
Dua Minggu berlalu ternyata hari kelahiran yang dinanti sudah melewati hari perkiraan lahir yang diberikan dokter. Seharusnya seminggu yang lalu jika pas dengan perkiraan dokter. Tapi sampai sekarang Mishel masih merasa tidak ada masalah dan bayinya pun masih bergerak dengan kuat di dalam perutnya. Namun, karena takut terjadi sesuatu atau ada yang salah mereka pun memutuskan membawa Mishel untuk menemui dokter lagi esok hari. Para orang tua yang khawatir dan lebih ke tidak sabar sebenarnya menanti kelahiran cucu pertama mereka. Tapi memang alangkah baiknya memeriksakan diri untuk tau lebih jelas.
"Sayang, apa kau masih betah di dalam perut mamah?" Malam itu Mishel termenung sendirian sambil berbicara pada janin yang ada di dalam kandungannya.
"Apa di dalam hangat dan nyaman sampai kamu tidak ingin keluar. Apa kamu tidak ingin bertemu dengan mamah, nak. Oma, Opa dan nenek juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu. Apa kau tidak ingin bertemu mereka," ujar Mishel berbicara dengan lembut. Dia merasakan tendangan dari dalam perutnya yang membesar membuat dia meringis. Perutnya yang besar membuat dia lebih mudah merasa sesak dan sakit di bagian pinggang serta punggung. Sekarang tendangan yang tidak seberapa itu membuat bagian perutnya terasa nyeri.
"Nak, apa kau marah pada Mamah. Maafkan Mamah nak, mamah sangat menyayangimu. Mamah menyayangi mu lebih dari apapun, mamah rela melakukan apapun demi kebahagiaan mu nak. Kenapa? Apa kau marah sampai tidak mau keluar dari sana." Nada bicara Mishel mulai terdengar putus asa.
Mishel bukan tidak senang mengandung tapi memang sudah waktunya anaknya keluar dari dalam perut seharusnya. Dia hanya khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk. Padahal selama ini dia sudah berusaha mengikuti apapun saran dari dokter, makan makanan bergizi, meminum susu hamil, berolahraga dan tidak malas. Lalu apa yang salah dengan kehamilannya sehingga anaknya belum juga keluar.
__ADS_1
Apa benar kata orang, jika janin yang ada di dalam perut itu selalu bisa merasakan apapun yang ibunya alami dan rasakan. Apa dia tau jika dia tidak diinginkan ayahnya sehingga dia enggan untuk lahir ke dunia. Oh tidak, Mishel sungguh menyesal jika itu terjadi. Salahnya Kate terlalu memikirkan hal itu sehingga anaknya pun bisa merasakannya.
"Nak, dengarkan mamahmu ini. Jika kau memang mendengar dan bisa merasakan apa yang mamah rasakan. Dengar nak, mamah, nenek , Oma dan Opa sangat menyayangimu nak. Kasih sayang kamu lebih dari apapun. Dengar sayang, ayahmu juga sebenarnya dia menyayangi mu." Mishel mulai menangis, dia menutup mulutnya agar tidak terisak dan janinnya akan mendengar suara tangisnya. "Ayahmu juga sama, dia menyayangi mu. Dia sangat bersemangat sekali dan tidak sabar menunggu kamu lahir nak." Sungguh Mishel tak bisa lagi meneruskan kata-katanya. Dia tidak tega harus berbohong seperti ini pada anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia.
"Maafkan mamah nak," ujar Mishel dalam hati. Dia kemudian memeluk perutnya.
Mishel menghubungkan orang itu dan beruntung ponselnya aktif tapi tidak juga ada yang mengangkat panggilan darinya. Sepertinya benar laki-laki itu sudah tidur. Laki-laki yang belakangan ini sering muncul di depan Mishel tiba-tiba. Kadang hanya mengganggu wanita itu saja setelahnya dia kembali berlari pagi.
"Tidak diangkat. Huh bod0h sekali! Dia pasti sudah tidur." Mishel kembali menyimpan ponsel jadulnya di dalam laci.
__ADS_1
"Sabar ya nak. Apa kau ingin mendengar suara ayahmu. Dia tampan dan hebat nak tapi menurut mamah kamu yang paling baik."
Setelah beberapa saat ponsel Mishel berdering dengan sendirinya. Perempuan itu lantas langsung melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo ... apa tadi kamu yang menghubungiku?" tanya seseorang di sana.
"Eeemm i—iya. maaf karena sudah mengganggumu malam-malam seperti ini."
"Ada apakah? Apa kau merasakan sesuatu, apa perutmu sakit? Katakan padaku." terdengar suara panik orang itu.
__ADS_1