
Tubuh Mishel gemetar ketakutan saat dia menapakkan kakinya turun dari mobil taksi yang
dia tumpangi. Dia bersembunyi di belakang ibunya untuk berlindung entah dari
apa tapi dia merasa kalau sekarang semua mata orang-orang itu tertuju padanya.
Tatapan tajam mereka sangat tajam serasa menghunus jantung Mishel saat ini seakan
bersiap mengulitinya saat ini juga. Tapi mengapa dan apa alasannya yang membuat
mereka seperti itu.
“Maaf sebelumnya, kalau boleh tau apa yang membuat kalian berkumpul di depan rumah
kami?” tanya ibu Fira pada para tetangganya yang menghadang dia dan putrinya di
depan rumah mereka.
Salah satu orang tua yang di hormati di daerah itu maju ke depan untuk menyampaikan
maksud dan tujuan mereka datang ke sana.
“Begini Bu Fira, kami datang ke mari untuk menanyakan kabar yang berhembus di telinga warga mengenai putri bu Fira,” ujar Tuan Simon bertanya dengan sopan.
Tubuh Mishel semakin gemetar mendengar perkataan laki-laki itu yang katanya mau
bertanya tentang dirinya. Apa mungkin mereka semua sudah tau tentang
kehamilannya.
“Ibu, bagaimana ini?” bisik Mishel dengan suara pelan dan bergetar.
Ibu Fira menenangkan putrinya dengan mengusap tangan yang memegangi lengannya. Percaya
pada ibu nak, tidak ada yang perlu di takuti.
“Mohon maaf tuan, bagaimana kalau kita bicara di dalam saja. Putriku baru saja keluar
dari rumah sakit dan tubuhnya masih sedikit lemah,” ujar ibu Fira meminta
pengertian.
Mereka pun mau meski awalnya para ibu-ibu tidak setuju karena tidak sabar menunggu
jawaban serta penjelasan dari anak dan ibu yang selama ini tinggal tanpa sosok
laki-laki di rumah mereka. Untungnya mereka masih punya hati dan membiarkan
mereka memasuki rumah kecil itu.
Sekarang sudah duduk di ruang tamu, Mishel, ibunya dan tiga orang perwakilan dari warga.
Mereka ingin tau apa berita tentang kehamilan Mishel itu benar sedangkan yang
mereka tau, gadis itu belum memiliki suami. Apa kabar jika selama ini dia menjajakan
tubuhnya itu benar adanya yang membuat dia hamil entah anak siapa.
“Ibu Fira, apa sekarang anda sudah bisa menjelaskan tentang putri anda pada kami di
sini. Apa benar jika putri anda saat ini sedang hamil kerena setau kami, Mishel
belum menikah.” Tidak ada basa-basi seperti tadi, bukan Tuan Simon yang
bertanya melainkan istrinya yang juga di hormati warga. Terlihat sang suami
menahan istrinya agar tidak berbicara lebih jauh lagi.
Ibu Fira menghela nafas, sebetulnya dia tidak ingin membicarakan apa yang terjadi
dengan putrinya pada orang-orang karena belum tentu mereka bisa mengerti apa
yang dialami sang putri. Mereka bisa saja tidak percaya dan menuduh putrinya
yang bukan-bukan.
Sementara Mishel juga sejak tadi menunduk dan tidak berani mengangkat kepala, rasanya dia
__ADS_1
sangat malu dan juga sedih karena harus menanggung semua ini. Dia kan korban
lalu kenapa dia yang justru menderita sekarang. Bagaimana dengan laki-laki yang
sudah membuatnya mengandung benihnya, akankah dia pernah sedikit saja merasa
bersalah. Mishel menarik ujung baju ibunya sambil menggeleng lemah agar sang
ibu tidak menceritakan hal memalukan itu.
Namun tidak mungkin juga Ibu Fira menyembunyikannya karena mereka pasti sudah
mengetahui berita ini dari orang yang sudah tau.
“Betul apa yang dikatakan Nyonya Winda, putri saya memang saat ini sedang mengandung.
Dia memang belum menikah saat ini—”
“Jadi benar kan kalau si Mishel ini perempuan tidak benar, aku dan semua warga sudah curiga
karena sering melihatnya pulang malam atau dini hari. Benar kan kalau selama
ini putri bu Fira itu menjual diri.” Perkataan Nyonya Winda sungguh sangat
kasar, menuduh tanpa mendengarkan penjelasan yang belum sempat Bu Fira katakana
pada mereka. “Tunggu apa lagi Pah, usir saja mereka dari sini,” lanjutnya
memancing warga yang lain untuk memihaknya.
“Iya benar, usir saja mereka dari sini! Jangan sampai dia mencemari lingkungan kita
karena perbuatannya.” Mereka mulai terpancing.
“Tenang dulu ibu-ibu, biarkan ibu Fira menjelaskan apa yang terjadi. Kita tidak boleh
menghakimi mereka sebelum mendengar penjelasannya.” Tuan Simon menenangkan
mereka semua. Utungnya berhasil dan suasana di sana Kembali tenang.
