Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 7


__ADS_3

Tubuh Mishel gemetar ketakutan saat dia menapakkan kakinya turun dari mobil taksi yang


dia tumpangi. Dia bersembunyi di belakang ibunya untuk berlindung entah dari


apa tapi dia merasa kalau sekarang semua mata orang-orang itu tertuju padanya.


Tatapan tajam mereka sangat tajam serasa menghunus jantung Mishel saat ini seakan


bersiap mengulitinya saat ini juga. Tapi mengapa dan apa alasannya yang membuat


mereka seperti itu.


“Maaf sebelumnya, kalau boleh tau apa yang membuat kalian berkumpul di depan rumah


kami?” tanya ibu Fira pada para tetangganya yang menghadang dia dan putrinya di


depan rumah mereka.


Salah satu orang tua yang di hormati di daerah itu maju ke depan untuk menyampaikan


maksud dan tujuan mereka datang ke sana.


“Begini Bu Fira, kami datang ke mari untuk menanyakan kabar yang berhembus di telinga warga mengenai putri bu Fira,” ujar Tuan Simon bertanya dengan sopan.


Tubuh Mishel semakin gemetar mendengar perkataan laki-laki itu yang katanya mau


bertanya tentang dirinya. Apa mungkin mereka semua sudah tau tentang


kehamilannya.


“Ibu, bagaimana ini?” bisik Mishel dengan suara pelan dan bergetar.


Ibu Fira menenangkan putrinya dengan mengusap tangan yang memegangi lengannya. Percaya


pada ibu nak, tidak ada yang perlu di takuti.


“Mohon maaf tuan, bagaimana kalau kita bicara di dalam saja. Putriku baru saja keluar


dari rumah sakit dan tubuhnya masih sedikit lemah,” ujar ibu Fira meminta


pengertian.


Mereka pun mau meski awalnya para ibu-ibu tidak setuju karena tidak sabar menunggu


jawaban serta penjelasan dari anak dan ibu yang selama ini tinggal tanpa sosok


laki-laki di rumah mereka. Untungnya mereka masih punya hati dan membiarkan


mereka memasuki rumah kecil itu.


Sekarang sudah duduk di ruang tamu, Mishel, ibunya dan tiga orang perwakilan dari warga.


Mereka ingin tau apa berita tentang kehamilan Mishel itu benar sedangkan yang


mereka tau, gadis itu belum memiliki suami. Apa kabar jika selama ini dia menjajakan


tubuhnya itu benar adanya yang membuat dia hamil entah anak siapa.


“Ibu Fira, apa sekarang anda sudah bisa menjelaskan tentang putri anda pada kami di


sini. Apa benar jika putri anda saat ini sedang hamil kerena setau kami, Mishel


belum menikah.” Tidak ada basa-basi seperti tadi, bukan Tuan Simon yang


bertanya melainkan istrinya yang juga di hormati warga. Terlihat sang suami


menahan istrinya agar tidak berbicara lebih jauh lagi.


Ibu Fira menghela nafas, sebetulnya dia tidak ingin membicarakan apa yang terjadi


dengan putrinya pada orang-orang karena belum tentu mereka bisa mengerti apa


yang dialami sang putri. Mereka bisa saja tidak percaya dan menuduh putrinya


yang bukan-bukan.


Sementara Mishel juga sejak tadi menunduk dan tidak berani mengangkat kepala, rasanya dia

__ADS_1


sangat malu dan juga sedih karena harus menanggung semua ini. Dia kan korban


lalu kenapa dia yang justru menderita sekarang. Bagaimana dengan laki-laki yang


sudah membuatnya mengandung benihnya, akankah dia pernah sedikit saja merasa


bersalah. Mishel menarik ujung baju ibunya sambil menggeleng lemah agar sang


ibu tidak menceritakan hal memalukan itu.


Namun tidak mungkin juga Ibu Fira menyembunyikannya karena mereka pasti sudah


mengetahui berita ini dari orang yang sudah tau.


“Betul apa yang dikatakan Nyonya Winda, putri saya memang saat ini sedang mengandung.


Dia memang belum menikah saat ini—”


“Jadi benar kan kalau si Mishel ini perempuan tidak benar, aku dan semua warga sudah curiga


karena sering melihatnya pulang malam atau dini hari. Benar kan kalau selama


ini putri bu Fira itu menjual diri.” Perkataan Nyonya Winda sungguh sangat


kasar, menuduh tanpa mendengarkan penjelasan yang belum sempat Bu Fira katakana


pada mereka. “Tunggu apa lagi Pah, usir saja mereka dari sini,” lanjutnya


memancing warga yang lain untuk memihaknya.


“Iya benar, usir saja mereka dari sini! Jangan sampai dia mencemari lingkungan kita


karena perbuatannya.” Mereka mulai terpancing.


“Tenang dulu ibu-ibu, biarkan ibu Fira menjelaskan apa yang terjadi. Kita tidak boleh


menghakimi mereka sebelum mendengar penjelasannya.” Tuan Simon menenangkan


mereka semua. Utungnya berhasil dan suasana di sana Kembali tenang.


