
Bu Darmawan menyambut kedatangan Anggita dengan bahagia. Sella ikut mengekor di belakang Bu Darmawan.
Anggita sedikit merasa lega, setidaknya dengan keberadaan Bu Darmawan dia bisa menghindari Byantara. Suasana mencekam tadi langsung mencair, karena kehadiran Bu Darmawan.
Benji yang sudah bangun, masih merasa takut dengan suasana baru. Benji memegang gaun sang ibu dan bersembunyi di belakang Anggita.
Sella yang biasa tidak pernah menyambut kepulangan Byantara, kali ini menyambut kepulangan Byantara dan dengan posesifnya segera menggandeng tangan Byantara.
"Kau pasti capek Byan, ayo aku sudah siapkan teh manis untuk mu!" ujar Sella dengan sengaja.
Byantara yang sedang kesal dengan Anggita, membiarkan Sella menggandengnya menuju ke ruang tengah. Lagipula untuk sementara Byantara ingin memberikan kesempatan kepada ibunya untuk mendekati Benji dulu. Byantara sadar kalau dia masih bertahan di depan, Benji pasti takut.
"Ayo cucu ku, ke sini! Nenek ingin melihat cucu nenek yang ganteng!" panggil Bu Darmawan sambil melambaikan tangannya ke arah Benji.
"Ayo Benji! Beri salam pada nenek!" ujar Anggita menarik Benji keluar dari belakangnya begitu melihat Byantara dan Sella sudah menghilang.
Karena Bu Darmawan yang ramah, Benji pun berjalan mendekati Bu Darmawan dan memberi salim.
"Duh pintar dan ganteng sekali!" puji Bu Darmawan dengan mata berkaca-kaca dan langsung mendekap Benji dalam pelukannya. Anggita yang menyaksikan perbuatan ibu angkatnya itu jadi merasa bersalah.
"Ayo kita ke ruang makan dulu dan makan malam dulu, nanti kalau sudah selesai ibu akan membawa kalian ke kamar kalian." ajak Bu Darmawan yang dari tadi tidak melepaskan gandengannya dari Benji.
*********
__ADS_1
Kalau menuruti kata hatinya, sebetulnya Anggita sedang malas makan, apalagi teringat kalau nanti dia harus makan semeja dengan Byantara dan Sella, tapi Anggita tidak berani menolak ajakan Bu Darmawan. Ada perasaan tidak tega pada ibu angkatnya yang terlihat begitu bahagia melihat kehadiran Benji.
Mau tidak mau Anggita teringat jasa Bu Darmawan yang dulu sudah membesarkannya. Saat pertama kali dia baru ditemukan dalam kecelakaan pesawat, saat pak Darmawan membawanya pulang. Bu Darmawan menerima kedatangannya dengan tangan terbuka. Bahkan boleh dibilang sangat menyayanginya. Berkali-kali Bu Darmawan yang menghiburnya dan berkata kalau Anggita adalah hadiah dari Tuhan untuknya. Bu Darmawan sangat menginginkan punya seorang anak perempuan kala itu, tapi karena rahimnya bermasalah setelah melahirkan Byantara, akhirnya Bu Darmawan sudah tidak bisa mempunyai anak lagi. Bu Darmawan memang menyayangi Anggita seperti anak sendiri.
Hal tersebut yang membuat Anggita tidak tega menolak permintaan Bu Darmawan
*********
Begitu masuk ruang makan, terlihat Byantara duduk di tengah di tempat seperti biasa Byantara duduk. Tempat yang dia duduki setelah sang ayah meninggal. Tampak Sella duduk di samping Byantara menatap tidak senang ke arah Anggita.
Anggita sama sekali tidak mau melihat ke arah pasangan itu, Anggita berusaha menganggap kedua orang itu tidak berada di ruang makan itu. Anggita hanya konsentrasi memperhatikan Bu Darmawan dan Benji saja, dan tidak sekalipun melayangkan pandangannya ke arah Sella dan Byantara.
