
Byantara terpaksa melepaskan Anggita, padahal Byantara sudah merasa senang karena Anggita sepertinya pasrah dan menerimanya.
"Tunggu!" ujar Byantara dengan suara berat, sepertinya masih terpengaruh karena acaranya tadi.
"Huh! Sungguh mengganggu!" gerutu Byantara yang masih sempat terdengar oleh Anggita dan akhirnya membuat Anggita tersadar.
Perlahan Byantara melepaskan pelukannya pada pinggang Anggita, Anggita yang mulai sadar dengan kelakuannya tadi menjadi malu dan salah tingkah, bahkan kedua pipinya langsung menghangat.
Anggita akhirnya melampiaskan kekesalannya pada Byantara. Kedua tangan Anggita masih berada di dada Byantara, karena tadi Byantara posisi tubuhnya begitu rapat dengan tubuh Anggita. Dengan kedua tangannya Anggita memukul dada Byantara kesal.
"Dasar manusia ca...!" ucapan Anggita langsung terhenti melihat tatapan mengancam dari Byantara.
"Mas Byan nakal! Huh!" omel Anggita yang segera berlari ke kamarnya melalui pintu tembusan. Sebetulnya Anggita melampiaskan kemarahannya karena merasa malu pada dirinya sendiri.
Byantara hanya tersenyum melihat tingkah Anggita, tanpa sadar dengan jarinya dia menyentuh bibirnya sendiri, sepertinya dia masih merasakan manisnya bibir Anggita. Dengan malas Byantara melangkah ke arah pintu kamarnya.
"Tuan, ada tamu yang mencari Tuan", ujar pelayan itu.
"Siapa? Pak Theo? Sungguh mengganggu! Kan bisa mencari ku ke kantor!" omel Byantara yang masih kesal karena acaranya diganggu. Selama ini yang mencarinya ke rumah hanya Theo. Jadi Byantara menebak kalau Theo yang datang mencarinya setelah tidak menemukannya di kantor.
"Bukan pak, kata pak Heru (penjaga pintu) tamunya Tuan Samuel Tang," sahut pelayan itu segera menunduk, dia menjadi takut karena Byantara sepertinya marah karena merasa terganggu.
Tampak Byantara terdiam dan berpikir.
Mau apa Samuel mencari ku? Pasti berhubungan dengan Gita! Aku harus menemuinya, aku harus menyuruh dia menghentikan kegiatannya mendekati Anggita! Anggita adalah milik ku!
"Di mana tamu nya sekarang?" tanya Byantara.
__ADS_1
"Tuan Samuel tidak mau masuk ke dalam Tuan, dia menunggu Tuan di depan Mansion," sahut sang pelayan.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan turun menemui Tuan Samuel," ujar Byantara sambil mengibaskan tangannya, memberi tanda pada pelayan itu sudah boleh pergi.
"Baik Tuan."
***********
Duh sungguh memalukan! Apa yang tadi sudah aku pikirkan? Mengapa aku membiarkan mas Byan menci*um ku? Bahkan aku ingin tahu seperti apa rasanya dici*um dengan lembut oleh mas Byan! Aku pasti sudah gila! Bukankah aku begitu membencinya? Dasar Gita! Ingat apa yang sudah diperbuat Byantara pada diri mu dulu, kau jangan terjebak di lubang yang sama lagi! Kau jangan kena rayuannya lagi, ujar Anggita pada dirinya sendiri dengan resah.
Mungkin aku dulu tidak tahu sifat mas Byan yang asli, dulu ku pikir dia laki-laki yang dingin dan tidak suka wanita, pasti akan setia. Tapi ternyata mas Byan nakal, bahkan aku sendiri sudah memergoki sendiri dia masih ke kamar Sella walau sudah bercerai! pikir Anggita sambil duduk di depan meja riasnya sambil menatap kosong ke depan cermin. Anggita benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri.
Sebaiknya aku segera ke sekolah Benji saja, biar tidak usah bertemu mas Byantara! Gak pa pa aku menunggu Benji di sekolah, dari pada nanti bertemu mas Byan lagi! Paling yang datang mencarinya di rumah mas Theo, putus Anggita yang segera bangun dari duduknya dan memutuskan lebih cepat ke sekolah Benji untuk menghindari Byantara.
**********
"Biar di sini saja pak, saya hanya sebentar saja dan terburu-buru!" ujar Samuel. Akhirnya sang penjaga pintu tidak memaksa lagi.
