
Bu Darmawan langsung menghampiri Anggita yang berdiri terpaku bingung dan langsung memeluk tubuh Anggita yang lebih tinggi darinya itu sambil menangis. Anggita merasa malu dan bersalah pada Bu Darmawan, menjadi bingung hendak berkata apa pada ibu angkatnya itu. Bagaimanapun Bu Darmawan yang sudah membesarkannya, bahkan saat dia pergi, Bu Darmawan juga yang sudah memberi uang padanya. Anggita tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau saja saat itu Bu Darmawan tidak memberinya uang.
"Maafkan Aku Bu! Maafkan aku yang sudah menjadi anak yang tidak berbakti dan tidak pernah datang melihat ibu," ujar Anggita akhirnya, membalas memeluk Bu Darmawan.
"Kau jangan berkata seperti Gita! Ibu mengerti mengapa kau seperti itu! Kakak mu Byan sudah keterlaluan pada mu!" ujar Bu Darmawan.
"Bagaimana keadaan mu selama ini? Kau baik-baik saja bukan? Mengapa kau bertambah kurus Gita?" tanya Bu Darmawan bertubi-tubi sambil menggandeng kedua tangan Gita dan melihat Anggita dari atas ke bawah.
"Ibu tidak usah khawatir, Anggita itu pintar mendekati pria dan mencari sasaran Bu, dia sudah punya sasaran baru Tuan Samuel, Tuan muda dari keluarga Tang! Bagaimana dia akan hidup susah, kalau dia selalu menjerat pria kaya?" Sella yang merasa iri atas perhatian Bu Darmawan malah mewakili Anggita menjawab pertanyaan Bu Darmawan dengan sinis.
"Kau tidak usah ikut campur urusan ku dan Gita! Tidak ada hubungannya dengan mu! Sebaiknya kau jangan di sini, mengapa kau tidak melayani suami mu yang baru pulang itu?" usir Bu Darmawan yang memang kurang suka dengan Sella. Walaupun hatinya kecewa mendengar perkataan Sella, karena sebetulnya Bu Darmawan masih berharap kalau suatu saat Anggita akan kembali pada Byantara, apalagi sampai saat ini Byantara dan Sella masih belum mempunyai anak
"Huh!" gerutu Sella sebelum berlalu dari ruang tamu dan memandang kesal pada Anggita, tapi bersyukur dalam hati
Bagus deh, jadi dia tidak jadi bertemu Byantara.
********
Anggita mulai merasa tidak tenang, ketika Bu Darmawan masih saja bercerita macam-macam pada Anggita, kadang juga menanyakan keadaan Anggita. Sepertinya Bu Darmawan kangen berbincang-bincang dengan Anggita. Memang dulu mereka sering melakukan kegiatan bersama, saat Anggita masih tinggal bersama nya.
Kegiatan belanja bersama, menonton bersama, ke salon bersama dan masih banyak lagi, sehingga Bu Darmawan yang paling merasakan kehilangan Anggita.
"Maaf Bu, saya datang ke sini ingin berbicara dengan mas Byantara. Ada hal penting yang perlu saya bicarakan pada mas Byan. Sepertinya mas Byan tidak mau bertemu dengan ku, mau kah ibu membantu ku untuk bicara dengan mas Byan, agar mas Byan memberi kesempatan pada ku untuk berbicara dengannya?" pinta Anggita terpaksa memutus cerita Bu Darmawan. Anggita benar-benar khawatir dengan keadaan Benji.
"Masak Byantara tidak mau menemui mu? Keterlaluan sekali si Byan itu! Baiklah, biar ibu bicara padanya, kau jangan khawatir, ibu pasti membawanya turun untuk mu." janji Bu Darmawan segera berlalu dari ruangan itu.
__ADS_1
Anggita mengira kalau Byantara memang sengaja tidak mau menemuinya karena sudah menculik Benji, jadi Sella yang disuruh turun untuk mengusirnya.
Aku sungguh membenci mu mas Byan! Bukankah kau sudah banyak membuat ku menderita, mengapa masih tidak cukup untuk mu? Apakah harus sampai aku mati, kau baru merasa puas? geram Anggita dalam hati sambil mere*mas-re*mas tangannya sendiri karena perasaannya yang tidak tenang.
