
Selesai menandatangani surat-surat penting untuk pengerjaan proyek barunya, Byantara duduk melamun kembali. Byantara masih berpikir kalau Anggita marah padanya karena perbuatannya yang menci*um Anggita kemaren.
Sebetulnya setelah kejadian itu, malamnya Byantara menjadi sulit untuk tidur. Byantara terus berpikir bagaimana cara dia harus melunakkan hati Anggita yang keras itu. Byantara merasa hatinya tersiksa sebelum Anggita bersedia memaafkannya dan kembali kepadanya, tapi Byantara cukup mengenal Anggita yang memiliki hati yang keras itu. Sepertinya dia butuh waktu dan kesabaran.
Karena kurang tidur, tanpa sadar Byantara pun jatuh tertidur di kursi kebesarannya.
**********
Byantara melihat Anggita menangis tersedu-sedu dan duduk di tepi batu suatu danau, Byantara merasa tempat itu terlalu berbahaya.
"Gita! Mengapa kau menangis? Maafkan aku, aku berjanji tidak akan menyakiti mu lagi! Jangan duduk di sana, berbahaya!" teriak Byantara yang berlari mendekati Anggita.
Tampak Anggita tersenyum sedih pada Byantara, tetapi tiba-tiba bangun dan berlari meninggalkannya. Saat Byantara mengejar Anggita, tiba-tiba Anggita menghilang. Byantara semakin merasa khawatir ketika sepanjang jalan dia mencari Anggita, dia menemukan bercak-bercak darah yang ditinggalkan Anggita.
"Gita!" seru Byantara terbangun dari tidurnya. Byantara tiba-tiba merasa jantungnya berdebar kencang karena tidak tenang.
"Ayo Byan! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Gita, Gita berada di kamarnya," pikir Byantara berusaha menenangkan pikirannya.
Byantara memutuskan menelpon Bu Tatik, kepala pelayan Mansion nya untuk mengecek keadaan Anggita. Bagaimana juga beberapa kali mimpi Byantara menjadi kenyataan.
"Maaf Tuan, saya sudah mengecek di kamar, ternyata nona Anggita tidak ada di kamarnya. Kata Pak Heru (Penjaga gerbang Mansion) tadi nona Anggita pergi keluar, dan Pak Heru sudah bertanya ke mana nona Anggita pergi, nona berkata hanya pergi ke pasar yang terdekat. Tapi sudah lumayan lama belum kembali! Ini Tuan Theo juga datang mencari Nona Anggita," lapor Bu Tuti yang menelpon balik ke Byantara sesudah mengecek.
Byantara akhirnya memutuskan sambungan telpon dengan tidak tenang, dan semakin tidak tenang ketika Theo menelponnya.
**********
Theo yang mencintai Anggita, tiba-tiba merasa tidak tenang dan khawatir kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Anggita. Theo akhirnya memutuskan untuk menelpon Byantara, dengan resiko menerima kemarahan Byantara.
__ADS_1
"Kami tadi berjanji bertemu di Kedai Kopi dekat Mansion kalian, tapi sampai waktu yang ditentukan aku menunggu Gita, Gita tidak muncul-muncul juga Byan! Kau cepat minta orang untuk menyelidiki keberadaan Anggita, Byan!" ujar Theo.
"Sudah ku bilang pada mu jangan menemui Gita! Lihat kini apa yang terjadi, kalau ada apa-apa kau mau bertanggung jawab?" omel Byantara melampiaskan rasa tidak tenangnya pada Theo.
"Akan ku habisi kau, kalau sesuatu terjadi pada Gita!" ancam Byantara dengan marah dan langsung memutus pembicaraan dengan Theo.
**********
Byantara langsung bangun dari duduknya menuju keluar. Byantara sebelumnya sudah menyadap telpon genggam Anggita, karena khawatir suatu saat Anggita diam-diam pergi meninggalkannya.
Ketika melihat titik posisi Anggita, Anggita bukanlah berada di pasar, tapi menjauh dari Mansion mereka dan sepertinya menuju ke daerah pinggiran Kota.
Aku sendiri harus segera mencarinya! putus Byantara dalam hati.
"Kau segera hubungi Rizky untuk menyusul ku!" instruksi Byantara pada Robby.
"Ke mana Tuan?" tanya Robby yang sama sekali tidak tahu kejadian apa yang sudah menimpa Tuan nya hingga terlihat kalang kabut.
*********
Byantara meminta pak Heru untuk menyelidiki CCTV di depan jalan Mansion mereka. Ketika melihat hasil rekaman CCTV di depan jalan itu, Theo dan Bu Tatik juga ikut menyaksikan.