Setelah beberapa lama Samuel melihat Byantara yang keluar dari Mansion dan berjalan menghampirinya dengan kedua tangannya berada di saku. Samuel juga berjalan mendekati Byantara, agar sang penjaga pintu tidak mendengar apa yang akan dia dan Byantara bicarakan nanti.
"Ada apa kau mencari ku, Samuel?" tanya Byantara yang sama sekali tidak ramah, begitu Samuel sudah berada di dekatnya. Bagaimana juga Samuel merupakan saingan terberatnya untuk mendapatkan hati Anggita kembali, walaupun dia tahu kalau nenek Tang tidak setuju, tetapi Samuel sepertinya pria yang cukup nekad
"Aku ingin bertanya, apakah kau yang sudah merancang kecelakaan saat aku ditabrak?" tanya Samuel yang langsung menatap tajam ke Byantara dengan curiga.
"Untuk apa aku mencelakai mu? Aku bukan orang yang kurang kerjaan, lagi pula tidak ada untungnya aku mencelakai mu! Kau bukan orang penting," sahut Byantara dengan angkuh.
"Karena kau takut bersaing dengan ku untuk mendapatkan Anggita! Kau menginginkan aku mati, agar kau bisa menang dengan mudah!" tuduh Samuel langsung.
__ADS_1
"Terserah kau mau percaya atau tidak, aku tidak akan melakukan hal seperti itu walaupun aku menginginkan kematian mu!" sahut Byantara tidak mau kalah.
"Dan ku beritahu pada mu, Gita itu adalah milik ku, kau jangan coba-coba mendekatinya maupun Benji lagi!" sambung Byantara memperingati.
"Setahu ku Anggita statusnya bebas, jadi apa hak mu melarang aku mendekati Gita? Kau takut bukan? Karena kau tahu Gita menyukai ku," sahut Samuel memanasi Byantara.
Benar saja, Byantara langsung emosi dan mendekati Samuel dan menarik kerah baju Samuel.
"Kata siapa Gita menyukai mu? Sejak dulu Gita mencintai ku! Kau jangan mengganggu hubungan kami! Kau akan tahu sendiri akibatnya!" ancam Byantara.
"Kalau memang Gita mencintai mu, kau tidak perlu melakukan rencana-rencana busuk bersama Theo untuk membawa Gita kembali tinggal di Mansion mu! Bahkan berani-beraninya kau menodai Anggita! Walaupun dulu dia istri mu, tapi kini sudah bukan lagi!" ujar Samuel yang juga menarik kerah baju Byantara.
Dengan cepat Samuel tiba-tiba langsung meninju pipi Byantara dengan geram, amarah yang sudah Samuel tahan sejak tadi akhirnya dia lampiaskan pada Byantara. Byantara yang tidak menyangka kalau Samuel berani memukulnya dan kaget mendengar perkataan Samuel sama sekali tidak siap, langsung jatuh tersungkur karena Samuel memukul dengan sekuat tenaga sangking geramnya. Bahkan sampai bibir Byantara pecah dan mengeluarkan da*rah.
Anggita yang sudah turun ke bawah tadi sudah melihat bayangan kedua orang itu dari jauh, Anggita merasa kaget ketika melihat Samuel memukul Byantara. Anggita segera berlari menghampiri Byantara.
"Mas Byan, kau tidak apa-apa?" tanya Anggita membantu Byantara untuk bangun, Byantara hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus darah yang menetes dari bibirnya.
"Mas Sam, mengapa kau memukul mas Byan?" tanya Anggita merasa heran dan hendak mendekati Samuel. Anggita cukup mengenal Samuel yang sabar dan berpikir panjang sebelum bertindak merasa aneh dengan tindakan Samuel kali ini.
Tapi Byantara langsung mencekal pergelangan tangan Anggita, tidak membiarkan Anggita mendekati Samuel.
"Kau jangan dekati Samuel lagi, Gita! Aku tidak suka, dan kau Samuel, aku akan menuntut mu karena sudah berani memukul ku di Mansion ku. Kau bersiap saja menunggu surat panggilan dari pengadilan!" ancam Byantara.
"Jangan mas Byan, ku mohon kau jangan mempersulit mas Sam. Mas Sam bukan orang seperti itu," mohon Anggita pada Byantara yang langsung membela Samuel, membuat Byantara merasa hatinya menjadi sakit.
Bersambung๐๐๐๐๐
__ADS_1