Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Mendengar suara adik


__ADS_3

Hay pembaca ku🤗🤗


Maaf ya, berhalangan up. Diusahakan akan up teratur lagi mulai hari ini. Terimakasih buat yang selalu menunggu lanjutannya dan mendukung cerita ini🙏🥰🥰


Happy Reading, semoga terhibur selalu🙏


Melihat Anggita yang sepertinya kelihatan ragu dan bingung, Byantara tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


"Gita maafkan aku yang sudah membuat kau menangis. Maukah kau memaaf.....," tapi sayang rayuan Byantara belum selesai, Benji sudah bangun dari tidurnya. Benji tiba-tiba berdiri dan langsung berjalan di atas tempat tidur sambil membawa gulingnya datang menghampiri Anggita dan Byantara.


"Papa nakal! Papa bikin mama nangis! Papa gak boleh masuk kamar Benji! Nanti Benji lapor nenek!" teriak Benji sambil memukul Byantara dengan guling di tangannya, membuat Byantara kewalahan menghadapi Benji.


Tapi Byantara memang tidak pernah kehabisan akal. Byantara langsung menangkap guling Benji dan membuangnya ke lantai, sesudah itu langsung memeluk Benji agar tidak memberontak, karena kelihatannya Benji masih sangat marah.


"Benji dengarkan papa dulu!" ujar Byantara sambil melirik ke arah Anggita yang diam saja sejak tadi, sama sekali tidak membantunya menghadapi Benji yang marah.


Byantara yang tidak tahu kalau Anggita masih bingung menghadapi kehamilannya dan bingung memutuskan apa yang akan dilakukannya. Byantara mengira kalau Anggita masih marah padanya dan tidak mau memaafkannya.


"Benji dengar! papa lepas Benji dulu! Yang boleh meluk Benji cuman mama," balas Benji. Byantara hanya bisa menghela nafas kesal, tapi menuruti permintaan Benji.


Dasar kepala batu, pasti nurun dari Gita sifatnya yang satu ini! gerutu Byantara dalam hati.


Anggita akhirnya tidak bisa menahan senyumnya lagi ketika melihat kelakuan Benji, apalagi setelah dilepaskan Byantara, Benji melipat kedua tangannya di dada dan menunggu Byantara melanjutkan bicaranya, gaya Benji seperti orang dewasa.


**********


Melihat Anggita sudah bisa tersenyum, Byantara pun merasa lega, Byantara melaksanakan misinya tanpa ragu lagi kali ini.


"Benji! Mama Benji bukan menangis sedih, tapi mama Benji menangis karena bahagia."

__ADS_1


"Papa bohong, orang bahagia tertawa bukan menangis! Papa jangan bohong mentang-mentang Benji masih kecil!" potong Benji sambil mengerucutkan bibirnya.


"Papa gak bohong Benji! Ngapain papa bohong? Benji kan anak papa, masak papa bohong sama anak sendiri? Mama menangis bahagia karena sebentar lagi Benji mau punya adik! Benji mau kan punya adik? Biar Benji punya teman," jawab Byantara dengan cepat sebelum pembicaraannya dipotong.


Kau tak bisa menolak ku lagi Gita! Anak mu saja sudah tahu kalau kau sedang hamil adiknya! Byantara bersorak girang dalam hati. Byantara memang cerdas dan tidak pernah kehabisan akal, itulah yang membuatnya menjadi CEO sukses.


Bukan hanya Benji saja yang kaget mendengar jawaban Byantara, Anggita pun kaget ketika mendengar itu. Anggita tidak menyangka kalau Byantara akan mengatakannya pada Benji. Akhirnya Anggita sadar kalau Byantara menggunakan Benji agar dia tidak bisa menolak Byantara lagi. Anggita langsung mencubit paha Byantara dengan kesal.


"Tuh Benji lihat! Mama Benji yang malah mencubit papa. Papa gak mungkin membuat mama Benji nangis, papa janji gak akan membuat mama dan Benji marah lagi!" janji Byantara tersenyum. Byantara memang pintar memanfaatkan keadaan.


**********


Benji menghampiri Gita dan kini ikut duduk di samping Anggita, Benji sama sekali tidak memperdulikan Byantara lagi. Benji hanya fokus pada sang ibu. Tiba-tiba Benji memeluk Gita dengan erat.


