
Sebetulnya sebelumnya Raka sudah sempat putus asa setelah dua hari dia pantengin gerbang Mansion Darmawan, Raka tidak pernah melihat Anggita keluar sendiri dari gerbang itu. Kadang dia melihat mobil keluar yang sepertinya membawa Anggita, itupun hanya tebakan dan tidak terlalu yakin, karena tidak jelas. Raka tentu tidak mau ambil resiko, dia memilih menunggu saat Anggita sendirian baru dia melaksanakan misinya.
Raka benar-benar merasa tersiksa, belum lagi dia harus kena gigit nyamuk-nyamuk nakal, karena dia bersembunyi di tempat rimbun, bahkan malamnya dia juga nginap di tempat terbuka itu, untung saja sedang tidak musim hujan.
Ternyata susah sekali mengincar perempuan ini! Dari kemaren aku gak lihat dia keluar sendiri, kemana-mana selalu diantar supir. Terus kapan aku bisa menculik perempuan ini dan bersenang-senang bersamanya? pikir Raka yang sudah mulai kehilangan rasa sabar.
Untung saja cantik sekali bagai bidadari, kalau enggak ogah aku harus menghabiskan waktu menunggu kesempatan menculik perempuan itu. Mana lagi musim nyamuk lagi! gerutu Raka yang sudah dua hari mengintai Anggita, tapi dia belum memiliki kesempatan untuk menculik Anggita.
Saat datang dia sudah dimodali Sella dengan uang lumayan banyak, bahkan sudah dua kali Sella menelponnya menanyakan kalau dia sudah berhasil mengerjakan misi nya belum.
Saat menjawab belum, maka Sella akan mengomel dan marah-marah.
"Katanya kau preman hebat. Masak mengerjakan hal seperti itu saja begitu lama?" protes Sella menghina, membuat Raka menjadi kesal dan menjawab Sella dengan ceritanya yang sengaja memanasi Sella.
"Aku baru tahu kalau perempuan itu begitu cantik setelah melihat sendiri aslinya, pantas saja suami mu sampai berpaling dari mu karena dia," sahut Raka memanasi Sella karena Sella mencemooh nya.
"Kalau cantik makanya cepat kau habisi!" omel Sella.
"Gak semudah itu Sella, mungkin suami mu tahu kalau perempuan itu cantik, makanya penjagaannya ketat sekali. Aku belum ada kesempatan untuk menculiknya sampai sekarang!" ujar Raka dengan sengaja memanasi Sella lagi.
"Kau tidak usah memanasi ku Raka! Dasar preman abal-abal, menculik seorang perempuan saja begitu lama." sahut Sella semakin kesal.
"Hey! Sudah bagus aku mau membantu mu, kau coba cari orang lain! Ada tidak yamg berani melawan seorang konglomerat, apalagi merebut wanitanya! Kalau kau masih cerewet terus dan memaksa aku, lebih baik batal saja. Kalau bukan karena perempuan itu cantik bagai bidadari, aku pasti sudah tidak mau melakukan tugas dari mu!" ancam Raka yang akhirnya membuat Sella terdiam.
__ADS_1
"Kau pikir aku Jaka Tarub? Cukup mengambil selendang bidadari langsung beres!" omel Raka sebelum memutus pembicaraan di telpon dengan Sella. Sella akhirnya mematikan telpon dengan kesal, kesal karena dari tadi Raka memanggil Anggita dengan sebutan bidadari.
Apakah secantik itu si Anggita? Bahkan Raka dari tadi menyebutnya bidadari terus! Cih! Kelamaan gak lihat perempuan cantik di penjara! gerutu Sella geram dan merasa semakin iri pada Anggita.
Aku benar-benar tidak sabar menunggu kau berada di tangan Raka! Kau pasti bakal dihabisi pria yang sudah kelaparan itu! Saat itu mau ku lihat apakah Byantara masih mau menerima mu! gumam Sella dengan wajah dingin dan penuh dendam.
**********
Jadi saat melihat Anggita keluar dari gerbang mansion, Raka merasa dia seperti mendapatkan durian runtuh. Akhirnya kesabarannya membuahkan hasil!
