
"Kau!" seru Anggita kaget.
"Keluar! Lancang sekali masuk ke kamar ku!" teriak Anggita marah, lupa dengan Benji yang sudah tidur.
Byantara kaget mendengar teriakan Anggita, Byantara refleks langsung melihat ke Benji, tampak Benji hanya bergerak sedikit tapi tidak sampai bangun.
Byantara langsung bangun dari duduknya, bukannya menuju keluar, malah menghampiri Anggita dengan langkah lebar.
"Kel....emf!"
Belum sempat Anggita menyelesaikan ucapannya, Byantara yang sudah berada di dekat Anggita segera menarik Anggita dan membekap mulut Anggita.
"Stttt... Jangan berteriak, nanti Benji bangun. Aku hanya ingin melihat Benji dari dekat.'" ujar Byantara berbisik.
Anggita dengan sebelah tangannya berusaha menarik lengan Byantara yang membekap mulutnya dan sebelah tangannya lagi memukul dada Byantara dengan marah.
"Aku lepaskan! Tapi jangan teriak lagi!" ujar Byantara akhirnya melepaskan tangannya dari mulut Anggita, dan sebelah tangannya lagi yang tadi memeluk pinggang Anggita. Byantara memundurkan tubuhnya agak menjauh agar Anggita sudah tidak memukulnya lagi.
Tapi akibatnya sungguh fatal untuk Anggita, Anggita lupa kalau tangannya sudah tidak menggenggam buhul handuknya lagi, Anggita tidak sadar handuknya tadi menempel di tubuhnya karena Byantara memeluk pinggangnya dan tubuh Byantara yang merapat padanya.
Begitu Byantara menjauh, handuk yang membungkus tubuh Anggita langsung melorot ke lantai, membuat Anggita kaget dan bingung.
Sedangkan Byantara menatap kagum ke tubuh indah Anggita dan sempat terpaku beberapa detik dengan mata yang tidak berkedip.
Setelah sadar, Anggita langsung jongkok dan mengambil handuknya yang jatuh itu dan segera menutupi tubuh bagian depannya dengan handuk itu.
"Sekarang kau keluar gak? Dasar pria ca*bul!" omel Anggita dengan wajah memerah karena marah dan malu.
__ADS_1
Byantara kali ini tidak banyak bicara lagi, Byantara tiba-tiba merasa jantungnya berdebar kencang setelah menyaksikan pemandangan di depannya itu. Byantara akhirnya memilih keluar dari kamar itu. Sangking bingungnya, Byantara bahkan menyelinap keluar dari pintu depan lupa dengan pintu tembusan.
Astaga! Ngapain Tuan Byantara malam-malam keluar dari kamar nona yang baru datang tadi itu? pikir salah satu pelayan yang tidak sengaja melihat bayangan Byantara yang menyelinap keluar dari pintu kamar Anggita dan masuk kembali ke kamarnya dengan cepat!
**********
"Ada apa kau datang ke sini, Sam? Apakah kau sudah mau kembali ke New Zealand?" tanya Theo ketika membuka pintu apartemen nya menemukan Samuel yang berdiri di depannya.
"Tidak! ada sesuatu yang harus ku lakukan dulu sebelum kembali ke New Zealand!" sahut Samuel yang langsung melangkah masuk ke dalam apartemen Theo dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
Theo pun segera menutup pintu apartemennya, melangkah masuk dan duduk di hadapan Samuel.
"Memang apa yang mau kau lakukan di Indonesia? Katakan saja pada ku, siapa tahu aku bisa membantu mu!" tawar Theo.
"Benarkah kau mau membantu ku?" tanya Samuel dengan serius.
"Kalau sanggup pasti ku bantu Sam, kau kan teman baik ku!" sahut Theo.
"Sebaiknya kau lupakan saja Gita. Untuk apa kau mencarinya? Nanti nenek mu bisa marah kalau tahu aku malah membantu mu berhubungan dengan Anggita kembali!" tolak Theo.
"Itu urusan ku Theo! Kau cukup katakan sekarang Anggita berada di mana? Itu sudah cukup membantu ku. Please Theo!" mohon Samuel.
"Buat apa kau mencarinya? Percuma Sam, dia sudah kembali ke keluarga Darmawan. Kau tidak tahu hubungan rumit yang dimiliki Anggita dengan keluarga Darmawan. Percayalah pada ku, kau hanya akan sia-sia dan kecewa Sam!" ujar Theo mempengaruhi Samuel.
"Sebelum mencoba pantang bagi ku buat menyerah Theo. Apalagi aku yakin sekali kalau Anggita juga memiliki perasaan yang sama pada ku!" ujar Samuel dengan yakin.