"Mama, apakah benar Benji mau punya adik?" tanya Benji menatap ke arah Gita. Gita mau tidak mau mengangguk mengiyakan pertanyaan Benji.


"Tentu Benji, mama pasti tetap sayang Benji. Seorang ibu pasti akan menyayangi semua anaknya, Benji!" sahut Gita tersenyum dan segera membalas pelukan Benji.


Benji memang sudah sejak bayi hanya hidup berdua dengan Anggita saja, tentu Benji takut kalau kasih sayang sang ibu akan berkurang.


"Adik Benji sekarang di mana ma? Benji sudah gak sabar ketemu." ujar Benji kemudian.


"Ha-ha-ha, masih di dalam perut Benji. Masih sangat kecil. Coba Benji dengar, sudah ada suaranya belum?" ujar Anggita tertawa mendengar pertanyaan polos Benji sambil menunjuk ke arah perutnya yang masih rata. Byantara ikut tersenyum melihat tingkah ibu dan anak itu, Byantara kembali menyesal kalau dia sudah menyia-nyiakan waktunya sia-sia selama empat tahun.


Andai aku dulu tidak salah paham tentang Anggita, dan aku bisa mengerti hati ku yang mencintai Anggita, tentu kini kami sudah sangat bahagia! Jangan-jangan aku malah sudah punya sepuluh anak yang akan meramaikan mansion ku! sesal Byantara dalam hati. (Emang Anggita pabrik anak🤭🤭).


**********


Benji melompat turun dari tempat tidur dan menghampiri Anggita yang duduk di pinggir tempat tidur.

__ADS_1


Benji mendekatkan telinganya ke perut Anggita, ternyata Benji menganggap serius candaan ibunya. Anggita hanya tersenyum membiarkan Benji yang dahinya sampai berkerut karena penasaran. Tentu Benji tidak mendengar apapun, Anggita masih hamil muda.


"Mama, Benji gak dengar suara adik!" ujar Benji yang kepalanya masih belum menjauh dari perut Anggita.


"Masak sih gak ada suaranya, Benji?" tanya Byantara.


"Benar pa! Belum ada!" sahut Benji. Byantara langsung berjongkok di hadapan Anggita dan dengan cepat ikut menempelkan kepalanya ke perut Anggita, sebelum Anggita sadar apa yang akan dilakukan Byantara.


Anggita tentu kaget dengan kelakuan Byantara, Anggita akhirnya sadar kalau Byantara hanya iseng dan ingin menggodanya saja. Dengan kesal Anggita mencubit lengan Byantara yang berada di pahanya itu.


"Aduh!" teriak Byantara.


"Apa pa?" tanya Benji kini beralih melihat ke arah Byantara.


"Tuh! Adik mu sudah bisa cubit papa," sahut Byantara memperlihatkan lengannya yang memerah akibat cubitan Anggita.


"Kenapa dia cubit papa? Benji dari tadi di sini gak dicubit?" tanya Benji bingung.


"Karena adik mu tahu kalau papa mu monster! Dan papa mu pernah mentertawakan Benji. Jadi itu hukuman buat papa mu. Adik Benji sayang sama Benji," sahut Anggita yang menjawab dan menatap kesal ke arah Byantara.


"Tadi papa ada dengar suara," ujar Byantara yang bangun dari posisi jongkoknya.


"Benji gak dengar pa? Suaranya seperti apa?" tanya Benji yang penasaran dan segera mendekati Byantara, Benji menengadahkan kepalanya menatap ke arah Byantara.


"Ha-ha-ha, suara kukuruyuk, bukan suara adik mu, suara perut ibu mu yang sudah lapar!" sahut Byantara tertawa membuat Anggita seketika wajahnya memerah. Untung Byantara sudah menjauh, kalau tidak siap-siap saja dicubit lagi.


"Ayo kita turun sekarang, nenek pasti sudah menunggu kita!' ajak Byantara yang langsung menggendong Benji. Byantara mulai mengenal Benji, dia tahu kalau Benji suka digendong. Mungkin saat kecil jarang ada yang menggendong Benji. Sekarang Byantara ingin menebus kesalahannya dulu.


Bersambung.............

__ADS_1


__ADS_2