
"Ibu bawa Benji turun dulu ya? Sebentar lagi makan malam," ujar Bu Darmawan yang sepertinya memberi kesempatan pada Anggita dan Byantara untuk berbicara.
Anggita yang tidak mengira kalau Byantara akan meminta maaf padanya sempat merasa kaget. Ketika sadar dan hendak mengekori Bu Darmawan dan Benji, tiba-tiba saja Byantara menarik pergelangan nya.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi mas!" ujar Anggita berusaha menarik lepas tangan nya dari cekalan tangan Byantara.
"Kau tidak, aku ada!" sahut Byantara kini malah mencekal kedua pergelangan tangan Anggita, agar Anggita menghadap ke arahnya.
"Katakanlah!" sahut Anggita yang menghela nafas kesal.
"Ku harap kau mau ikut berlibur ke Villa Sabtu nanti. Bagaimana juga aku ingin mengajak Benji ke Villa peninggalan ayah. Kau tahu sendiri apa arti Villa itu buat ayah, aku ingin Benji mengenal tempat yang meninggalkan banyak kenangan buat keluarga Darmawan." ujar Byantara.
"Aku sudah mengiyakan ibu, kau sudah tahu kalau aku tidak mungkin menolak ibu. Kalau menuruti kata hati ku sebenarnya aku tidak ingin pergi ke Villa itu!" sahut Anggita yang ingin menyakiti Byantara.
"Bukankah dulu kau paling suka kalau kita sekeluarga pergi ke Villa itu?" pancing Byantara.
'Aku sudah bilang mas Byan, perasaan dan sifat manusia bisa berubah seiring waktu. Begitu juga dengan aku, kini aku sama sekali tidak ingin ke Villa itu lagi, aku bahkan sudah lupa tentang Villa itu andai saja ibu tidak meminta ku untuk ikut pergi. Sekarang mas Byan sudah mendapatkan jawaban ku, bisa kau lepaskan tangan ku? Aku lapar, aku mau turun makan," ujar Anggita dingin.
Perlahan Byantara melepaskan kedua tangan Anggita, dan menatap bayangan Anggita yang menghilang di balik pintu.
Aku dulu sudah terlalu menyakitinya, sudah pasti Gita masih dendam pada ku! gumam Byantara mengepalkan tangannya, menyesali perbuatannya dulu hanya karena mudah dipengaruhi Sella!
*********
Selesai makan, Benji mengikuti Bu Darmawan. Byantara tadi memberikan Benji buku cerita yang memiliki gambar-gambar bagus tiga dimensi. Dari dulu Bu Darmawan memang punya hobi menceritakan dongeng untuk anak kecil. Bu Darmawan merasa senang ketika melihat buku dongeng yang bagus itu.
__ADS_1
"Ayo Benji! Sebelum tidur nenek ceritakan dongeng di buku itu untuk mu, Benji bisa sambil melihat gambar-gambar nya!" ajak Bu Darmawan.
Anggita saja sempat takjub melihat buku itu, ternyata jaman semakin canggih, bahkan buku dongeng pun sudah dibuat sedemikian menarik. Di plastik depan itu mengiklankan kalau buku dongeng itu dibuat agar anak-anak tidak hanya tertarik bermain gadget saja.
Boleh dibilang buku dongeng itu lebih mirip mainan, bahkan ada tokoh-tokoh tertentu yang dibuat bisa dipindah-pindah sesuai imajinasi sang anak. Uang memang mempermudah orang untuk mendapatkan barang dengan model terbaru. Anggita saja baru tahu kalau ada buku dongeng seperti itu!
*********
"Kau diskusikan dengan Byantara apa yang perlu dibawa saat kita ke Villa, Gita. Ibu harap saat seperti ini kau bisa membuang rasa benci mu dulu pada Byantara, ibu ingin kepergian kita kali ini menjadi kenangan yang indah buat Benji!" bisik Bu Darmawan kepada Anggita, ketika dia melihat Anggita hendak ikut ke kamarnya juga.
Anggita tentu bisa menebak keinginan Bu Darmawan yang hendak mendekatkannya kembali pada Byantara, Anggita juga tidak bisa menolak permintaan Bu Darmawan. Mau tidak mau Anggita hanya bisa mengangguk pasrah saja, tapi hatinya berkata lain.
Huh! Yang mau pergi mas Byan dan ibu, kenapa harus aku yang ikut merencanakannya.
*********
Byantara langsung tersenyum senang ketika melihat Anggita yang duduk di dekatnya.
**********
"Apa yang ingin kau bawa kalau nanti kita ke Villa, biar kita bisa siapkan bersama?" tanya Byantara yang langsung memulai pembicaraan, ketika melihat Anggita yang duduk dan diam saja.
