
Samuel memang sedang menyendiri untuk menenangkan diri, mengusir rasa kecewa dan memikirkan cara untuk bertemu dan mempengaruhi Anggita lagi.
Villa yang berbentuk pondok-pondok kecil yang dipilih Samuel paling ujung dan agak menjorok ke dalam dibanding pondok yang lain. Mungkin karena ini hari biasa dan bukan liburan, jadi pondok sekitarnya terlihat sepi dan banyak yang kosong. Samuel duduk di teras pondok sambil menyeruput kopi yang baru dia beli saat keluar tadi.
Samuel kembali melihat mobil hitam yang tadi ditemuinya. Sepertinya pria itu juga sedang menginap di pondok. Entah mengapa Samuel yang sedang santai jadi tertarik memperhatikan apa yang dilakukan pria itu. Tapi jarak pondok pria itu cukup jauh, namun Samuel masih bisa melihat apa yang dilakukan pria itu. Sedang Raka, pria itu tidak bisa melihat Samuel karena Samuel duduk di teras yang agak menjorok ke dalam.
Tidak lama kemudian, setelah keluar dari kemudinya, Raka menuju ke pondok yang dia sewa dan membuka pintu pondok itu lebar-lebar agar memudahkan dia masuk saat menggendong Anggita.
Setelah itu Raka menuju ke tempat mobilnya diparkirkan, membuka pintu belakang mobil dan mengangkat Anggita untuk masuk ke Pondok yang dia sewa. Untuk keamanan, Raka mengatur agar rambut tebal Anggita menutupi wajah Anggita sendiri untuk menghindari kecurigaan, karena mulut Anggita masih diikat kain. Raka tentu tidak menyangka sepasang mata sedang memperhatikannya, karena tadi saat dia memperhatikan sekitarnya tidak ada seorang pun.
*********
Samuel sempat merasa aneh ketika melihat Raka menggendong seorang wanita keluar dari mobil. Samuel menajamkan penglihatannya tapi dia hanya melihat rambut tebal dan panjang wanita yang digendong itu menutupi wajah perempuan itu, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.
Melihat wanita dengan rambut tebal, panjang dan hitam, tiba-tiba wajah Anggita yang dirindukannya itu hadir lagi di pikiran Samuel, membuat Samuel tidak memperhatikan Raka lagi, sehingga Samuel tidak melihat kaki Anggita yang sebetulnya masih terikat itu!
**********
Byantara terus berdoa dalam hati agar dia bisa berhasil menyelamatkan Anggita. Segala usaha sudah Byantara lakukan. Byantara sudah meningkatkan kecepatan mobilnya di atas rata-rata jalan yang dia lewati, bahkan Byantara beberapa kali menerobos lampu merah.
Hati Byantara benar-benar tidak tenang, apalagi teringat mimpi yang dia alami, belum lagi telpon dari Theo yang memberitahukan padanya kalau Anggita diculik dan hendak dinodai. Entah Theo tahu dari mana informasi itu, tapi Byantara yakin kalau informasi dari Theo bisa dipercaya.
Untungnya dari tadi titik handphone Anggita masih berjalan terus, jadi Byantara berpikir setidaknya Anggita masih dalam keadaan aman. Tapi ketika posisi Byantara semakin mendekati titik itu, tiba-tiba saja titik itu berhenti. Byantara kembali harus merasa khawatir, entah apa yang akan dilakukan penculik itu pada Anggita karena titik yang dia ikuti sudah tidak bergerak lagi.
Ini sudah dekat, aku harus cepat menemukan Gita, sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Gita! putus Byantara memarkir mobilnya dan turun mencari keberadaan Anggita, karena posisinya sudah dekat.
__ADS_1
Tapi Byantara bingung ketika melihat di depannya terdapat Villa yang dibangun pondok-pondok kecil dalam jumlah yang banyak. dia melihat hanya ada empat mobil yang berada di tempat parkir. Ketika semakin dekat dengan mobil berwarna hitam, alarm sinyal menunjukkan kalau Byantara semakin mendekati posisi handphone Anggita. Dan Byantara yakin kalau sinyal handphone Anggita berasal dalam mobil hitam itu. Akhirnya Byantara mendekatkan wajahnya ke kaca jendela mobil yang gelap itu untuk mengintip isi mobil hitam itu.
