Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 18


__ADS_3

"Apa kamu benar-benar akan membatalkan pernikahanmu?" tanya Jimmy pada temannya.


"Hmm, tidak ada pernikahan," ujar Marco dengan tertawa tapi tawanya terdengar aneh. Dia seperti hanya berpura-pura baik-baik saja. Padahal dia masih bimbang dengan semua itu.


"Kau yakin? Bagaimana jika itu benar anakmu. Apa kau akan membiarkannya hidup tanpa ayah?"


"Aku akan tetap bertanggungjawab walaupun tanpa menikahinya jika itu benar anakku. Dan lagi mamah sangat menyukainya, dia tidak mungkin membiarkan cucunya begitu saja. Aku tau mamah pasti sudah memikirkan semuanya, apa yang harus dia lakukan setelah ini." Marco meminum minuman keras yang ada di gelasnya. "Sekarang aku bisa kembali seperti biasa, bersenang-senang dengan para wanita. Aku juga tidak perlu bersembunyi lagi karena mamah sudah tau apa yang aku lakukan," ujar Marco. Dia sudah sedikit mabuk setelah meminum beberapa gelas.


"Lihat dia, padahal aku membawanya untuk kita minum bersama tapi dia hampir menghabiskan semuanya. Dia seperti itu tapi mengatakan kalau dia tidak masalah dengan batalnya pernikahan itu."


Marco terus menghabiskan minumannya sampai tak tersisa dan mabuk setelahnya. Dia bahkan baru terbangun pada sore harinya. Kepalanya terasa berdenyut saat bangun dan mengumpat menyalahkan temannya yang sudah membawa minuman keras itu ke dalam kantor.


*****.


...


Hari berganti, pernikahan yang sudah direncanakan dengan matang dan persiapannya juga sudah sembilan puluh persen benar-benar dibatalkan begitu saja. Beruntung mereka belum mengumumkannya ke publik jadi tidak terlalu banyak kekacauan yang terjadi.


Sampai sekarang pun Marco tidak tau apa rencana sang mamah selanjutnya. Setelah hari itu mereka tidak pernah lagi mengobrol panjang. Ayunda seperti benar-benar membuktikan ucapannya. Dia jarang menegur putranya terlebih dahulu jika bukan untuk makan atau hal kecil lainnya. Mereka tidak lagi sehangat dulu dan Marco merasa kehilangan semua itu.


Akhir pekan ini Marco sengaja menghabiskan waktu di rumah agar dia memiliki banyak waktu bersama kedua orangtuanya. Karena sang papah pun tidak jauh berbeda dengan mamahnya. Pria itu juga menjauh dari Marco karena sang istri walaupun masih lebih banyak perhatian sang papah padanya diam-diam jika tak ada istrinya.


Marco bangun sedikit siang karena dia tidak ada kegiatan hari ini dan sudah memutuskan untuk tetap di rumah. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan mamah dan papahnya dan membicarakan soal wanita itu. Marco sudah memutuskan akan menikahi wanita itu meski dia tidak ingin, dia akan berusaha berubah jika itu membuat mamahnya bahagia.

__ADS_1


"Hoaamm." Marco turun dari ranjang lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah bersiap dengan pakaian santainya dia pun keluar dari kamar. Berniat mencari mamahnya untuk mengobrol dan bermanja-manja karena sudah lama Marco pun merindukannya. Sosok sang mamah yang selalu menenangkannya dan membuat dia nyaman.


Namun, saat dia turun ke lantai bawah Marco tidak menemukan siapapun. Hanya ada para pelayan yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Mamah dan papahnya tidak terlihat padahal biasanya saat akhir pekan mereka akan menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan sekedar di ruang keluarga.


"Apa Tuan mau sarapan sekarang? Biar bibi siapkan." Seorang pelayan menghampiri Marco.


Mata laki-laki itu masih mencari sekeliling mencari keberadaan kedua orangtuanya.


"Apa Tuan mencari Tuan besar dan Nyonya?"


"Iya, di mana mereka bi?" tanya Marco.


"Apa bibi tau mereka pergi ke mana?" tanya Marco penasaran.


Bibi tampak ragu mengatakannya tapi nyonya nya juga tidak melarang dia untuk tidak mengatakan apapun pada tuan mudanya. Jadi tidak masalah kan kalau dia mengatakan kemana mereka pergi.


"Bi, apa bibi mendengarku?"


"Itu Tuan, mereka pergi ke rumah yang ada di ujung jalan," ujar bibi.


"Rumah siapa itu bi, apa sedang ada acara di sana tapi kenapa mamah membawa masakannya ke sana. Apa bibi tau itu rumah siapa?"

__ADS_1


"Emm itu ... itu rumah yang ditinggali oleh nona Mishel dan ibunya." Bibi merasa tak enak mengatakan hal itu, dia tidak tau kalau apa yang dia katakan benar apa tidak.


Marco mematung sebentar, apa ini yang direncanakan mamahnya membawa mereka tinggal dekat dengan mereka.


"Apa sarapannya mau disiapkan sekarang Tuan?"


"Nanti saja Bi, aku mau keluar sebentar." Marco bergegas pergi untuk memastikan sendiri apa benar mereka tinggal di sana seperti yang bibi katakan.


Pikiran buruknya kembali menguasai Marco, dia berpikir kalau wanita itu sangat licik sekarang. Setelah dia tidak berhasil membuat Marco menikahinya sekarang dia mengambil simpatik kedua orangtuanya agar mendapatkan apa yang mereka mau. Sekarang mereka sudah mendapatkan rumah yang bahkan sama mewahnya dengan yang ditinggali kedua orangtuanya.


"Picik sekali dia," umpat Marco. Dia melajukan mobilnya ke rumah yang di tunjukkan bibi. Sampai di sana dia melihat sang mamah dan papahnya keluar dari sana bersamaan dengan wanita itu dan ibunya.


"Mereka benar-benar tidak mau rugi, setelah ini mereka mau apalagi. Apa berpikir akan mengambil harta papah menggunakan janin itu."


Sementara itu Mishel dan ibunya baru sehari menempati rumah itu. Awalnya mereka tentu menolak karena tidak mau dianggap mengambil keuntungan dengan kehamilan Mishel. Mereka memang berniat pindah karena tidak mungkin tetap tinggal dalam keadaan seperti itu tapi mereka sama sekali tidak ada niatan untuk merepotkan Ayunda dan suaminya. Pada akhirnya mereka setuju karena Ayunda yang memohon. Wanita itu mengatakan ingin bertanggungjawab pada cucunya dan berharap mereka tidak menolak apa yang dia berikan pada cucunya.


"Terimakasih Bu, kami malah merepotkan. Anda pasti harus bangun pagi-pagi sekali untuk memasak sarapan padahal ini akhir pekan," ujar ibu Fira.


"Tidak apa-apa Mbak, aku senang bisa memasak untuk Mishel dan Mbak. Kita juga bisa sarapan bersama dan lebih ramai. Iya kan Pah?" Ayunda bertanya pada suaminya.


"Betul kata istriku, kami senang bisa sarapan bersama kalian."


Mishel juga senang sarapan bersama seperti ini. Meski dia masih merasa mual dan Ayunda dengan telaten pun membantunya saat sedang muntah di kamar mandi. Padahal dia sudah mencegahnya tapi wanita itu tetap kekeuh ingin membantu Mishel. Dia bersyukur kelak anaknya akan memiliki kakek dan nenek yang menyayangi nya.

__ADS_1


__ADS_2