Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 38


__ADS_3

Jangan tanyakan bagaimana perjuangan Marco selama lima tahun terakhir. Dia tentu saja sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Mishel yakin jika dirinya sudah berubah dan menginginkan mereka berdua berada di sisinya. Tapi sayangnya sampai sekarang Mishel masih memberikan batasan yang jelas di antara mereka.


Semua usaha sudah dia lakukan, berusaha mendekati Mishel pun sudah tapi wanita itu seolah menutup hatinya untuk Marco. Bahkan saat ibu Fira meninggal, Marco lah yang selalu ada untuk wanita itu.


"Apa yang Ayah pikirkan? Apa Ayah melamun?" tanya Rafael karena sejak tadi dia tidak mendapatkan sahutan apa-apa saat mengajak ayahnya berbicara.


"Ahh tidak, maaf Ayah tadi tidak mendengarkan. Kau bicara apa nak hmm?" Marco mengusap kepala sang putra.


"Apa Ayah memikirkan ibu?" Rafael mungkin tidak mengerti mengapa kedua orangtuanya tidak bisa bersama tapi dia bisa melihat jika ayahnya sangat menyukai ibunya.


"Hah ... apa kau tau apa yang ayah pikirkan."


"Hmm, apa Ayah menyukai ibu?" tanya Rafael tiba-tiba.


"Ahaha, kamu bicara apa nak. Tentu saja ayah menyukai kalian." Marco sungguh malu membicarakan hal itu dengan anak-anak.


"Aku bisa melihat ayah sangat menyukai ibuku. Ayah selalu menatap ibu diam-diam, ayah juga sangat memperhatikan ibu. Aku tidak ingin tau kenapa ayah dan ibu tidak bisa tinggal bersama seperti orangtua yang lain tapi aku harap aku memiliki kesempatan itu suatu saat nanti."


Mendengar perkataan sang putra membuat Marco merasa sedih berkali-kali lipat. Ia tak menyangka jika selama ini putranya pun memiliki keinginan sederhana itu. Sederhana namun sangat sulit untuk terwujud. Ini semua karena dirinya, dirinya lah yang menyebabkan mereka seperti sekarang. Jika saja dulu Marco mencoba menerima Mishel tanpa meragukannya maka mereka sekarang pasti menjadi keluarga yang lengkap.

__ADS_1


"Aku juga tidak mau ayah baru," lanjut Rafael.


Sontak Marco menghentikan mobilnya mendengar hal itu.


"Ayah ... kenapa berhenti?"


"A—apa yang kau katakan tadi nak? A—ayah baru?" Marco tidak percaya ini, bagaimana bisa. Siapa laki-laki yang berani mendekati ibu dari anaknya.


"Oh, itu. Ada paman tampan yang sering mengobrol dengan ibu. Sepertinya dia menyukai ibu, tapi ibu sepertinya tidak. Tapi dia kelihatannya sangat baik pada ibu dan padaku."


"Siapa? Katakan siapa dia nak? Apa dia lebih tampan dari ayah?" tanya Marco memanas.


"Lebih tampan ayah sedikit," jawab Rafael. Tidak tahukah dia jika sang ayah sedang cemburu. Dia malah memberikan jawaban yang tidak memuaskan.


...


Pesta ulang tahun pernikahan Ayunda dan suami pun berlangsung meriah. Banyak tamu undangan yang hadir, karena biasanya bukan hanya pesta ulang tahun pernikahan biasa. Di sana para relasi dan pebisnis pun akan berkumpul dan menjalin kerjasama jika cocok.


Rafael sejak tadi bersama Omanya. Dia dikerubuti banyak wanita karena ketampanannya. Ibu Ayunda suka sekali memamerkan cucu tampannya itu pada teman-temannya.

__ADS_1


"Ayo nak, sapa teman-teman Oma."


Rafael pun tersenyum simpul lalu menyapa mereka.


"Selamat malam, saya Rafael Jordan putra dari papah Marco dan ibu Mishel." Rafael memberi salam dengan sangat sopan sehingga membuat orang-orang terkesan.


"Ya ampun, bukan hanya tampan. Cucu kamu juga sangat pandai jeng," puji salah satu wanita di sana.


"Jika sudah dewasa nanti aku akan menjodohkan cucuku dengan cucumu," sahut yang lain.


"Oh tidak, aku tidak mau memaksakan masalah jodoh pada cucuku. Untuk kehidupannya dia berhak menentukan sendiri."


Rafael senang mendengar hal itu. Omanya memang keren, Rafael selalu mengagumi Omanya.


Sementara itu, Marco sejak tadi berdiri di dekat pintu masuk menunggu seseorang datang. Kata sang putra ibunya akan datang jadi Marco menunggu, dia bahkan sudah bolak-balik entah seberapa kali di sana karena tidak sabar melihat wanita itu datang. Serta berulang kali melihat jarum jam.


"Nak, apa benar ibumu akan datang?" tanya sang Oma pada cucunya.


"Iya Oma, ibu tidak pernah mengingkari janjinya. Aku yakin dia akan datang Oma."

__ADS_1


"Oma harap begitu karena jika tidak, putra Oma yang ada di sebelah sana itu akan berdiri di sana terus."


Mereka melihat ke arah yang sama pada Marco yang sedang menunggu di depan pintu.


__ADS_2