Ketiga orang itu langsung berubah tegang ketika menyaksikan Anggita yang dibekap dari belakang.
Theo sendiri sampai mengepalkan tangannya geram ketika menyaksikan sang penculik mengelus wajah Anggita.
Bu Tatik sampai menutup mulutnya sendiri karena kaget.
__ADS_1
"Aduh! Nyonya besar pasti khawatir! Bagaimana ini pak Heru? Siapa orang ini? Berani sekali dia melakukan kejahatan di depan Mansion kita, berani sekali dia pada ibu Tuan Muda!" ujar Bu Tatik tidak tenang.
"Selama ini kediaman kita juga selalu aman! Kurang ajar sekali orang ini! Apa yang mau dia lakukan? Apakah mau meminta tebusan?" tanya pak Heru juga merasa aneh ada yang berani melakukan kejahatan di depan Mansion Darmawan.
*********
Sedangkan Theo dari tadi diam saja menyaksikan hasil rekaman CCTV tersebut dan sama sekali tidak berkomentar. Theo hanya memikirkannya dalam hati.
Walau wajah penculik itu ditutup masker, Theo merasa dia pernah melihat wajah itu karena di wajah pria itu ada goresan luka yang panjang, sehingga sebagian tidak tertutup masker. Dan Theo familiar dengan mata lebar penculik yang agak mendelik itu! Tiba-tiba selintas yang teringat kalau dia pernah melihat pria itu bersama Sella. Sepertinya saat Itu Sella menyerahkan sejumlah uang pada pria itu. Sudah cukup lama kejadian itu, tapi wajah pria itu mudah diingat apalagi tatto di lengannya itu.
"Saya permisi dulu pak, saya akan bantu mencari nona Anggita," ujar Theo pada Pak Heru dan Bu Tatik yang hanya disambut dengan anggukan. Kelihatan kedua pelayan setia itu juga tidak tenang dan sedang menunggu instruksi selanjutnya dari Tuan mereka.
**********
"Ada apa menghubungi ku Tuan sombong? Bukankah terakhir kali kau bilang anggap saja kalau kita tidak pernah saling mengenal! Jangan bilang kau kangen pada ku!" terdengar suara ejekan Sella pada Theo yang menelponnya.
"Perempuan gila! Apa yang sudah kau lakukan pada Anggita? Berani sekali kau menculik wanitanya Byantara! Kau tidak takut akibatnya? Kau siap-siap saja karier mu dihancurkan Byantara kalau sampai terjadi apa-apa pada Anggita! Cepat suruh sekutu mu lepaskan Anggita!" ancam Theo.
Sella tentu kaget mendengar ucapan Theo, dia tidak menyangka kalau Theo tahu dia adalah otak penculikan nya Anggita. Tapi kali ini Sella sudah nekad dan mungkin juga sudah gila karena obsesinya.
"Ku beritahu pada mu Theo! Sampai kapan pun kau tidak akan memenangkan Anggita selama Byantara menyukai Anggita! Kau harus berterimakasih pada ku. Aku akan membuat Anggita mau tidak mau menerima diri mu, setelah ditendang kedua kalinya oleh Byantara. Kali ini pasti Byantara akan membuang Anggita kembali! Byantara tidak suka barang bekas! Ha-ha-ha," ujar Sella tertawa terbahak-bahak.
"Apa maksud mu Sella?" tanya Theo yang tidak mengerti apa maksud Sella, bahkan Theo merasa merinding mendengar tawa Sella yang tidak biasa itu.
"Bukankah kau mau saja menerima barang bekas. Buktinya bekas Byantara saja kau mau, jadi sekali lagi Anggita jadi bekasnya pria lain, tentu kau juga akan tetap menerima Anggita. Jadi ku anjurkan kau bersekutu dengan ku saja, nanti kalau Anggita sudah menjadi bekas pria lain juga bakal dibuang Byantara. Saat itu kau bisa menampung Gita, kau kan suka dengan barang bekas, ha-ha-ha," hina Sella.
"Bukankah aku sekutu terbaik mu? Aku selalu memahami mu Theo?" sambung Sella dan tertawa terbahak-bahak lagi.
__ADS_1
Bersambung............
Berhubung banyak protes dan masukan pembaca yang tidak tega pada nasib Anggita, author kali ini ngalah dan mengikuti masukan pembaca, jadi agak berubah nih outline. Semoga beberapa episode lagi bisa tamat dan memuaskan pembaca semua. Ikuti terus ya sampai tamat 🙏🙏🥰🥰🥰