Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 19


__ADS_3

Marco sudah kembali lebih dulu, dia duduk di meja makan menunggu ke dua orangtuanya kembali dari rumah yang tadi dilihatnya. Tak lama kedua orangtuanya datang dengan tersenyum lebar. Mereka seperti bahagia setelah menghabiskan waktu bersama kedua wanita itu.


"Mah, Pah dari mana kalian? Apa sekarang kalian juga menghindari ku saat makan dan tidak mau makan bersamaku?" tanya Marco. Pertanyaannya itu membuat senyum di wajah kedua orangtuanya menghilang. Dan hal itu membuat Marco miris karena kedua orangtuanya lebih membela orang luar.


"Makan sarapanmu nak, kami akan naik udah membersihkan diri," Gerry selalu menjaga perasaan istrinya agar tidak bertengkar lagi dengan putra mereka.


"Mah, Pah! Kenapa kalian lebih membela orang luar dari pada anak kalian sendiri. Aku sudah mencoba menuruti mau kalian untuk menikahi wanita itu lalu kalian seenaknya membatalkan pernikahan itu dan aku pun menuruti mau kalian. Kenapa kalian bersikap seperti ini padaku dan lihat wanita itu bahkan sekarang berhasil membuat mamah bersimpati padanya dan membelikan rumah untuknya. Sebentar lagi sepertinya dia akan meminta papah untuk menyerahkan seluruh aset papah."


Ayunda yang sejak tadi tidak ingin berdebat dengan putranya sudah menahannya tapi perkataan sang putra yang selalu berpikir buruk pada Mishel membuat Ayunda tidak bisa menerima nya.


"Ya, kamu benar nak. Mamah bahkan ingin memberikan apa yang mamah punya untuk Mishel dan calon cucu mamah. Sebagai ganti atas apa yang sudah kamu lakukan padanya. Kamu sudah membuat hidup seorang gadis berantakan, kamu membuat dia mendapat cacian dan hinaan. Apa kamu kira harta kita bisa menggantikan semua penderitaan yang dia alami karena perbuatan mu!" ujar Ayunda penuh emosi. Nafasnya sampai naik turun.


"Mamah sudah membebaskan mu dari tanggung jawab yang membuat kamu tersiksa kan. Jadi mamah mohon tidak perlu kamu mengurusi apa yang mamah dan papah lakukan untuk mereka. Kami hanya ingin menjaga mereka dan rumah itu tidak kami beli. Kami hanya menyewanya untuk tempat tinggal mereka sementara. Tentu saja mamah ingin sekali membelikan rumah itu untuk Mishel tapi dia menolak. Tapi setelah anaknya lahir nanti mamah tetap akan membelikannya untuk cucu mamah nanti. Bahkan mamah akan memberikan seluruh aset milik mamah pada nya kelak."


Setelah mengatakan hal itu, Ayunda pergi dari sana.


"Mah ...." Marco berusaha memanggil dan mengejar mamahnya tapi sang papah menghalangi nya.

__ADS_1


"Biarkan mamahmu, kamu habiskan saja sarapan mu." Gerry menepuk pundak putranya lalu berbalik hendak menyusul sang istri yang pasti tidak sedang baik-baik saja.


"Pah ... apa aku salah, aku hanya ragu jika janin itu benar milikku tapi kenapa mamah sangat yakin. Dan aku juga mau bertanggungjawab. Pah, aku tidak mau kehilangan mamah yang seperti kemarin. Pah aku—"


Gerry mengangkat tangannya. "Kamu sudah terlalu membuat mamahmu kecewa, kamu juga tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk menebus kesalahanmu. Kamu kenapa sangat yakin jika janin itu bukan milikmu. Kamu akan menyesal jika dia benar anakmu nak."


"Kalau memang benar anakku tentu saja aku akan bertanggungjawab dan menanggung biaya hidupnya, mencukupi kebutuhannya dan memberikan dia kehidupan yang layak," ujar Marco.


Gerry menggelengkan kepalanya. "Bukan tentang uang nak, tidak semua bisa diselesaikan dengan uang. Kamu akan mengerti nanti. Cobalah pikirkan lagi baik-baik, dan sebaiknya kamu tidak perlu lagi ikut campur mamahmu dalam menangani masalah ini karena dia sudah tidak merepotkan mu. Kamu bisa bersenang-senang seperti biasa karena papah juga tidak akan melarang mu melakukan kebiasaan mu itu."


...


Lima bulan berlalu, kehidupan mereka masih sama seperti sebelumnya. Hubungan anak dan kedua orangtuanya itu masih belum membaik seperti semula. Ayunda seperti lebih menjaga jarak dengan sang putra dan dia juga lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mishel yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.


Ayunda pernah berkata, mungkin Mishel tidak ditakdirkan menjadi menantunya tapi dia sudah menjadi putrinya. Ayunda akan selalu menganggap Mishel putrinya apapun yang terjadi.


Keadaan Mishel juga sudah jauh lebih baik, dia melewati trisemester pertama yang berat dan sekarang dia sudah bisa menikmatinya.

__ADS_1


"Nak, kau mau buah. Biar mamah kupaskan untukmu," ujar Ayunda, dia benar-benar memanjakan Mishel. Dia juga sangat antusias saat mengetahui perkembangan calon cucunya yang beberapa bulan lagi akan terlahir ke dunia ini. Dia sungguh tidak sabar hari itu tiba.


Mishel pun merasakan energi positif yang selalu dibawa mamah dan papah barunya dan orang-orang sekitar. Di lingkungan ini dia lebih nyaman karena orang-orang tidak ada yang terlalu ingin tau urusan orang lain. Namun, Mishel juga tau satu hal kalau hubungan mamah Ayunda dan putranya tidak baik-baik saja. Dia selalu merasa bersalah karena hal ini. Mishel merasa kalau semua karena dirinya.


"Mah, maafkanlah putra mamah karena aku juga sudah memaafkannya."


"Kamu itu bilang apa nak. Mamah tidak sedang memikirkan Marco." Ayunda mengelak padahal Mishel tau di balik senyumnya dia menyimpan luka. Pasti sangat tersiksa karena hubungan mereka yang tak kunjung membaik.


"Mah, dia pasti sedih dan tersiksa melihat mamahnya sendiri menjauhinya. Mah, kita lupakan semuanya ya dan mulai menata hidup baru. Suatu saat putra mamah pasti akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dari ku. Aku juga sudah cukup bahagia seperti ini. Ada ibu, mamah dan papah yang menyayangi ku. Aku sudah sangat bersyukur dan sebentar lagi sumber kebahagiaan ku juga akan lahir ke dunia ini." Mishel menggenggam tangan sang mamah. Wanita yang begitu baik dari saat mereka pertama bertemu.


"Nak, Marco ... dia ... sudah membuat kamu begini, kenapa kamu masih memaafkannya dan membelanya. Biarkan saja dia hidup kesepian."


"Itu tidak akan berhasil Mah, semakin mamah menjauh akan semakin membuat dia kesal dan marah. Apalagi menyadari kesalahannya. Aku juga sudah melupakan hari itu, aku sudah cukup berdamai dengan keadaan."


"Nak ...." Ayunda memeluk putrinya. Beruntung dia bertemu dengan Mishel yang begitu baik. "Ibu kamu sangat beruntung memiliki putri seperti mu, nak. Dan aku juga beruntung karena sekarang juga menjadi mamahmu."


Di tempat lain, Fira melihat mereka. Dia ikut terharu melihat kedekatan mereka. Setidaknya saat waktunya tiba nanti dia tidak akan terlalu khawatir.

__ADS_1


__ADS_2