Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 36


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


Kehidupan mereka sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Kini bayi mungil yang dicintai banyak orang itu sudah tumbuh menjadi anak yang pintar. Bukan hanya pintar, dia bahkan bisa lebih dewasa dari anak-anak seusianya. Dia sangat penurut, tidak pernah merepotkan ibunya dan malahan begitu perhatian pada sang ibu.


Kebahagiaan Mishel lengkap dengan hadirnya sang buah hati tercinta. Dia seperti mendapatkan motivasi baru untuk berjuang dalam hidup ini demi sang putra. Sekarang tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan kebahagiaan anaknya. Senyum sang putra adalah penyemangat dan alasan dia menjadi lebih kuat. Meski tiga tahun yang lalu dia telah kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Sayang, apa kau sudah siap?" Mishel masuk ke dalam kamar sang putra ternyata anak lelaki itu sudah siap. Dia memang sangat mandiri, bisa melakukan hal yang pada umumnya anak-anak belum bisa lakukan.


"Sudah Bu, Rafael sudah siap."


"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang," ujar Mishel menghampiri sang putra lalu menggandeng tangan kecil itu. Baginya Rafael tetap bayi kecilnya yang menggemaskan meski sekarang dia sudah berubah menjadi anak pria yang tampan dan menawan. Tidak bisa dipungkiri jika semakin besar dia semakin mirip dengan ayahnya. Jika melihat foto kecil Marco maka Rafael seperti duplikatnya.

__ADS_1


Mereka berdua pergi ke suatu tempat menggunakan mobil yang dikendarai Mishel sendiri. Mobil yang ia beli dari kerja kerasnya. Dia juga telah menjadi wanita mandiri dan berdiri sendiri. Karena itulah seseorang semakin kesulitan mendekatinya meski sudah berusaha keras.


"Kita sudah sampai, ayo nak."


"Iya Bu, aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan nenek," ujar Rafael.


Mishel tersenyum lalu membuka pintu.


Di sinilah mereka berada, di depan sebuah makam yang diatasnya bertuliskan nama wanita yang telah melahirkan Mishel. Ya, tiga tahun yang lalu ibu Fira telah menghembuskan nafas terakhirnya. Rupanya dia menderita kanker usus. Karena tidak pernah menjalani pengobatan penyakitnya semakin parah dan saat Mishel tau sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Hari kematian ibunya menjadi hari terburuk dalam hidupnya, lebih buruk dari saat ayahnya pergi memilih wanita lain. Bagaimana tidak, sang ibu adalah satu-satunya orang yang ia punya selama ini. Orang yang menjaganya seorang diri, tempat untuk pulang dan tempat untuk mencurahkan isi hati dan pikirannya.


"Nak, maafkan ibu karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu, tidak bisa membahagiakanmu dan membuat hidupmu susah. Nak, berjanjilah pada ibu jika kamu akan menjadi ibu yang baik untuk anakmu. Jadilah ibu yang kuat dan tegar jangan seperti itu yang hanya terperangkap dalam masa lalu bertahun-tahun."

__ADS_1


"Bu, jangan pergi. Bagaimana aku bisa bertahan tanpa ibu di sampingku. Ibu, kenapa ibu tega ... hiks."


"Nak, semua orang pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini hanya waktunya yang berbeda-beda. Sekarang sudah waktunya ibu pergi, ada putramu yang akan menjadi kekuatanmu. maafkan Ibu nak."


Air mata Mishel mengalir begitu saja saat mengingat hari itu. Rasanya dunia ini seperti berhenti berputar.


"Nenek, apa nenek tau. Aku menjadi juara kelas nek. Kata ibu dia akan memberi ku hadiah jika aku juara kelas jadi aku belajar dengan giat sekali," oceh Rafael menceritakan segala hal tentang dirinya, sekolahnya dan teman-temannya.


Mishel tersenyum mendengar ucapan sang putra. Bahkan tanpa belajar pun dia bisa mendapat posisi pertama di kelas karena dia memang pintar.


"Ibu, Rafael sudah semakin besar. Ibu benar, jika pertumbuhan anak-anak itu begitu cepat. Dia juga semakin pintar dan mandiri, tidak pernah menyusahkanku dan tau apa saja yang harus dilakukan di rumah. Kadang Rafael bahkan membuatkan aku teh dan sarapan yang simpel," ucap Mishel dalam hati karena tidak ingin mengganggu sang putra yang sedang asik mengobrol dengan neneknya.

__ADS_1


Ya terkadang Rafael memang bisa membuatkan sarapan meski itu hanya roti yang dipanggang menggunakan mesin pemanggang roti.


Perhatian Mishel tersisa dengan adanya buket bunga yang seperti baru saja diletakkan di atas makam ibunya. Mungkinkah seseorang sudah datang sebelum dia.


__ADS_2