Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 35


__ADS_3

Sudah dua hari Mishel berada di rumah sakit pasca melahirkan putranya yang tampan. Keadaannya semakin membaik, terbilang cepat karena dia melahirkan normal dan mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit itu. Tentu saja semua kerena suami Ayunda yang merupakan orang berpengaruh dan memiliki kekuasaan sehingga segalanya menjadi lebih mudah. Dua hari ini Mishel banyak belajar dari perawat dan dua ibunya tentang bagaimana caranya merawat bayi. Dari mulai hal yang paling sederhana sampai yang sulit dilakukan. Dia sangat antusias belajar agar bisa sepenuhnya merawat putranya.


Hmm Mishel memang tidak berniat menggunakan jasa baby sitter karena ingin merawat putranya sendiri. Dia tidak ingin kehilangan momen sekecil apapun dalam tumbuh kembang sang putra karena momen itu tidak akan terulang kembali. Walaupun begitu bukan berarti para ibu yang menggunakan jasa pengasuh itu tidak ingin merawat anaknya. Mereka tentu punya alasan tersendiri mengapa melakukannya dan pasti dengan pertimbangan yang matang, mungkin sang ibu bekerja atau ada alasan lain. Sedangkan Mishel kebetulan hanya ibu rumah tangga sekarang jadi memiliki banyak waktu untuk mengurus putranya dan ada ibunya juga yang akan membantu.


"Ya ampun, dia semakin kuat saat minum. Pasti karena dia laki-laki, kamu harus makan lebih banyak Mishel. Lihat putramu seperti tidak ada kenyangnya. Baru dua hari saja pipinya sudah seperti bakpao, sangat menggemaskan." Ibu Fira yang selalu menemani sang putri dan membantu merawat cucunya karena Mishel belum bisa banyak beraktivitas.


"Ibu benar, sepertinya timbangannya sudah bertambah banyak." Mishel senang melihat putranya begitu sehat, dia tidak keberatan mengasihi sebanyak apapun untuk sang putra.


Bayi yang diberi nama Rafael Delaris itu tak peduli dengan sekitar. Dia sangat suka saat berada dalam dekapan ibunya hingga terlelap.


Seorang wanita yang baru saja resmi menjadi seorang nenek juga tak kalah antusias menyambut kehadiran cucu pertamanya ke dunia ini. Semua barang bermerek keperluan cucunya yang ada di ruangan itu tentu dari Omanya. Dari mulai selimut bayi, pakaian, dan yang lainnya terdapat logo merek ternama di atasnya. Hari ini pun dia datang dengan membawa sekantong belanjaan baru untuk cucunya. Padahal apa yang ada juga belum terpakai semua.

__ADS_1


"Selamat pagi, cucu Oma yang paling tampan. Oma cantik datang ...." Suara Ayunda langsung terdengar setelah pintu terbuka. Setelah memiliki cucu, dia merasa menjadi lebih muda dari sebelumnya. auranya kebahagiaan terpancar di wajahnya yang masih cantik di usianya. "Selamat pagi sayang, selamat pagi mbak." Tak lupa dia juga menyapa Mishel dan ibunya.


"Pagi mah, mamah cantik sekali hari ini," puji Mishel. Melihat penampilan mamahnya terlihat sangat ceria.


Ayunda membuka kacamata yang ia pakai lalu menaruhnya di atas kepala. Lalu berputar dan membuat ujung dress ikut bergelombang.


"Terimakasih sayang, kamu orang ke dua puluh yang mengatakan kalau mamah semakin cantik." Dia terkekeh. Ya tidak salah karena hampir semua orang yang ia temui mengatakan hal yang sama. "Kamu tau, mamah sudah memutuskan untuk berpenampilan lebih muda dan ceria sekarang agar cucu Oma ini tidak malu saat berjalan-jalan dengan Omanya." Ayunda sudah membayangkan jika cucunya sudah agak besar nanti.


Di sisi lain. Marco bukan tidak mau melihat anaknya tapi dia terlalu malu jika tiba-tiba datang dan mengatakan ingin melihat anaknya. Sedangkan selama ini perlakuannya sudah keterlaluan. Jadi Marco tetap datang setiap hari tapi hanya berani melihat anaknya dari kejauhan. Kadang dia mengintip lewat jendela kaca atau dari celah pintu. Walaupun tidak begitu jelas. Tapi dia bersyukur karena memiliki foto anaknya yang jelas dari ibunya sehingga dia bisa melihat bayi mungil itu. Bahkan setiap saat dia memandangi foto itu, saat bekerja pun dia merasa tidak sabar ingin segera ke rumah sakit untuk bisa lebih dekat dengan anaknya.


Sebenarnya Ayunda sempat mengatakan kalau saat melahirkan Marco berada di luar menunggu dengan cemas sama sepertinya. Marco jugalah yang saat itu menggendong Mishel dari dalam rumah ke mobil. Mishel pun saat itu bisa melihat bagaimana lelaki itu seperti panik dan takut melihat dia kesakitan. Di mobil pun Mishel bisa melihat raut wajah lelaki itu dari belakang. Sampai di rumah sakit, Marco juga yang menggendong wanita itu menuju ruang persalinan.

__ADS_1


"Dia sangat menyesali perbuatannya nak, mamah lihat sendiri dia menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karena keputusannya. Mamah bukan mau membela putra mamah, sama sekali tidak nak. Mamah hanya ingin memberi tau itu saja. Semua balik lagi bagaimana kamu, karena kamu yang lebih berhak atas Rafael."


Mishel pun sudah memikirkannya. Mungkin dia bisa membesarkan putranya seorang diri tapi mau bagaimanapun dia tetap ayahnya. Dan saat Rafael sudah mengerti nanti pasti akan mencari ayahnya. Mishel pun tidak ingin putranya hidup tanpa kasih sayang ayahnya karena dia pernah mengalaminya.


"Mah, katakan padanya aku tidak akan melarang dia untuk melihat Rafael. Aku senang mendengarnya jika dia sudah berubah. Aku juga berharap Rafael tidak kehilangan kasih sayang dari ayahnya."


"Benarkah? Terimakasih nak, hah Mamah benar-benar terharu mendengarnya. Terimakasih kamu sudah begitu baik." Ayunda pun memeluk Mishel. Dia tidak tau lagi wanita itu terbuat dari apa hatinya. Semoga ini adalah awal, bagaimanapun Ayunda berharap mereka akan membesarkan anak mereka bersama-sama.


"Sama-sama mah, aku tidak ingin egois sedangkan Rafael membutuhkan kasih sayang ayahnya."


Namun, Marco terlalu malu untuk datang dan dia hanya berani melihatnya dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2