"Gita sudah kembali ke Mansion Darmawan, ke tempat Byantara. Sebaiknya kau sudahi obsesi mu Sam! Di Mansion mu saja sulit buat mu mendekati Gita, apalagi kini dia sudah kembali ke asalnya!" ujar Theo menghela nafas kesal karena Samuel yang keras kepala.
__ADS_1
"Kata siapa? Gita sudah menerima perasaan ku, aku khawatir kalau Gita kembali ke sana karena suatu paksaan. Aku harus memastikannya! Aku harus bertemu dengan Gita! Terimakasih kau sudah memberitahukan aku keberadaan Gita!" ujar Samuel semangat.
Samuel tidak tahu kalau ucapannya itu sudah membuat Theo khawatir kalau Anggita akan mengikuti Samuel. Samuel juga tidak tahu kalau Anggita kembali demi Theo yang ternyata hanya bersandiwara saja dengan Byantara, karena Theo merasa cemburu dengan Samuel yang berhasil mendapatkan hati Anggita. Samuel sudah menceritakan masalahnya pada orang yang salah, orang yang dipikirnya adalah teman baiknya dan pasti akan membantunya.
"Byan, kau harus lebih memperhatikan Anggita! Jangan sampai Anggita dibawa pergi Samuel! Kalau Anggita dibawa, sudah pasti anak mu Benji dibawa juga! Samuel hendak bertemu dengan Anggita! Kau lebih berhati-hati" lapor Theo pada Byantara lewat telpon.
Theo memang memilih memihak Byantara karena setahunya Byantara tidak mencintai Anggita. Byantara hanya menginginkan Benji, anaknya saja. Karena berkali-kali Byantara selalu beralasan membawa Anggita untuk kembali ke Mansion nya hanya demi menyenangkan ibunya saja. Bahkan Anggita sendiri yang bercerita pada Theo mengenai janji Byantara.
"Mas Theo jangan merasa bersalah terus, aku gak apa-apa tinggal di sana. Mas Byan sudah berjanji pada ku kalau saat nanti dia memiliki anak dengan Sella, aku boleh pergi dari sana. Jadi ini hanya sementara saja mas, hanya demi menyenangkan hati ibu. Hitung-hitung aku membalas budi ibu" ujar Anggita menenangkan Theo, saat Theo meminta maaf pada Anggita dan menyatakan penyesalannya karena demi dia Anggita harus berkorban.
Karena itulah Theo memihak Byantara, Theo tidak ingin Anggita diambil Samuel. Kalau sampai terjadi, dia sama sekali tidak ada kesempatan lagi untuk memiliki Anggita.
Sayangnya Theo sudah salah, Theo tidak tahu kalau perasaan Byantara terhadap Anggita juga bisa berubah!
*********
Kembali ke kamar, Byantara berusaha menenangkan degup jantungnya yang bertalu-talu. Tampak Sella yang sudah tertidur dengan pakaian lumayan menantang dan sama sekali tidak berselimut. Byantara cukup merasa heran dengan Sella yang bisa begitu tahan dingin dengan hawa kamarnya yang dingin karena AC.
Byantara tentu tidak tahu kalau Sella hanya memancingnya saja, Sella memang sengaja berpakaian sexy agar Byantara tertarik padanya, Sella mulai takut kehilangan Byantara dengan kehadiran Anggita. Saat mendengar pintu yang dibuka dari depan, Sella segera menendang selimut yang menutupi tubuhnya dan segera berpose menantang dengan berlagak tidur. Walau lewat pintu depan, Sella yakin kalau itu adalah Byantara, karena tidak ada yang berani masuk ke kamar mereka tanpa mengetuk pintu.
Byantara! Ayo jernihkan otak mu dan jangan berpikir macam-macam! ujar Byantara pada dirinya sendiri, ketika terbayang pemandangan indah yang sempat dia lihat di kamar sebelah. Bahkan kini terbayang terus Anggita yang sepertinya sedang menari-nari menggodanya.
Byantara akhirnya memilih ke kamar mandi dan mandi air dingin untuk memadamkan hasratnya dan membuang pikiran kotornya.
Melihat Byantara yang ke kamar mandi, Sella tersenyum puas.
Cih! Masih jual mahal dia, dia sudah gak tahan lihat aku, tapi masih saja sombong. Mau ku lihat bisa berapa lama kau bisa bertahan pada naf*su mu Byan? pikir Sella yang mengira Byantara sebenarnya sudah tergoda dengan keseksian tubuhnya, apalagi Byantara berada dalam kamar mandi lumayan lama.
__ADS_1
Sial aku udah gak tahan sama hawa dinginnya lagi, besok-besok baru ku lanjut menggoda Byan lagi! gerutu Sella dalam hati, mau tidak mau menarik selimut membungkus tubuhnya yang kedinginan!
Bersambung...........