
"Mau apa kau ke sini?" tanya Sella dengan ketus.
"Yang jelas bukan untuk menemui mu! Kau siapa? Mengapa aku harus melapor pada mu?" sahut Anggita yang tidak kalah sinis.
"Dini! Mau apa perempuan ini ke sini?" Sella yang tidak bisa menjawab Anggita akhirnya bertanya kepada sang resepsionis.
"Untuk menemui Tuan Byantara, Bu Sella." sahut Dini.
"Dini! Cancel pertemuannya dengan Tuan Byantara!" instruksi Sella.
"Maaf Bu Sella, sudah terlanjur saya sambungkan ke Tuan Byantara. Tuan Byantara menyuruh nona Anggita untuk naik langsung ke ruangannya, Bu," sahut Dini yang menjadi serba salah, tapi tetap saja dia memilih mematuhi perintah Byantara.
"Dasar tidak tahu malu! Mau apa kau datang mencari suami ku!" ujar Sella marah, akhirnya Sella sudah lupa menjaga sikapnya, padahal sudah pasti banyak pegawai yang melihat kejadian itu.
"Bertemu dengan orang seperti mu untuk apa aku harus tahu malu?" tanya Anggita santai dan tidak memperdulikan Sella, Anggita langsung melangkah ke arah Lift meninggal kan Sella yang memandang ke Anggita dengan mata berapi-api.
Dulu aku bisa menang, kini hubungan ku dan Byantara sudah buruk, dan dia juga punya anak dari Byantara. Bagaimana dengan nasib ku selanjutnya?
Pikiran itu membuat Sella akhirnya mengejar Anggita dan menarik Anggita. Pegawai yang berada di sekitar situ hanya menyaksikan kejadian itu, mereka tidak berani mengambil tindakan karena yang satu adalah istri Presiden Direktur dan satu lagi ibu dari anak Presiden Direktur.
"Lepaskan aku!" ujar Anggita marah, tapi gerakannya terbatas karena sedang menggendong Benji.
"Pergi dari sini, baru akan ku lepaskan!" ujar Sella yang menarik lengan baju Anggita hingga robek.
"Aduh!" teriak Sella tiba-tiba, Benji yang melihat baju ibunya robek akhirnya menggigit tangan Sella dengan sekuat tenaga.
Sella menjadi bertambah marah, tadi karena kesakitan dia sempat mundur beberapa langkah, kini dia kembali mengejar Anggita yang sudah berjalan cepat menuju ke lift.
Anggita tidak menyangka, ternyata Sella mengejarnya dan hendak memukul Benji dari belakang. Di saat yang tepat pintu lift terbuka, tampak Byantara yang berada di lift, tiba-tiba keluar dengan tergesa-gesa. Anggita yang kaget melihat gerakan Byantara yang keluar tergesa-gesa, ikut menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Berani kau menyentuh anak ku, awas!" ancam Byantara. Tampak Byantara mencengkram pergelangan tangan Sella dan memandang Sella dengan penuh ancaman.
"Anak itu menggigit aku!" ujar Sella sambil memperlihatkan bekas gigitan Benji.
"Pasti kau yang mulai! Mau apa kau ke sini? Pulang!" usir Byantara menghempaskan tangan Sella.
"Ayo, ke ruangan ku!" ajak Byantara yang menghampiri Anggita. Byantara kemudian berjalan ke arah lift dan memencet tombol lift.
Sella hanya bisa memandang ketiga bayangan yang menghilang di balik pintu lift itu dengan hati yang takut dan tidak tenang. Sepertinya saat ini percuma saja dia ke atas, apa yang sudah diucapkan Byantara tidak bisa ditawar lagi, yang ada nanti Byantara semakin marah padanya, kalau dia tidak menuruti kehendak Byantara. Sella akhirnya memutuskan untuk keluar dari gedung itu.
"Apa yang kalian lihat?" bentak Sella yang sempat-sempatnya melampiaskan kemarahannya pada karyawan yang berada di ruang lobby itu. Sella merasa malu, dia merasa kalau para karyawan itu sedang melihat ke arahnya dan menertawakannya
********
Anggita merasa suasana yang mencekam saat berada di dalam lift bertiga saja dengan Byantara. Apalagi Benji juga sedang memeluk erat dirinya, dan menyembunyikan wajahnya di celuk leher Anggita.
