuk menjalankannya dulu, tapi ketika usaha tidak maju, sebagai pengusaha tetap saja aku mencari keuntungan. Tentu saja aku menggunakan metode ku yang lebih menguntungkan. Dan hasilnya kan sudah kau rasakan, setiap aku merubah metodenya, bukankah perusahaan kita untung lebih banyak? Bagaimana bisa kau menganggap aku hanya menjadikan mu pesuruh Theo?" tanya Byantara terluka, dia tidak pernah menyangka kalau Theo akan berpikiran seperti itu terhadapnya. Padahal selama ini dia menganggap Theo adalah satu-satunya teman terbaik yang dia miliki.
"Ha-ha-ha, mungkin menurut mu seperti itu Byan! Karena kau memang selalu beruntung, kau lahir dari keluarga kaya, apa saja yang kau inginkan akan menjadi milik mu, berbeda dengan aku yang harus berjuang. Kau tahu sudah sejak lama aku menyukai Anggita, bahkan berkali-kali aku meminta ijin padamu untuk mengajak Anggita pergi! Tapi kau terlalu egois Byan, bahkan saat kau tidak menyukai Gita, kau pun tidak ingin Anggita menjadi milik orang lain. Bukankah itu terlalu serakah? Tapi setelah kau miliki Anggita, malah kau buang Gita seperti itu. Aku yang pertama menemukannya saat Gita terpuruk, hati ku begitu terluka melihat keadaan Gita saat itu! Dan yang paling disayangkan, usaha ku selalu saja berada di naungan mu. Andai saja dari dulu aku tidak pernah bekerjasama dengan mu, sehingga takut menyinggung mu, mungkin sudah sejak dulu aku melamar dan menikahi Anggita! Kau mau tahu penyesalan terbesar dalam hidup ku?" ujar Theo menghela nafas. Byantara hanya diam karena masih bingung menerima kenyataan perasaan Theo padanya selama ini.
"Aku menyesal, sudah bekerjasama dengan mu. Aku sudah siap kalau kau ingin memutuskan hubungan kerjasama kita. Aku sudah menunggu terlalu lama, kali ini aku akan mengatakan semua perasaan ku pada Gita dengan jujur! Asal Gita setuju, aku akan membawa Gita dan Benji pergi dari Mansion mu. Aku akan menikahi Gita dan menerima Benji menjadi anak ku" putus Theo, padahal Theo memutuskan hal itu karena Byantara sudah mengetahui rahasia antara Theo dan Sella.
Mendengar itu sudah pasti Byantara menjadi marah dan tidak terima..
"Aku kini sudah mengerti tujuan mu saat aku mendengar semua perkataan mu Theo. Sejak dulu kau memang berharap hubungan ku dan Gita memburuk, agar kau memiliki kesempatan untuk memiliki Gita. Sebaiknya kau urungkan niat mu, aku tidak akan memberi kesempatan pada mu untuk bertemu dengan Gita. Semenjak Gita dibawa pulang ayah ku ke mansion kami, Gita sudah ditakdirkan menjadi milik ku. Benji adalah anak ku, aku akan menjadikan Benji anak ku yang syah, tidak ada ayah lain buat Benji, aku akan menikahi Gita kembali!" ujar Byantara tegas.
__ADS_1
Bersambung.............