Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Menginginkan Anggita


__ADS_3

"Om Sam, Benji sudah punya papa." ujar Benji polos, saat Samuel mengangkat Benji dan menggendongnya. Anggita jadi merasa tidak enak mendengar perkataan Benji, untung saja Samuel pria yang pengertian.


"Wah! Benji senang ya punya papa?" tanya Samuel.


"Iya, papa sekarang sayang Benji, udah gak nakal lagi!" sahut Benji lagi tersenyum.


Byantara yang mengintip dari dalam Mansion hanya bisa merasa cemburu melihat kedekatan Benji dengan pria lain, Byantara akhirnya menyudahi kegiatannya itu daripada dia merasa sakit hati.


Bu Darmawan yang melihat kelakuan Byantara di ruang keluarga, tadi juga sudah ikut mengikuti pandangan Byantara keluar jendela, Bu Darmawan akhirnya pun mengerti apa yang dirasakan sang anak.


"Kau yang sabar Byan! Dulu salah mu sendiri sudah menyia-nyiakan cinta Anggita, kalau sekarang kau ingin mendapatkan hati Anggita lagi, kau harus lebih banyak belajar sabar dan mengalah. Apalagi sekarang kau sudah mempunyai istri! Kau tahu sendiri Anggita adalah perempuan yang keras hatinya, Anggita tidak mungkin mau menjadi istri kedua!" ujar Bu Darmawan.


"Ibu! Bisakah kau membantu ku? Aku ingin Anggita menjadi istri ku kembali! Aku tidak perduli menjadi istri kedua atau pertama, pokoknya aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakan nya lagi seperti dulu. Aku berjanji akan menyayanginya dan Benji Bu!" ujar Byantara yang sudah putus asa, akhirnya dia membuang semua rasa gengsinya dan meminta bantuan sang ibu.


Kalau bukan karena hutang budi, Byantara sudah pasti akan menceraikan Sella sejak lama.


"Kau anak ibu, ibu pasti ingin membantu mu. Apalagi dari dulu ibu sangat menyukai Anggita, ibu juga merasa tidak rela kalau Anggita meninggalkan kita kembali, apalagi sekarang sudah ada Benji," ujar Bu Darmawan yang akhirnya juga ikut menatap ke depan Mansion.


"Yang penting kau sabar dan jangan bersikap keras lagi pada Anggita, nanti ibu akan pelan-pelan mempengaruhi Gita." janji Bu Darmawan.


*********


"Aku memenangkan juara kedua foto yang waktu itu Gita, aku hanya mengabari mu. Kau tunggu sebentar!" ujar Samuel yang menurunkan Benji dari gendongannya dan segera menuju ke mobilnya.


Kemudian dari dalam mobil itu, Samuel mengambil sebuah kotak dan memberikannya kepada Anggita.


"Ini apa mas Sam?" tanya Anggita menatap bungkusan yang diserahkan padanya itu.


"Selain mendapat hadiah uang, mereka juga mengirimkan foto yang aku ikutkan lomba itu yang sudah dicetak menempel pada suatu batu yang indah. Kalau aku memberikan uang hasil lombanya pasti kau akan tolak, jadi aku putuskan memberikan kenang-kenangan ini buat mu. Nanti kau lihat saja Gita, aku juga ingin menyampaikan kalau ada. Sponsor yang tertarik untuk menggunakan kau dan Benji sebagai model untuk iklan mereka barangkali kau tertarik Gita? untuk produk anak-anak," ujar Samuel.

__ADS_1


"Terimakasih mas Sam, kau begitu baik dan perhatian. Tawarannya nanti biar ku pikir-pikir dulu mas Sam, aku tidak terlalu percaya diri kalau disuruh bergaya di depan kamera," ujar Anggita sambil tersenyum.


"Benji mau ma!" teriak Benji yang tiba-tiba memotong ucapan Anggita.


"Kau cantik Gita, Benji juga lucu. Mengapa kau harus tidak percaya diri, dibawa santai saja. Apalagi Benji juga mau," ujar Samuel menyemangati Anggita.


"Baiklah mas, nanti akan ku pikirkan lebih serius lagi. Kalau aku berminat aku akan menemui mas Sam. Aku bisa minta nomor handphone mas Sam?" tanya Gita sambil menyerahkan telpon genggamnya kepada Samuel.


"Ah Betul! Selama ini kita tidak pernah tahu nomor handphone masing-masing, jadi agak kesulitan untuk berhubungan. Padahal sudah lama aku ingin bertanya pada mu, tapi setiap bertemu denganmu aku jadi lupa semuanya!" ujar Samuel tersenyum.


