
"Mas Theo, ada kah masalah penting yang mau kau bicarakan pada ku?" tanya Anggita. Setelah Theo menanyakan kabar keadaannya dan Benji, Theo terlihat diam dengan dahi berkerut, seperti nya sedang memikirkan sesuatu.
"Iya Gita, ada sesuatu yang ingin ku mohon dari mu. Sebetulnya aku berat untuk meminta dari mu, tapi saat ini aku benar-benar terdesak. Rasanya aku malu sekali untuk mengatakannya." ujar Theo sambil menghela nafas berat
"Katakan saja pada ku mas, tidak perlu segan. Kau tahu sendiri, aku orang yang suka berkata apa adanya!" sahut Anggita yang hatinya mulai merasa tidak enak, tiba-tiba Anggita yakin Theo menemuinya hari ini, pasti berhubungan dengan Byantara.
"Kau tentu tahu keadaan ibu ku selama ini Gita!..."
"Ibu mu kenapa mas? Apakah sesuatu terjadi pada ibu mu? Katakan apa yang bisa ku bantu untuk ibu mu, pasti aku akan bantu!" ujar Anggita yang terlihat khawatir sampai memotong pembicaraan Theo yang belum selesai. Anggita memang pernah beberapa kali mengunjungi ibu Theo yang terbaring di Rumah Sakit itu beberapa kali.
Menyaksikan kekhawatiran Anggita, Theo sempat ragu untuk menjalankan misinya, tapi keegoisan hatinya lebih mengalahkan rasa tidak teganya. Tetap saja Theo tidak rela kalau Anggita dimiliki Samuel.
"Jangan khawatir Gita, ibu ku kondisinya masih seperti biasa. Ini tidak berhubungan dengan kondisi ibu ku. Ini berhubungan dengan Byantara." sahut Theo.
"Ada apa dengan mas Byan?" tanya Anggita bingung apa hubungan keadaaan ibu Theo dengan Byantara
"Maafkan aku Gita. Sebenarnya aku malu meminta tolong pada mu. tapi aku benar-benar terdesak. Kau tahu sendiri ibu ku membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Saat ini usaha ku juga masih dalam tahap perkembangan, hampir semua modal perusahaan ku itu disuntik dari Byantara. Byantara marah besar pada ku, dia akan mencabut semua bantuannya karena menyalahkan ku yang sudah membantu mu bekerja di Mansion Tang. Mau kah kau membantu ku untuk berbicara pada Byantara agar mencabut keputusannya menarik semua modalnya dari perusahaan ku? Aku benar-benar terdesak, kalau tidak aku tidak mungkin meminta bantuan mu Gita. Aku bahagia asal melihat mu dan Benji bahagia." ujar Theo dengan wajah sedih.
Anggita langsung tertegun mendengar perkataan Theo, rasanya tidak mungkin dia menolak permintaan Theo. Anggita sejak dulu merasa berhutang budi pada Theo, bahkan dia selalu berharap suatu hari dapat membalas hutang budinya itu.
__ADS_1
Bukankah ini saat yang tepat untuk membalas budi ku? Tapi mengapa harus berhubungan dengan Byantara lagi? Tapi mungkin ini juga saat yang tepat bagi ku untuk meninggalkan mas Sam, aku tidak boleh menorehkan luka yang terlalu dalam lagi pada mas Sam. Dengan demikian aku tidak menyakiti semua pihak, aku juga tidak menyakiti nenek Tang. Aku juga bisa membantu Mas Theo, membalas hutang budi ku. Kalau aku melakukan ini, bukankah hanya perasaan ku sendiri yang dikorbankan? Bukankah dulu aku juga sudah mengalami hal pahit dalam hidup ku, kalau pun aku alami sekali lagi, bukankah aku sudah terbiasa? pikir Anggita tersenyum sedih.
"Gita, sudah! jangan kau pikirkan lagi. Aku akan memikirkan cara lain. Apa yang tadi aku ucapkan anggap saja tidak pernah kau dengar! Aku yakin aku akan menanganinya sendiri Gita!" ujar Theo tiba-tiba memecahkan kesunyian di antara mereka. Saat melihat senyum sedih Anggita, tiba-tiba saja Theo merasa tidak tega.