"Aku tidak suka berbohong Mas Byan, aku sama sekali tidak tertarik ke Villa untuk liburan! Tapi karena aku sudah berjanji pada ibu untuk ikut, aku pasti tetap menepati janji ku, tapi mas Byan rencanakan saja sendiri kalau ingin membawa apa, karena aku tidak tertarik, aku sama sekali tidak ada inisiatif untuk membawa apa selain keperluan buat aku dan Benji seperti pakaian dan perlengkapan pribadi saja," sahut Anggita dingin, ingin menunjukkan pada Byantara kalau dia sama sekali tidak berminat pergi.
"Baiklah! Kalau begitu terserah pada mu saja, Gita. Setidaknya aku sudah mengajak mu untuk berpartisipasi dan tidak menganggap mu boneka yang hanya menurut saja!" sindir Byantara yang mulai kehilangan sabar. Rasanya dia benar-benar diuji oleh Anggita kali ini.
__ADS_1
"Bukankah sejak dulu semua orang yang berada di sekitar mu hanyalah boneka mu saja yang bisa kau kendalikan sesuka mu?" ujar Anggita menyindir balik.
"Apa maksud mu Gita? Kesabaran ku ada batasnya! Dari tadi aku sudah mengalah dan berusaha agar hubungan kita bisa lebih baik. Bagaimanapun aku adalah ayah Benji, dan kau ibu Benji!" ujar Byantara yang mulai terpancing emosinya.
"Apa maksud mas Byan mencegah aku bertemu mas Theo. Bagaimana pun mas Theo adalah malaikat penyelamat ku! Kalau mas Byan tidak anggap kami boneka, mengapa mas Byan seenak-enaknya menghalangi persahabatan kami? Bahkan nomor handphone ku jangan-jangan mas Byan yang sengaja membuatnya rusak, agar mas Theo tidak bisa menghubungi ku?" tebak Anggita.
"Ya! Aku memang tidak ingin kau bertemu Theo! Theo tidaklah sebaik yang kau katakan!" sahut Byantara.
"Setidaknya mas Theo lebih baik dari pada mas bByan! Mas Theo yang sudah menolong aku, tidak seperti kau yang membuat hidup ku sengsara! Bahkan tidak ada seorang pun yang mau menerima ku bekerja saat itu! Bukankah itu sama saja kau menginginkan aku mati?" tanya Anggita berapi-api karena emosi bila teringat masa itu.
"Aku akui saat itu memang aku emosi dan bersikap terlalu, hingga melakukan hal-hal yang tidak aku pikir ulang lagi dan di luar nalar. Aku saat itu marah karena kau mengaku kalau kau memang hamil anak pria lain, sama sekali tidak ada niat sedikit pun kau menyanggah, bagaimana aku tidak marah Gita?"
"Untuk apa aku menjelaskan pada mu mas Byan? Kau ingat-ingat sendiri selama kita menikah, pernahkah kau mau mendengarkan perkataan ku. Kalau pun ku jelaskan, apakah kau akan percaya?" tanya Anggita menarik nafas panjang, berusaha menahan rasa sedihnya jika teringat keadaan pernikahannya saat itu.
"Terkadang semua itu butuh proses Gita. Aku sendiri tidak tahu perasaan ku sendiri pada mu. Aku merasa marah ketika ayah memaksa ku menikahi mu hanya karena permintaan dari mu! Kau sudah mengenal ku sejak dulu, kau tahu sendiri aku paling tidak suka kalau dipaksa...,"
"Karena itu aku tidak ingin kau terpaksa karena kehadiran Benji, aku sudah pernah merasakan kalau sesuatu yang dipaksa itu akan berakhir dengan tidak baik!" sahut Anggita langsung memotong pembicaraan Byantara.
"Kali ini aku tidak terpaksa Gita!" ujar Byantara yang menghampiri Anggita dan memutar kursi Anggita, agar menghadap ke arahnya.
"Maafkan aku Gita, aku baru sekarang mengerti perasaan ku sendiri!" aku Byantara yang mengangkat tangan kanan Anggita, dan mendekatkan punggung tangan Anggita ke bibirnya, membuat Anggita terpana sejak kapan Byantara bisa menjadi romantis. Anggita tidak tahu saja Byantara sudah belajar dari Mbah Google, bagaimana cara membuat perempuan tertarik. (ini juga ada jurusnya readers🤣🤣🤣)
Bersambung.............
Besok baru masuk ke episode tegang ya readers ku tersayang, good night🌜🌜, semoga NT gak error' lagi.
__ADS_1
Banyak readers yg protes karya author banyak iklan, maaf ya iklannya bukan Author yg putarðŸ¤ðŸ¤, itu dari Noveltoon nya.
Terimakasih buat yang sudah mendukung terus🥰😘😘😘