Cairan bening itu pun sudah membasahi pipi Mishel mendengar hinaan dari mereka semua,
“Anak saya memang hamil tapi saya bisa jamin kalau selama ini dia tidak melakukan
seperti yang ibu-ibu katakana. Mishel memang sering pulang larut malam tapi
karena dia bekerja. Temannya sering memintanya untuk menggantikan tugasnya jika
tidak bisa berangkat dengan bayaran yang cukup banyak jadi Mishel pun hanya menolong,”
seru Ibu Fira membela putrinya.
“Bohong! Lalu bagaimana dia bisa hamil kalau dia tidak menjual tubuhnya?”
“Mishel putriku telah menjadi korban p3m3rk0sa*n oleh lelaki yang tidak bertanggung
jawab. Dia juga tidak menginginkan janin ini hadir dalam hidupnya karena
kejadian itu. Putri saya hanya korban, dia tidak menginginkan semua ini terjadi,
saya mohon kalian mau mengerti keadaan putri saya.” Ibu Fira sampai bergetar
suaranya menjelaskan peristiwa mengenaskan yang terjadi pada putrinya.
“Apa buktinya kalau dia diperk*sa. Bisa saja kalian mau berbohong agar kami tidak
mengusir kalian kan. Kalau memang dia korban kenapa dia tidak melaporkan hal
itu pada kantor polisi?”
“Putri saya ketakutan saat itu, dia bahkan tidak menceritakannya pada saya.”
“Halaah kalian hanya mau berdalih kan, apapun itu putri bu Fira tetap berdosa dan sekarang
bahkan mengandung anak haram dari hubungan itu jadi lebih baik angkat kaki dari
sini saja sebelum lingkungan kami tercemar karena perbuatan tercela itu.” Mereka
__ADS_1
sama sekali tidak mau mendengarkan, justru makin menjadi meminta mereka pergi
dari sana.
Mishel makin takut saat semua orang berteriak menyuruhnya untuk pindah dari sana. Dia
takut kalau mereka nekat menghukumnya karena hal itu.
“Kami mohon ijinkan kami tinggal di sini, kami tidak tau mau kemana jika harus pergi
dari sini. Putri saya hanya korban, dia tidak dengan sengaja melakukannya. Tuan
Simon, kami mohon ijinkan kami tetap tinggal di sini,” ujar ibu Fira memohon
dengan berlinang air mata, harus bagaimana dia menjelaskan kalau putrinya tidak
bersalah.
“Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya sekalian, saya mohon ijinkan kami tinggal di sini. Kami tidak
punya keluarga atau sanak saudara, hanya rumah ini tempat kami bernaung. Kalau
memang kalian tetap tidak mengijinkan kami, saya mohon biar saya saja yang
pergi tapi ijinkan ibu saya tetap tinggal di sini.” Mishel bersujud di hadapan
mereka. Dia tidak mau ibunya kesulitan karenanya, lebih baik memang dia yang
pergi.
“Tidak nak, mana boleh begitu. Kita akan selalu bersama-sama, ibu tidak akan
meninggalkan atau membiarkan kamu sendirian nak.”
Tuan Simon melihat mereka prihatin, dia tau bagaimana perjuangan Ibu Fira
membesarkan putrinya seorang diri kerena sejak dulu mereka sudah menjadi
tetangga, seharusnya sang istri juga tau tapi entahlah dia selalu merasa ibu
Fira adalah ancaman karena suaminya begitu peduli pada janda dan anaknya itu. Maka
dari itu saat mendengar berita itu dia yang pertama mengompori warga untuk
mengusir mereka dari rumah itu agar suaminya jauh dari keluarga itu yang
menurutnya sangat mengganggu.
“Begini saja, bagaimana kalau nak Mishel menikah saja. Dengan begitu orang-orang tidak
akan berpikir buruk dan anak yang ada di dalam kandungan nak Mishel juga jadi
memiliki seorang ayah.” Tuan Simon memberi saran yang sama sekali tidak disukai
oleh istrinya yang menginginkan mereka pergi dari sana.
“Apaan sih pak. Mau menikah dengan siapa dia, aku yakin dia tidak tau siapa ayah dari
anaknya karena pasti banyak pria yang sudah menidurinya,” ucap Nyonya Winda
dengan kalimat sarkas dan menohok.
Ibu Fira memandang putrinya penuh tanya, karena sampai sekarang dia juga belum tau
siapa pria yang sudah menodai sang putri dengan kejamnya.
“Nak, bagaimana? Jangan takut, ibu ada bersamamu. Ibu akan menemanimu meminta
pertanggungjawaban.”
Mishel tampak pias memikirkan pria itu, apa mungkin pria kaya seperti dia mau
bertanggung jawab. Pasti bukan hanya dirinya yang ia tiduri mengingat bagaimana
dia memperlakukan Mishel seperti Wanita bayaran. Tapi dia tidak punya pilihan
lain, dia juga tidak ingin nasib anaknya akan berakhir seperti dirinya yang tidak
__ADS_1
pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah.