Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 9


__ADS_3

Ibu Ayunda memaku setelah mendengar cerita dari Mishel, gadis itu menceritakan jika sang putra telah merenggut mahkotanya dengan paksa dan kini ia sedang mengandung. Ibu mana yang tidak kecewa mendengar hal seperti itu, putra yang ia kira begitu baik dan penurut itu mungkinkah melakukan hal seperti itu pada seorang gadis yang terlihat tidak berdaya itu.


Melihat gadis itu dan ibunya menangis membuat ibu Ayunda bingung harus bagaimana. Dia sudah menghubungi suaminya untuk pulang karena dia dilanda kebingungan saat ini. Ya tentu dia akan menyuruh putranya untuk bertanggung jawab tapi saat ini dia butuh suaminya untuk minta penjelasan. Suaminya itu pasti tau sesuatu tentang putra mereka kan.


Sementara itu, Mishel pun ketakutan saat ini dia takut mereka tidak percaya dengan apa yang ia ceritakan lalu bagaimana nasibnya. Atau mungkin mereka akan memintanya untuk menggugurkan kandungannya.


"Tenang nak, ada ibu bersamamu." Ibu Fira mengerti kegelisahan putrinya saat ini. Apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti putrinya. Tapi dia yakin kalau wanita di depannya juga seorang ibu pasti paham dengan situasi ini.


Tak berselang lama. Tuan Gerry pun datang, dia yang tadi sedang bermain golf dengan temannya segera bergegas pulang setelah mendengar kabar dari kepala pelayan. Bukan sang istri yang meneleponnya tapi kepala pelayan yang menjelaskan apa yang sedang terjadi di rumah. Memang ini bukan pertama kalinya ada seorang wanita yang meminta pertanggungjawaban atas pada putranya tapi biasanya mereka mencari putranya di perusahaan jadi sang istri tidak pernah tau. Itupun para wanita itu hanya mengincar uang saja, karena sang putra selalu bisa membuktikan jika dia menggunakan pengaman.


Lalu siapa wanita yang datang ke rumah kali ini. Kalau sampai dia bohong hanya untuk mengincar uang, tidak akan dia maafkan jika sampai membuat istrinya sedih karena mengetahui kelakuan putranya.


Tuan Gerry segera turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Dia langsung menemui istrinya yang ternyata sedang bersama beberapa orang. Pandangan laki-laki itu melihat seorang gadis muda yang sedang menangis, ia menduga dialah wanita yang sedang coba meminta pertanggungjawaban.


"Sayang." Tuan Gerry mendatangi istrinya yang terlihat sangat kacau. Dia pasti sangat kecewa pada sang putra.

__ADS_1


"Yah ... kau sudah mendengarnya kan. Apa kau tau kalau selama ini kelakuan putra kita seperti binatang. Dia memperlakukan wanita seperti itu, apa namanya jika tidak seperti binatang!" ujar Ayunda penuh amarah. Dia selalu mengajarkan putranya untuk menghormati wanita tapi apa sekarang.


"Sayang, tenanglah. Ayo duduk dulu. Biarkan aku bicara pada mereka," ujar Gerry pada istrinya yang tengah tersulut emosi.


"Perkenalkan saya adalah Ayah dari Marco. Jadi apa saya bisa mendengar apa yang terjadi dan ada kalian memiliki bukti. Aku dengar seseorang sedang mengandung anak putraku. Apa kalian punya buktinya jika anak saya telah menghamili gadis itu?" tanya Gerry.


Pertanyaan itu tentu saja membuat Mishel menciut. Pasalnya dia sama sekali tidak memiliki bukti apapun saat malam kejadian itu. Mungkin ada cctv yang merekam saat pria itu sedang menyeretnya ke kamar tapi dia tidak mempunyai kekuasaan. Mana mungkin dia bisa meminta rekaman cctv sembarangan. Mishel hanya bisa meremat ujung tok yang dia pakai sambil menunduk.


"Maafkan kami Tuan, kami memang tidak memiliki bukti tapi saya yakin dan percaya kalau putri saja tidak berbohong," jawab Ibu Fira yakin dengan putrinya.


"Cihhh, bisa saja gadis itu salah lihat." Nyonya Winda masih tidak terima jika pria yang menghamili putri tetangganya adalah anak konglomerat.


Gerry juga bisa melihat jika gadis itu begitu polos, tidak seperti wanita-wanita yang pernah datang ke perusahaan. Kenapa putranya bisa menodai wanita sebaik itu.


"Mas, aku percaya pada gadis itu," ujar Ayunda tiba-tiba. Dia melihat sendiri kejujuran di mata gadis itu saat menceritakan kejadian yang menimpanya. Sebagai seorang perempuan dia bisa merasakannya.

__ADS_1


Gerry pun mengangguk mengerti dia tau harus bagaimana sekarang. Dia akan menyelidikinya bukan karena tidak percaya tapi agar putranya tidak mengelak lagi dari tanggungjawab. Bagaimanapun jika itu benar maka berarti gadis itu sedang mengandung calon cucunya.


"Baiklah, kami akan membicarakan hal ini dengan putra kami terlebih dahulu. Kami akan memastikan putra kami bertanggung jawab atas perbuatannya."


Mishel mengangkat kepalanya terharu, tidak menyangka jika mereka percaya begitu saja. Dia pikir pasti mereka akan diusir di tuduh yang tidak-tidak.


"Terimakasih Tuan, Nyonya. Kami minta maaf jika kehadiran kami membuat kalian terkejut."


"Tidak apa-apa ibu, saya juga seorang ibu. Saya tau bagaimana perasaan ibu saat ini. Saya akan pastikan sendiri putra saya akan bertanggungjawab dan saya mohon maaf sekali atas perbuatan putra saya. Saya yang telah gagal menjadi ibu, tidak bisa mendidik putra saya dengan baik." Ayunda tidak menyangka putranya tega melakukan hal seperti itu.


Ibu Fira lega karena ternyata mereka ternyata begitu baik. Meski dia sangat marah pada putra mereka tapi melihat orangtuanya yang sangat baik mana membuat ibu Fira tidak tega.


"Nyonya jangan mengatakan hal seperti itu, saya yakin Nyonya sudah melakukan yang terbaik. Itu semua di luar kendali Nyonya." Mereka pun saling memeluk.


Ayunda juga tak memeluk Mishel cukup lama. Dia bisa merasakan gadis itu baik dan tulus.

__ADS_1


"Maafkan putri ibu ya nak," ujarnya sambil mengusap lelehan air mata di pipi Mishel.


Mishel mengangguk, sekali lagi dia sangat terharu karena diperlukan sangat baik oleh perempuan itu.


__ADS_2