Tumben galak banget sama istri kesayangannya, pikir Anggita yang sudah tahu kalau di ruangan Byantara ada CCTV yang bisa melihat keadaan di lobby perusahaan. Anggita tentu tidak tahu kalau hubungan Byantara dan Sella sudah memburuk, yang Anggita tahu Byantara sangat mencintai Sella. Karena Sella juga, Byantara begitu membencinya.
Karena sibuk dengan pikiran masing-masing, Byantara dan Anggita sama sekali tidak berbicara di dalam lift.
********
Anggita merasa bersyukur ketika di depan ruang Byantara dia melihat Rizky. Benji sepertinya cukup menyukai Rizky, biasanya orang yang disukai Hani, Benji juga akan ikut suka juga, kecuali Byantara. Anggita tidak tahu kalau Byantara memang sudah mempersiapkan segalanya begitu mendengar dari Theo kalau Anggita akan mendatanginya.
Benji tadinya agak keberatan.
"Ada Montel Ma ( Ada Monster ma)!" ujar Benji menarik tangan ibunya ragu.
"Jangan takut Benji, mama Benji hebat, nanti monsternya mama pukul kalau nakal!" hibur Anggita.
__ADS_1
Robby dan Rizky terpaksa menahan senyum, sedangkan Byantara yang kesal memilih masuk ruangan dulu dari pada tidak bisa menahan emosi.
Mengapa harus diucapkan dengan kencang? kan bisa berbisik. Sepertinya Gita sengaja. Aku harus menahan emosi ku demi mendapatkan Benji! gerutu Byantara dalam hati
Pada akhirnya Benji mau ditinggal bersama Rizky. Anggita khawatir kalau pembicaraan dengan Byantara akan berakhir dengan keributan, Anggita tidak ingin Benji ikut mendengarnya.
Begitu masuk ke ruangan Byantara, Anggita berusaha menahan jantungnya yang berdebar-debar kencang. Tadinya Anggita berpikir dia sudah siap menghadapi Byantara, karena dia yakin sudah tidak memiliki perasaan pada Byantara lagi, tapi ternyata sosok Byantara selalu terlihat angker dan sulit ditebak, apalagi saat wajahnya tanpa senyum dan terlihat dingin.
Ayo Gita, kau harus berani. Aku tidak pernah bersalah padanya, mengapa aku harus takut? ujar Anggita menyemangati dirinya sendiri dan menarik nafas panjang. Sesudah itu Anggita langsung duduk di hadapan Byantara.
"Ada apa kau mencari ku?" Byantara memulai pembicaraan dulu ketika dia melihat Anggita duduk diam dan terlihat ragu
"Aku ingin memohon pada mu! Aku harap kali ini kau mau mengabulkan permohonan ku." ujar Anggita akhirnya menatap ke arah Byantara. Sejenak tatapan mereka bertemu, tapi Anggita segera mengalihkan pandangannya ke bawah.
"Katakan saja langsung, kau tahu aku tidak suka basa basi," sahut Byantara
"Kau jangan mempersulit mas Theo lagi, semua ini terjadi bukan karena kesalahan mas Theo. Masalah ku tidak ada hubungannya dengan mas Theo, kau jangan menyalahkan nya. Kau jangan menarik semua modal mu dari perusahaan mas Theo! Kasihan, ibunya masih butuh perawatan." ujar Anggita.
"Bahkan sekarang kau begitu perhatian pada Theo, Gita. Pantas saja semua pria dengan mudah menyukai mu! Jangan membuat para pria berpikir yang lain, kalau kelakuan mu seperti itu" sindir Byantara.
"Aku ke sini bukan ingin membahas mengenai diri ku, mas Byan. Ku harap memandang hubungan kita dulu sebagai kakak beradik, setidaknya sekali-kali kau bisa mengabulkan permohonan ku!" ujar Anggita lagi kembali menunduk dan memperhatikan ujung sepatunya sendiri. Sebetulnya Anggita juga kesal pada dirinya sendiri, mengapa setiap bertemu Byantara hatinya menjadi ciut.
Sampai Anggita tidak menyadari kalau Byantara sudah bangun dari duduknya, dan tiba-tiba saja mencengkram dagu Anggita untuk menatap ke arahnya.
"Kau tentu sudah tahu Gita, di dunia ini tidak ada yang gratis?" tanya Byantara sambil tersenyum menang.
Theo! Kau bahkan lebih tahu sikap Gita dari pada aku. Demi diri mu dia benar-benar datang memohon pada ku. Kedudukan mu di hati Gita hebat juga! gerutu Byantara dalam hati merasa iri pada Theo.
Bersambung............
__ADS_1