
Hati berikutnya. Marco datang kembali menemui Mishel yang masih di rawat di rumah sakit. Dia membawa buah-buahan di tangannya yang dia beli saat perjalanan menuju rumah sakit. Sesampainya di depan kamar rawat dia berhenti sebentar sebelum akhirnya mengetuk pintu.
Mishel mengira itu ibunya yang kembali setelah mengambil obat karena hari ini dia akan pulang.
"Ibu sudah kembali? Kenapa cepat sekali?" tanya Mishel tanpa menoleh karena dia sedang membereskan barang-barangnya.
Sementara itu Marco terdiam berdiri ditempatnya melihat wanita yang baru kemarin begitu lemah kini sudah kembali bisa berdiri sendiri. Bahkan sedang mengemasi barang-barangnya. Bukankah baru sehari dia dirawat tapi kenapa dia seperti tengah bersiap untuk pulang.
"Bu, kenapa diam saja—" Mishel pun sama mematung melihat seseorang di sana. Dia lalu membungkuk. "Tuan ... apa Anda mencari sesuatu?" tanya Mishel dia sama sekali tidak berpikir jika laki-laki itu datang untuknya.
__ADS_1
"Ah itu, ini buah untukmu." Marco meletakkan keranjang buah yang ia bawa. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau akan pulang? Apa dokter sudah mengijinkan?" tanya Marco beruntut. Dia tidak sadar kalau apa yang dia katakan membuat seseorang kini tertegun dibuatnya. Mungkin ini kali pertama pria itu banyak bicara dan bukan makian seperti biasa tapi sebuah perhatian.
Mishel kemudian tersenyum simpul pada laki-laki itu. Sama sekali tidak ada kebencian, dia sudah berdamai dengan keadaannya. Sudah mendapatkan kasih sayang dari Ayunda dan suaminya sudah lebih dari cukup bagi Mishel. Dia tidak mau serakah dengan menginginkan semuanya.
"Keadaan saya sudah lebih baik . Dokter juga sudah mengijinkan saya pulang. Saya juga ingin berterimakasih, kata ibu saya, Anda yang sudah membawa saya ke rumah sakit. Sekali lagi terimakasih atas bantuan anda." Mishel membungkukkan tubuhnya lagi berterimakasih.
"Kau tidak perlu berterima kasih karena itu memang sudah semestinya aku lakukan. Seharusnya aku bisa menjaga kalian tapi aku malah ..., maaf karena aku sudah membuat kamu kesulitan. Sekali lagi maafkan aku." Marco pun ikut membungkukkan tubuhnya.
Bukan ini yang Marco inginkan, dia merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh wanita itu. Dia justru berharap jika Mishel akan melampiaskan kemarahan dan kekecewaannya dengan memaki Marco. Dia lebih senang dimaki dari pada melihat wanita itu begitu menerima keadaan. Karena jika begitu bagaimana caranya Marco akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
__ADS_1
"Nak, ibu sudah kembali—" Sama halnya dengan Mishel, Bu Fira pun terkejut melihat Mar HGBco ada di sana. Dia mengangguk pada lelaki itu.
Bu Fira lantas menghampiri putrinya yang sudah membereskan barang-barangnya.
"Sudah dapat obatnya Bu?"
"Sudah nak, kita bisa pulang sekarang. Sini biar ibu saja yang membawanya." Bu Fira tidak ingin putrinya kelelahan lagi.
"Tunggu Bu, apa boleh jika aku saja yang mengantar kalian pulang?" tanya Marco.
__ADS_1
Fira melihat putrinya karena bukan dia yang memutuskan tapi ada Mishel yang lebih berhak.
"Terimakasih Tuan, saya sangat berterimakasih atas niat baik Anda tapi kami sudah memesan taksi. Jadi kami tidak bisa pulang bersama Anda." Mishel membungkukkan tubuhnya lagi. Lalu pergi dari sana meninggalkan Marco yang merasa tidak memiliki kesempatan lagi.