"Samuel kemudian memencet nomor handphonenya ke telpon genggam Anggita, sesudah itu langsung melakukan misscall agar nomor handphone Anggita masuk juga ke telpon genggamnya.


"Ok! Beres Gita, aku sebaiknya pulang dulu, kelihatannya kau dan Benji sudah lelah! Aku akan menghubungi mu lagi nanti, sudah lebih mudah kalau sudah tahu nomor handphone mu."


"Baik Mas Sam, hati-hati di jalan. Sebaiknya kalau mas Sam mau bertemu aku, kita bertemu di luar saja lain kali," usul Anggita yang merasa suasana yang tidak enak bila Samuel datang mengunjunginya di Mansion Darmawan.


Anggita dan Benji memandang kepergian Samuel sampai bayangan mobil Samuel keluar dari gerbang Mansion.


"Ayo Benji, mandi dulu!" ajak Anggita menarik tangan Benji untuk mengikutinya masuk ke dalam mansion.


*********


Anggita sudah selesai memandikan Benji, dan sedang menyusun buku-buku sekolah yang sudah mereka beli tadi di sekolahan ke meja belajar yang terdapat di kamar. Dia atas meja belajar terdapat rak minimalis yang sepertinya memang dibuat untuk menaruh buku.


"Nenek Benji memang hebat, semua sudah disiapkan dengan begitu teliti, Benji!" ujar Anggita sambil menyusun buku-buku sekolah itu.


Anggita menghentikan kegiatannya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Ketika pintu dibuka, tampak Bu Darmawan berdiri di depan Anggita.


"Ibu boleh masuk, Gita?" tanya Bu Darmawan.

__ADS_1


"Masuk saja Bu, Ayo!" ujar Anggita yang langsung menggandeng tangan Bu Darmawan untuk masuk ke kamarnya.


"Aku sedang menyusun buku pelajaran Benji yang tadi sudah kami beli Bu, aku baru saja bilang pada Benji kalau ibu begitu teliti mempersiapkan semua keperluan Benji. Tidak ada satu pun yang harus aku beli lagi. Bahkan tas sekolah saja sudah ada," puji Anggita sambil menunjuk ke arah lemari kaca yang terdapat tas baru itu.


"Kau jangan pikir aku yang siapkan semua Gita, sebenarnya Byantara yang sudah mempersiapkan semua itu. Byantara sendiri yang mengatur renovasi kamar ini sebelum kalian datang. Mungkin dulu Byantara sudah bersifat keterlaluan pada mu, tapi saat itu dia masih muda dan emosinya masih belum bisa dikontrol Gita. Ibu harap kau bisa memaafkan kejadian dulu. Dia cukup mengetahui kesukaan mu, bahkan sabun mandi di kamar mandi dia yang berpesan pada ku tidak usah disiapkan. Kata Byan dia sendiri yang akan memilihkan untuk mu, katanya dia lebih tahu wangi yang kau suka," ujar Bu Darmawan mempromosikan Byantara. Bu Darmawan merasa ini saat yang tepat, ketika Bu Darmawan melihat Benji sedang asyik bermain.


Mendengar itu Anggita langsung terdiam dan merasa menyesal tadi sudah memuji Bu Darmawan.


Huh! Ibu malah jadi membicarakan mas Byan! sesal Anggita. Anggita merasa bersyukur ketika dering telpon genggamnya berbunyi.


"Maaf Bu, aku terima telpon dulu," ujar Anggita merasa aneh ketika melihat ke layar telpon genggamnya, kalau nenek Tang menelponnya.


"Gita, Kau datang sekarang juga ke Rumah Sakit Family! Nenek ada perlu dengan mu!" ujar nenek Tang langsung begitu Anggita mengangkat telpon.


"Kenapa nek, apakah nenek sakit?" tanya Anggita bingung.


"Nenek ada perlu dengan mu! Bisakah kau datang sekarang?" tanya Nenek Tang lagi.


"Baik nek, saya segera ke sana sekarang," putus Anggita akhirnya.


"Bu, aku titip Benji boleh? Sepertinya ada masalah penting dengan nenek Tang," ujar Anggita meminta ijin.


"Pergilah Gita, minta pak Mamat untuk mengantar mu!" pesan Bu Darmawan.


"Terimakasih Bu," ujar Anggita yang segera menghampiri Benji dan mengecup dahi Benji.


"Mama pergi sebentar ya, Benji."


Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2