Mansion Darmawan berdiri di sebuah tanah yang luas, sedangkan depan jalannya dipenuhi tanaman yang cukup rimbun, setelah beberapa meter baru terlihat lagi rumah lain. Jadi sungguh mudah bagi Raka untuk menculik Anggita. Apalagi Raka sang buronan sudah terbiasa melakukan kejahatan.
Begitu Anggita keluar dari Mansion, Anggita sama sekali tidak sadar ada orang yang mengintainya. Anggita memilih menunggu di luar Mansion karena Anggita merasa risih kalau dia menunggu di dalam Mansion, Anggita merasa sang penjaga memperhatikannya terus.
Raka yang melihat sekitarnya sepi dan sama sekali tidak ada orang, mulai melaksanakan misinya. Dikeluarkannya sapu tangan dan mulai membubuhkan obat bi*us.
Dengan gerakan cepat Raka membekap Anggita dari belakang, Anggita hanya sempat memberontak sebentar, tapi setelah itu tidak sadarkan diri.
Dengan senang Raka mengelus pipi Anggita yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Mantap ini, wajahnya saja begitu mulus, pasti tubuhnya gak kalah mulus nih! Otak Raka sudah langsung bertraveling ria membayangkan aset mangsanya itu. Dengan tidak sabar Raka memanggul tubuh Anggita menuju mobil yang disewanya itu. Setelah memasukkan Anggita ke mobil, Raka pun menuju ke arah kemudi dan mulai menjalankan mobil.
Ah! Aku sampai lupa hal satu ini! pikir Raka yang segera memperhatikan Handphone Anggita, karena tadi dia sempat melihat Anggita sedang bermain handphone. Melihat layar yang menunjukkan Anggita yang sedang memesan kendaraan online, Raka pun langsung memencet tombol Cancel.
__ADS_1
"Binggo! Aku memang cerdas, sekarang kita bisa menikmati waktu kita berdua bidadari ku, jangan takut! Asal kau menurut aku akan memperlakukan mu dengan lembut. Aku sudah gak sabar pengen ngerasain perempuan milik konglomerat kayak apa, He-he-he," ujar Raka tertawa mesum dan tidak mau rugi, sempat-sempatnya menengok ke bangku belakang dan kembali mengelus wajah mulus Anggita yang masih tidak sadarkan diri itu
**********
Theo akhirnya tidak sabar menunggu kedatangan Anggita setelah lewat lima belas menit. Setahunya tadi Anggita sudah berkata mau berangkat, padahal tempat mereka janjian bertemu kalau dari mansion Darmawan dengan kendaraan, tidak membutuhkan waktu sepuluh menit. Theo juga tahu kalau Anggita adalah perempuan yang tepat janji.
Theo akhirnya memutuskan menuju ke Mansion Darmawan.
Biarlah kalau Byantara mau marah, aku kok merasa tidak tenang? Atau jangan-jangan Byantara menyekap Anggita, dan tidak memperbolehkan Anggita menemui ku? Aku harus membawa Anggita keluar dari sana! Aku yang sudah menjebaknya tinggal bersama Byantara, aku harus memperbaiki kesalahan ku! putus Theo dalam hati, memberanikan diri mendatangi Mansion Darmawan.
Kali ini Theo sudah nekad, dia sudah tidak perduli apa yang akan Byantara lakukan padanya. Yang penting dia harus mencoba mengakui perasaannya pada Anggita, bagus-bagus Anggita mau memilihnya dari pada Byantara.
*********
"Nona Anggita sedang keluar Pak," sahut sang penjaga pintu ketika Theo menanyakan keberadaan Anggita.
"Lho, nona Anggita ke mana Pak, dan sudah berapa lama dia pergi?" tanya Theo bingung mengapa dia tidak bertemu dengan Anggita.
"Sudah lumayan lama pak, mungkin sudah setengah jam lebih dan katanya cuman ke pasar dekat sini dan akan segera kembali," jawab penjaga pintu lagi.
"Iya ya, kok sudah lumayan lama belum kembali?" gumam penjaga pintu yang baru sadar kalau Anggita sudah pergi lumayan lama.
Berarti Anggita berbohong pada penjaga pintu, tapi mengapa Anggita tidak pergi ke tempat yang sudah dijanjikan. Lantas ke mana Anggita pergi? tanya Theo dalam hati mulai merasa tidak tenang, apalagi sejak tadi dia menelpon Anggita, telpon Anggita sudah tidak aktif.
__ADS_1
Bersambung................