"Jangan mas Theo! Aku pasti membantu mu, ibu mu masih dalam pengobatan, mas Theo tetap harus memperjuangkan ibu mas Theo. Dia satu-satunya keluarga yang mas Theo miliki. Aku akan menemui Byantara untuk membicarakan masalah mu, walaupun aku tidak yakin apakah aku bisa merubah kehendak mas Byan. Mas Theo sendiri tahu bagaimana hubungan ku dengan mas Byan, sejak dulu dia tidak pernah mau mendengarkan ku. Tapi tidak ada salahnya aku mencoba, siapa tahu kali ini dia mau memenuhi permintaan ku." ujar Anggita.
"Tapi....." ujar Theo ragu.
"Bagaimanapun aku yang menyebabkan hal itu terjadi. Kalau mas Theo tidak menyelamatkan ku dan Benji, tentu hal ini tidak akan terjadi. Biarlah aku mencobanya mas Theo, setidaknya mengurangi rasa bersalah ku pada mu mas Theo!" ujar Anggita menghela nafas berat.
"Terimakasih Anggita, maafkan aku." ujar Theo lirih, yang disambut Anggita dengan gelengan kepala.
Kali ini sudah pasti Byan akan mendengar mu Gita. Itu kan memang rencana kami berdua agar kau memohon pada Byantara, dan pada akhirnya Byantara menggunakan kesempatan itu untuk membawa mu dan Benji kembali pada ibu nya. Untuk seorang Byantara menginginkan kau kembali, dia tidak perlu untuk memohon! Malah apa yang dia inginkan akan terjebak ke perangkapnya tanpa dia harus bersusah payah. Itulah enaknya orang yang mempunyai uang dan berkuasa! Orang seperti ku hanya menjadi pion bagi dia untuk mencapai tujuannya! gerutu Theo menyalahi nasibnya sendiri, lupa kalau dia juga yang mengusulkan rencana itu.
*********
Anggita melihat mobil yang dikendarai Samuel sudah keluar dari Mansion, Samuel sedang pergi bersama nenek Tang.
Ini saat yang tepat bagi ku untuk segera angkat kaki dari sini! pikir Anggita begitu melihat mobil itu semakin mengecil dan tidak kelihatan lagi.
__ADS_1
Samuel memang sempat menyampaikan pada Anggita kalau nenek Tang entah mengapa hari ini ingin berpergian dan minta diantar dia dari pada diantar sopir, padahal Samuel berkata dia ingin mengajak Anggita dan Benji pergi ke Mall lagi.
"Aku kan sudah pernah berjanji pada Benji akan kembali membawanya ke tempat bermain di Mall," ujar Samuel.
"Bagaimanapun Nenek Tang sangat menyayangi Tuan. Hanya mengantar pergi tentu bukan masalah Tuan, mungkin orang tua terkadang kangen saat berdua dengan anak cucunya. Tidak ada yang lebih baik daripada menuruti keinginan orang tua," sahut Anggita tersenyum.
"Kau memang gadis yang baik Gita, aku sudah tidak salah menilai mu. Baiklah Gita, kalau misal pulang cepat nanti kita pergi ya bertiga?" ujar Samuel.
Anggita hanya tersenyum tapi tidak mengiyakan, Anggita tidak suka berbohong, apalagi kepada Samuel yang sudah begitu baik padanya. Samuel yang melihat ke sekitarnya dan kebetulan sedang sepi dan tidak ada siapa pun, langsung memeluk Anggita dengan erat sebentar. Anggita membiarkan Samuel melakukan itu dan berusaha menahan perasaannya.
Maafkan aku Tuan Samuel, mungkin kita memang tidak berjodoh.
*********
Samuel tentu tidak tahu kalau ini sudah menjadi rencana nenek Tang dan Anggita. Pada akhirnya Anggita memutuskan tidak ingin kepergiannya diketahui oleh Samuel.
"Saya harap nenek dapat membantu ku dengan mengajak keluar Samuel, saat itu aku akan pergi dari Mansion Tang dan tidak kembali lagi.Terimakasih nenek Tang yang sudah begitu baik pada ku selama ini," ujar Anggita.
"Nenek juga minta maaf Gita, kau sebenarnya gadis yang baik. Tapi status mu membuat nenek tidak bisa merestui kau dengan Samuel. Terimakasih kau sudah mau memenuhi permintaan nenek," ujar nenek Tang yang akhirnya bisa berkata bijak lagi setelah melihat kesungguhan Anggita meninggalkan cucunya. Bahkan Anggita memilih meninggalkan Samuel dalam diam, tanpa meninggalkan pesan apapun.
__ADS_1
Bersambung...........