Aku merasa nasib ku ini sangat lucu, dulu aku begitu takut kalau Sella suatu hari akan merebut Byantara dan status ku di rumah ini! Ternyata kekhawatiran ku menjadi nyata. Kini nasib ku malah berbalik, aku yang datang ke keluarga ini tanpa status apa pun. Hanya mengandalkan ibu yang menganggap ku sebagai anaknya, dan kebetulan anak ku mengalir darah mas Byan. Aku yakin sekarang Sella akan merasakan apa yang ku rasakan dulu! Tapi setidaknya dia beruntung, Byantara ada di pihaknya, Byantara mencintainya. Berbeda dengan aku dulu, yang hanya mengandalkan pak Darmawan, pada akhirnya aku kalah dan dibuang begitu Pak Darmawan tidak ada. Ku pikir aku sudah melupakan rasa sakit hati ku ini, tapi begitu menginjak Mansion ini sepertinya luka hati ku terbuka kembali! Semoga mereka cepat mempunyai anak dan aku bisa cepat pergi dari sini! harap Anggita yang tiba-tiba merasa hatinya berdarah kembali setelah sekian lama.
*********
"Apa saja Bu, tidak usah memasak khusus untuk ku Bu. Kalau aku ingin memakan sesuatu, aku bisa memasaknya sendiri." sahut Anggita yang merasa tidak enak.
"Ah! Ibu jangan terlalu khawatir. Mungkin Anggita sengaja menjaga agar badannya tidak melebar. Anggita kan sekarang statusnya janda Bu, kalau penampilannya tidak menarik bagaimana mungkin Tuan muda Tang begitu tertarik padanya!" sindir Sella yang karena perasaan iri nya sudah lupa menjaga kata-katanya.
Bu Darmawan langsung memandang marah ke arah Sella, tapi belum sempat berkata apa pun juga, malah Byantara yang memarahi Sella.
"Kau kalau bicara hati-hati Sella! Ada Benji yang ikut mendengar bersama kita, kau jangan sembarang bicara! Lebih baik kau tidak usah mengurus masalah Gita!" tegur Byantara memandang penuh ancaman ke arah Sella.
__ADS_1
"Maaf!" ujar Sella yang langsung terdiam.
Anggita bersyukur setelah itu tidak ada yang berbicara lagi, Anggita dengan cepat menghabiskan makanannya, sambil menyuap Benji dengan cepat. Begitu selesai makan, Anggita segera berpamitan pada Bu Darmawan untuk membawa Benji menonton televisi. Yang penting buat Anggita dia bisa mengindari suasana tegang jika berada di antara Sella dan Byantara .
"Kau langsung saja naik ke kamar mu untuk membersihkan badan dan beristirahat Gita, jangan kemalaman. Ibu memilihkan kamar yang di samping kamar Byantara itu untuk mu, kau tentu tahu letaknya bukan?" ujar Bu Darmawan.
"Tahu Bu. Saya naik duluan ya Bu," ijin Anggita yang langsung berdiri, melangkah keluar dan menarik Benji untuk mengikutinya. Anggita sama sekali tidak mau melihat ke arah Byantara dan Sella.
********
Aduh, mengapa ibu harus memilih kamar di samping itu? Itu kan ada pintu tembusannya! pikir Anggita dalam hati, tapi dia tidak berani menyatakan keberatannya.
Begitu melewati kamar dia bersama Byantara saat masih suami istri, hati Anggita kembali merasa sakit. Anggita sendiri tidak mengerti perasaannya sendiri.
Ayo Anggita, itu sudah kejadian yang lama, harusnya aku sudah melupakannya. Buat apa aku merasa sakit hati lagi!
*********
Begitu membuka pintu kamarnya, terlihat kamar itu rapi dan bersih. Semua sudah disiapkan Bu Darmawan. Anggita benar-benar terharu, ketika melihat sprei kamarnya yang bercorak bunga tulip tiga dimensi, sejak dulu Bu Darmawan tahu kegemaran Anggita yang suka memakai sprei bercorak kembang. Anggita merasa sejuk kalau memakai sprei bercorak kembang.
Apalagi ketika Anggita membuka lemari baju, terlihat baju Anggita yang dulu tidak dibawa Anggita saat pergi tergantung dan disusun rapi. Tanpa sadar Anggita meneteskan air mata haru, Anggita tidak menyangka kalau bu Darmawan masih menyimpan bajunya semua. Sepertinya sejak dulu Bu Darmawan masih mengharapkan dia kembali.
Maafkan Gita yang sudah tidak berbakti, Bu. Bahkan aku sama sekali tidak memikirkan perasaan ibu dan seakan sudah melupakan ibu karena dendam ku pada mas Byan!
__ADS_1
Bersambung..........