**********
Samuel merasa kaget ketika dia kembali melayangkan pandangannya ke arah mobil hitam itu. Samuel menjadi kaget ketika melihat seorang pria mengintip ke kaca jendela mobil hitam itu, dan yang membuatnya kaget adalah dia mengenali kalau pria itu adalah Byantara. Dan lebih meyakinkan lagi ketika melihat mobil limited edition yang cukup dia kenal itu terparkir di sana juga, jadi dapat dipastikan dia tidak salah mengenali Byantara
Apa yang dilakukan Byantara di tempat seperti ini? Pasti ada yang tidak beres! pikir Samuel yang tiba-tiba teringat dengan perempuan yang digendong pria kasar yang mencurigakan itu. Tiba-tiba Samuel merasa jantungnya berdebar kencang.
Jangan-jangan tadi itu Gita! pikir Samuel yang langsung bangun dari duduknya dan segera berjalan ke pondok itu juga untuk memastikan. Samuel semakin merasa kalau perempuan yang digendong pria tadi itu, rambutnya begitu mirip dengan Anggita.
**********
"Kau sedang mencari apa Tuan Byantara?" tanya Samuel yang mengagetkan Byantara yamg langsung menengok ke belakang.
"Bagaimana kau bisa berada di sini, Samuel?" tanya Byantara curiga.
"Aku mencari Anggita! Anggita diculik orang jahat!" ujar Byantara
Kalau bukan sedang mencari keberadaan Anggita, Byantara sudah pasti tidak akan menjawab Samuel.
"Jangan-jangan perempuan yang ku lihat digendong oleh seorang pria kasar itu adalah Anggita!" ujar Samuel kaget.
"Beritahu aku, di kamar mana Anggita dibawa?" tanya Byantara sambil mengepalkan tangannya cemas.
"Ayo! Kau ikut aku Tuan Byantara!" ujar Samuel yang langsung melangkah lebar ke pondok yang tadi dituju Raka. Byantara segera mengekor dari belakang.
__ADS_1
**********
"Emmm..emmm!" Anggita berusaha berteriak meminta tolong, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, karena diikat dan disumpal Raka.
"Ha-ha-ha, aku akan melepaskan mu setelah kita bersenang-senang! Kau jangan khawatir, aku akan membuat kau senang dan ketagihan!" ujar Raka tertawa lebar dan mendekati Anggita. Raka langsung membuka kaos yang menempel di tubuhnya yang seperti roti sobek itu, tapi tubuh itu dipenuhi banyak goresan luka.
Anggita semakin ketakutan dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap Raka berubah pikiran. Anggita berjuang memundurkan tubuhnya ke belakang, Raka hanya menyaksikan perbuatan Anggita dengan tersenyum senang. Raka merasa semakin tertantang ketika melihat Anggita yang ketakutan padanya.
Raka melipat tangannya di dada dan memperhatikan Anggita yang terus mundur dan pada akhirnya mentok di ujung tempat tidur. Raka langsung menyeringai senang dan menghampiri Anggita yang sudah tidak bisa mundur lagi.
"Kau cantik sekali bidadari ku, jangan nangis dong, Kita kan mau bersenang-senang!" ujar Raka menggunakan jarinya menghapus air mata Anggita yang keluar karena ketakutan. Anggita langsung membuang wajahnya ke samping menghindari sentuhan Raka.
Raka yang sudah terbakar gai*rah, tambah penasaran ketika melihat Anggita membuang muka menghindarinya. Raka langsung menarik baju Anggita dengan kasar sehingga memperlihatkan bahu mulus Anggita yang membuat Raka tidak bisa menahan naf*su yang sudah dia tahan sejak tadi. Dengan rakus Raka langsung mengecup bahu itu, meninggalkan cap bibirnya dan tertawa senang ke arah Anggita.
"Mau lagi capnya?" tanya Raka menakuti Anggita.
Anggita menggeleng-gelengkan kepalanya semakin ketakutan. Saat Anggita benar-benar sudah putus asa bagaimana dia bisa melawan dengan kaki dan tangan terikat, tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan didobrak.
Setelah perceraian dengan Byantara, Anggita selalu berusaha menghindari untuk bertemu Byantara. Baru hari ini dia merasa begitu senang ketika melihat Byantara berdiri di depan pintu.
Tampak wajah murka Byantara yang langsung melangkah cepat mendekati Raka dan menarik Raka hingga jatuh ke lantai. Raka yang tidak menyangka, tidak sempat melawan. Byantara berada di atas tubuh Raka dan memukul wajah Raka berkali-kali dengan geram.
Sementara Samuel segera menutup bagian tubuh Anggita yang terbuka dengan selimut, setelah itu mulai membuka ikatan pada tubuh Anggita.
Byantara tidak menyangka kalau Raka yang sudah sering keluar masuk penjara itu selalu menyiapkan senjata di tubuhnya. Raka mengambil pisau lipat di belakang celananya, dan langsung menusuk ke arah perut Byantara agar dia bisa lari.
__ADS_1
Bersambung ..............