
"Ku rasa Gita tak mungkin kembali lagi Sam, sepertinya nenek harus mencari perawat pengganti. Mana mungkin seorang istri Byantara bekerja sebagai perawat untuk aku. Padahal aku sudah terbiasa dengannya, Sam." ujar nenek Tang.
"Kata siapa, nek? Anggita kan sudah bukan istri Byantara lagi! Mereka sudah tidak ada hubungan lagi." sahut Samuel yang tidak setuju dengan pendapat sang nenek.
"Memang, harusnya mereka sudah tidak ada hubungan. Tapi sekarang ada Benji yang menghubungkan mereka. Permasalahannya Byantara sepertinya tidak tahu keberadaan anaknya Benji, dan sekarang baru tahu kalau dia punya anak. Memang kau tidak melihat berita yang sedang heboh, Byantara mengumumkan kalau anaknya hilang dan akan memberikan hadiah yang besar pada orang yang berhasil menemukannya. Menurut ku Tuan Byantara tidak akan main-main dengan masalah seperti itu!" ujar nenek Tang pada pendiriannya.
"Dan sudah ku pikir lagi, ternyata memang wajah Benji mirip dengan wajah Tuan Byantara," sambung nenek Tang sambil menghela nafas,
Sebenarnya nenek Tang menceritakan hal itu dengan sengaja, nenek Tang sudah dapat menduga kalau Samuel sepertinya menyukai Anggita. Nenek Tang tidak ingin Samuel bersaing dengan Byantara. Nenek Tang yakin sang cucu kesayangan hanya akan berakhir dengan hati kecewa, karena kekuasaan yang dimiliki Byantara, apalagi dari Anggita, Byantara sudah mempunyai anak. Sedangkan yang nenek Tang tahu kalau Byantara dengan istrinya yang foto model itu belum mempunyai anak. Dan sudah bukan rahasia umum lagi, pada akhirnya di sebuah keluarga kaya tetap saja seorang istri dituntut untuk melahirkan seorang penerus!
*********
"Apakah kau menyukai Anggita?" tanya nenek Tang kemudian.
"Iya nek! Aku menyukai Gita, juga Benji. Sejak pertama bertemu dengan Gita dan Benji aku sudah jatuh cinta. Maukah nenek mendukung ku kali ini?" tanya Samuel.
"Sadarlah Sam, bukannya nenek menentang mu! Masalahnya Gita punya masa lalu yang tidak kau ketahui. Dan selama dia menjadi perawat nenek, Gita adalah pelayan nenek yang paling pendiam dan jarang banyak bicara. Dari dulu nenek sudah merasa kalau Gita itu agak berbeda dengan pelayan nenek yang lain. Makanya nenek mempercayainya." ujar nenek Tang.
"Sebaiknya kau urungkan niat untuk mendekatinya, nenek tidak ingin melihat mu sakit hati. Bagaimana dengan Gisella yang nenek kenalkan pada mu? Bukankah Gisella juga gadis yang baik, bahkan Gisella masih gadis. Sebaiknya kau jangan mencari yang rumit dalam hidup mu Sam!" nasehat nenek Tang lagi.
"Sudahlah nek. Samuel sangat menghormati nenek, tapi untuk urusan jodoh biar Samuel sendiri yang menentukan. Masalah suka seseorang, tidak bisa nenek paksakan!" ujar Samuel langsung meninggalkan nenek Tang yang hanya bisa menatap kepergian cucu kesayangannya itu.
Bagaimanapun nenek Tang lebih suka kalau Samuel beristrikan seorang gadis dibandingkan seorang janda beranak satu. Apalagi setelah nenek Tang tahu kalau Benji adalah anak Byantara. Sungguh tidak enak bertentangan dengan Byantara, walaupun nenek Tang berasal dari keluarga berada juga.
__ADS_1
Kalaupun Gita kembali, aku akan bicara baik-baik dengan Anggita agar dia sebaiknya mencari pekerjaan di tempat lain. Aku tidak ingin Samuel harus kembali sakit hati! Semoga Anggita mau mengerti keputusan ku. Aku juga berada di pihak yang sulit! putus nenek Tang dalam hati.
*********
Bu Darmawan tidak tahan untuk mengelus pipi Benji yang ditidurkan di sofa kembali setelah kedatangan Bu Darmawan. Anggita juga merasa segan untuk tetap membawa Benji pergi di saat seperti itu.
Hani, Robby dan Rizky sudah keluar dari dalam ruangan Byantara. Bu Darmawan yang lebih bisa berpikiran jernih, tentu tidak ingin masalah pribadi keluarga sampai didengar oleh pihak luar, sekalipun mereka adalah pegawai kepercayaan Byantara.