Cairan bening itu pun sudah membasahi pipi Mishel mendengar hinaan dari mereka semua,


“Anak saya memang hamil tapi saya bisa jamin kalau selama ini dia tidak melakukan


seperti yang ibu-ibu katakana. Mishel memang sering pulang larut malam tapi


karena dia bekerja. Temannya sering memintanya untuk menggantikan tugasnya jika


tidak bisa berangkat dengan bayaran yang cukup banyak jadi Mishel pun hanya menolong,”


seru Ibu Fira membela putrinya.


“Bohong! Lalu bagaimana dia bisa hamil kalau dia tidak menjual tubuhnya?”


“Mishel putriku telah menjadi korban p3m3rk0sa*n oleh lelaki yang tidak bertanggung


jawab. Dia juga tidak menginginkan janin ini hadir dalam hidupnya karena


kejadian itu. Putri saya hanya korban, dia tidak menginginkan semua ini terjadi,


saya mohon kalian mau mengerti keadaan putri saya.” Ibu Fira sampai bergetar


suaranya menjelaskan peristiwa mengenaskan yang terjadi pada putrinya.


“Apa buktinya kalau dia diperk*sa. Bisa saja kalian mau berbohong agar kami tidak


mengusir kalian kan. Kalau memang dia korban kenapa dia tidak melaporkan hal


itu pada kantor polisi?”


“Putri saya ketakutan saat itu, dia bahkan tidak menceritakannya pada saya.”


“Halaah kalian hanya mau berdalih kan, apapun itu putri bu Fira tetap berdosa dan sekarang


bahkan mengandung anak haram dari hubungan itu jadi lebih baik angkat kaki dari


sini saja sebelum lingkungan kami tercemar karena perbuatan tercela itu.” Mereka

__ADS_1


sama sekali tidak mau mendengarkan, justru makin menjadi meminta mereka pergi


dari sana.


Mishel makin takut saat semua orang berteriak menyuruhnya untuk pindah dari sana. Dia


takut kalau mereka nekat menghukumnya karena hal itu.


“Kami mohon ijinkan kami tinggal di sini, kami tidak tau mau kemana jika harus pergi


dari sini. Putri saya hanya korban, dia tidak dengan sengaja melakukannya. Tuan


Simon, kami mohon ijinkan kami tetap tinggal di sini,” ujar ibu Fira memohon


dengan berlinang air mata, harus bagaimana dia menjelaskan kalau putrinya tidak


bersalah.


“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya sekalian, saya mohon ijinkan kami tinggal di sini. Kami tidak


punya keluarga atau sanak saudara, hanya rumah ini tempat kami bernaung. Kalau


memang kalian tetap tidak mengijinkan kami, saya mohon biar saya saja yang


pergi tapi ijinkan ibu saya tetap tinggal di sini.” Mishel bersujud di hadapan


mereka. Dia tidak mau ibunya kesulitan karenanya, lebih baik memang dia yang


pergi.


“Tidak nak, mana boleh begitu. Kita akan selalu bersama-sama, ibu tidak akan


meninggalkan atau membiarkan kamu sendirian nak.”


Tuan Simon melihat mereka prihatin, dia tau bagaimana perjuangan Ibu Fira


membesarkan putrinya seorang diri kerena sejak dulu mereka sudah menjadi


tetangga, seharusnya sang istri juga tau tapi entahlah dia selalu merasa ibu


Fira adalah ancaman karena suaminya begitu peduli pada janda dan anaknya itu. Maka


dari itu saat mendengar berita itu dia yang pertama mengompori warga untuk


mengusir mereka dari rumah itu agar suaminya jauh dari keluarga itu yang


menurutnya sangat mengganggu.


“Begini saja, bagaimana kalau nak Mishel menikah saja. Dengan begitu orang-orang tidak


akan berpikir buruk dan anak yang ada di dalam kandungan nak Mishel juga jadi


memiliki seorang ayah.” Tuan Simon memberi saran yang sama sekali tidak disukai


oleh istrinya yang menginginkan mereka pergi dari sana.


“Apaan sih pak. Mau menikah dengan siapa dia, aku yakin dia tidak tau siapa ayah dari


anaknya karena pasti banyak pria yang sudah menidurinya,” ucap Nyonya Winda


dengan kalimat sarkas dan menohok.


Ibu Fira memandang putrinya penuh tanya, karena sampai sekarang dia juga belum tau


siapa pria yang sudah menodai sang putri dengan kejamnya.


“Nak, bagaimana? Jangan takut, ibu ada bersamamu. Ibu akan menemanimu meminta


pertanggungjawaban.”


Mishel tampak pias memikirkan pria itu, apa mungkin pria kaya seperti dia mau


bertanggung jawab. Pasti bukan hanya dirinya yang ia tiduri mengingat bagaimana


dia memperlakukan Mishel seperti Wanita bayaran. Tapi dia tidak punya pilihan


lain, dia juga tidak ingin nasib anaknya akan berakhir seperti dirinya yang tidak

__ADS_1


pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah.


__ADS_2