*********
Begitu Sella membuka pintu kamarnya, Bu Darmawan langsung mendorong pintu kamar dan masuk ke kamar Byantara dan Sella. Bu Darmawan langsung berjalan menuju ke arah Byantara yang tampak masih duduk di atas tempat tidur dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Ada apa Bu?" Sella segera mengejar Bu Darmawan yang berjalan cepat ke arah Byantara dan sama sekali tidak memperdulikan dia.
"Byan, mengapa kau tega sekali pada Gita?"
"Apa maksud ibu?", tanya Byantara yang langsung bangun dari duduknya begitu mendengar nama Anggita disebut
"Kau cepat temui Gita di bawah! Walau kalian tidak bisa menjadi pasangan suami istri, tapi setidaknya dia dulu adalah adik mu, walau hanya adik angkat!"
"Iya! Mengapa kau begitu tega tidak mau menemuinya?"
"Aku turun sekarang Bu", ujar Byantara langsung melangkah ke arah pintu dengan langkah lebar. Tetapi sebelum melangkah ke luar, Byantara berhenti sejenak dan memandang ke arah Sella yang sudah ketakutan dengan tatapan mengancam. Byantara bisa menebak siapa yang sudah mengatakan kalau dia tidak mau menemui Anggita.
*********
Arman menatap wajah Benji yang akhirnya sudah tertidur kelelahan setelah meronta-ronta dari tadi.
Arman benar-benar mengagumi Benji yang tidak terlihat takut sama sekali. Bahkan Benji sama sekali tidak menangis.
__ADS_1
Walaupun ibunya hanya seorang perawat, tapi anak ini sangat berani, kok aku merasa anak ini sepertinya memiliki aura yang kuat. Mengapa nona harus menculik anak kecil yang tidak berdosa ini? Bahkan meminta ku membuang anak ini ke tempat yang jauh?
Arman merasa curiga setelah melihat wajah Benji yang tampan dan lucu itu, ada perasaan tidak tega karena Arman pekerjaannya adalah bodyguard, bekerja melindungi orang. Tapi kini dia malah disuruh menculik seorang anak kecil, dan Sella menyerahkan keputusan di tangannya mau ditenggelamkan atau dibuang ke tempat yang jauh. Sudah pasti Arman lebih memilih pilihan yang kedua.
Apalagi semakin lama setelah melihat wajah Benji, Arman merasa begitu familiar dengan wajah Benji.
*********
Byantara merasa bingung dengan dirinya sendiri, semakin mendekati ruang tamu hatinya semakin berdetak kencang.
Ada.apa dengan diri ku? Mengapa hati ku harus berdebar-debar hanya gara-gara mau bertemu Gita saja? Rasanya dulu setiap bertemu dengannya yang ada hanya rasa kesal saja, tapi mengapa saat ini hati ku bisa seperti malam itu, saat aku diberi obat?
Pikiran yang akhirnya membuat Byantara menghela nafas kesal, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
*********
Anggita mere*mas-re*mas tangannya sendiri karena perasaan gugup. Bahkan Anggita hanya berdiri dan tidak duduk di sofa ruangan itu. Anggita hanya menatap ke luar jendela yang menghadap ke taman belakang Mansion itu, Anggita benar-benar cemas memikirkan bagaimana keadaan Benji.
Anggita sampai tidak menyadari kehadiran Byantara yang sedang menatap lekat ke arahnya, memperhatikan penampilan Anggita yang terlihat sedikit berantakan dari atas ke bawah. Anggita terlihat hanya memakai sandal rumah, dan sepertinya Anggita lupa melepas sandal yang dia pakai setelah sampai di dalam mansion.
Apakah waktu empat tahun sudah membuat Gita lupa dengan semua kebiasaan di Mansion Darmawan?
Biasanya tamu yang berkunjung pasti melepas sepatu yang mereka pakai dari luar dan menggantinya dengan sandal rumah yang disiapkan. Dan sejak kapan Gita berpergian dengan hanya memakai sandal?
Tiba-tiba sedikit perasaan bersalah muncul dalam hati Byantara, dia tidak menyangka kalau seorang Anggita bisa menjadi seperti orang ling lung. Apalagi saat teringat cerita Theo tentang keadaan Anggita saat pertama kali Theo bertemu Anggita setelah Anggita bercerai dengannya.
__ADS_1
Bersambung............