"Gita! Ibu bukan menyalahkan mu! Hati mu sangat keras Gita, Ibu sangat menyayangkan keputusan mu dulu yang langsung pergi dan sama sekali tidak memberitahu ibu kalau kau sedang hamil saat itu! Ibu bahkan tidak tahu kalau ibu sudah punya seorang cucu yang sebesar ini! Padahal ibu sudah begitu lama merindukan seorang cucu!" ujar Bu Darmawan sambil mengelus pipi Benji dengan penuh kasih dan menitikkan air mata.
"Ibu tidak bisa membayangkan penderitaan apa yang sudah kau alami bersama Benji? Bagaimana kau bisa membesarkan Benji dengan sambil bekerja? Anak di usia seperti ini sangat membutuhkan kasih sayang orang tuanya Gita!" ujar Bu Darmawan lagi.
"Maafkan aku ibu, tapi masa-masa sulit itu sudah berhasil ku lalui bersama Benji dan kini kami sudah terbiasa hidup hanya berdua saja. Benji juga sudah terbiasa hidup tanpa seorang ayah," sindir Anggita .
"Kau bukan hidup berdua! Kau hendak mencarikan ayah baru buat Benji. Kau jangan coba-coba Gita, aku tidak akan tinggal diam! Jangan pikir kau bawa Benji bersama pria itu ke New Zealand, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" ancam Byantara.
"Ibu sudah lihat kan? Kami memang sudah tidak bisa disatukan kembali. Setiap bertemu kami selalu ribut dan tidak cocok. Dulu aku masih mencintai mas Byan, jadi aku masih berusaha mengalah, tapi itupun hubungan kami tidak berhasil. Tapi kini aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi, aku sudah tidak mungkin bisa mengalah seperti dulu lagi Bu. Yang ada pasti setiap saat kami ribut. Bukankah itu malah suasana yang tidak bagus untuk Benji? Apakah ibu juga menganggap aku anak ibu? Kalau iya, aku mohon ibu jangan memaksa ku mengembalikan Benji lagi! Aku hanya memiliki Benji di hidup ku, Bu! Bukankah Byantara sudah menikah dengan Sella? Aku yakin mereka suatu saat juga akan punya anak Bu!" ujar Anggita yang membuat Bu Darmawan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku berjanji Bu, kalau ibu ingin melihat Benji, aku akan membawa Benji pada ibu. Ibu juga boleh menengoknya, kapan pun Ibu mau," janji Anggita sambil menggenggam tangan Bu Darmawan memohon.
Bu Darmawan terdiam beberapa saat dan menghela nafas mengusir kesesakan hatinya.
Bu Darmawan seseorang yang cukup pengertian, dia juga tahu bagaimana sikap Byantara terhadap Anggita dahulu. Andai saja dia di pihak Anggita, mungkin dia juga sulit memaafkan Byantara.
__ADS_1
Tapi bagaimanapun dia begitu merindukan seorang cucu dalam hidupnya dan masih berharap Byantara dan Anggita suatu hari bersatu kembali.
"Baiklah Gita, Mengenai hubungan mu dan Byantara ibu tidak akan ikut campur lagi. Tapi kau harus berjanji pada ibu untuk selalu berada di kota ini. Ibu ingin selalu bisa melihat Benji setiap saat. Andaikata suatu hari kau menikah lagi dengan pria lain, ibu harap Benji bisa selalu tahu siapa ayah dan neneknya." ujar Bu Darmawan pasrah.
"Jangan harap kau menikah dengan pria lain dengan membawa Benji! Aku tidak akan mengijinkan itu! Kalau kau menikah dengan pria lain kau harus memberikan Benji pada ku! Ibu kau tidak berhak memutuskan hal seperti itu!" ujar Byantara yang sejak tadi duduk di kursinya menyaksikan pembicaraan kedua wanita itu penuh emosi. Byantara bahkan bangun dari duduknya dan menyapu semua barang di mejanya hingga jatuh semua, membuat Bu Darmawan dan Anggita kaget. Bahkan Benji pun langsung bangun dari tidurnya yang kebetulan langsung menghadap ke arah Byantara.
Setelah beberapa saat dan mengucek matanya, Benji tiba-tiba langsung bangun dan menarik tangan Anggita.
"Mama! Ada Montel! lali(Mama! Ada Monster! Lari)!"
Bersambung................
Sekedar intermezzo🤭
Mau berbagi perasaan pas ngarang bab ini sama readers semua, Si Byantara itu egois banget ya, masak dia nikah boleh, Anggita nikah gak boleh? Author pengen pentung pakai kayu balok tuh🤣🤣
(Gak nyangka saja Author bisa bikin pemeran yang super egois kayak gini)
Sekalian mau mengucapkan terimakasih pada pembaca yang sudah mendukung karya ini dengan Vote, hadiah, komentar, like dan Follow Author.
Love U All
🥰🥰🥰
__ADS_1