
Mendengar perkataan Byantara akhirnya Anggita menatap ke arah Byantara.
Dengan kedua tangannya yang bebas, Anggita menarik lepas tangan Byantara dari dagunya. Kini Anggita juga ikut bangun dari duduknya dan mundur beberapa langkah menjauhi Byantara.
"Jangan bilang kau masih kekurangan uang Tuan Byantara! Kalau aku punya uang, sudah pasti aku tidak akan memohon pada mu lagi. Uang ku akan langsung ku berikan pada Mas Theo saja untuk menggantikan modal mu!" ujar Anggita yang mengira Byantara sengaja mempersulitnya dan mengeluarkan syarat yang tidak dapat dia penuhi.
"Aku jadi bingung dengan mu Gita, sebenarnya siapa pria yang kau sukai? Theo atau Samuel itu? Mengapa kau begitu membela Theo?" tanya Byantara curiga.
"Itu masalah pribadi ku! Kau tidak berhak lagi mengurus masalah itu, kini kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi! Apa hak mu mengetahui pria yang aku suka. Status ku kini bebas, aku mau menyukai siapa pun sudah tidak ada urusan dengan mu lagi Tuan Byantara!" sindir Anggita yang kini bahkan merubah panggilannya menjadi Tuan Byantara.
"Kau ibu dari Benji! Kau tidak bisa seenaknya menyukai pria lain! Aku tidak ingin Benji memiliki ayah yang lain!" ujar Byantara mengetatkan gerahamnya.
"Kau jangan egois Tuan Byantara! Kau saja boleh menikah, mengapa aku tidak boleh menikah? Aku sudah bilang kalau kini status ku bebas. Asal ada yang mau menikahi ku, dalam waktu dekat ini juga aku akan menikah, agar Benji punya seorang ayah." tantang Anggita. Karena kesal dengan ucapan Byantara yang seenaknya saja dan egois itu, akhirnya Anggita juga tidak bisa menahan mulutnya lagi untuk melawan kata-kata dari Byantara. Anggita jadi lupa pada misinya yang ingin membantu Theo, Anggita terpancing emosi. Anggita tentu tidak menyangka kalau Byantara cemburu atas perhatiannya pada Theo.
*********
"Kau...!" Byantara sampai tidak bisa berkata-kata mendengar Anggita yang mau mencari seorang ayah untuk Benji. Byantara langsung melangkah lebar mendekati Anggita. Anggita yang dapat merasakan tatapan tajam yang menusuk, memundurkan langkahnya menjauhi Byantara, kemudian membalikkan badannya dan segera berlari ke arah pintu menuju keluar.
Maaf mas Theo, aku sudah berusaha membantu mu! Tapi sulit sekali menghadapi monster ini! pikir Anggita yang kini ikutan Benji menyebut Byantara sebagai monster.
Tap! Belum sempat mencapai handel pintu, pergelangan tangan tahu-tahu sudah berada dalam cengkraman Byantara.
__ADS_1
"Apa mau mu Tuan Byantara?" tanya Anggita akhirnya menghadap ke arah Byantara, tapi Byantara mendorong Anggita membuat tubuh Anggita terhimpit ke tembok.
Bahkan Byantara kini mencengkram kedua pergelangan tangan Anggita dan juga menempelkannya ke tembok, membuat Anggita terkunci dan tidak bisa ke mana-mana lagi.
"Jangan coba lari!" ujar Byantara.
"Aku malas bicara dengan orang yang mau menang sendiri seperti mu! Cepat lepaskan aku, kalau tidak aku akan berteriak!" ancam Anggita.
"Teriak saja, kau masak sudah lupa kalau ruangan ku mempunyai peredam suara?" tanya Byantara tersenyum mengejek.
"Kau ingin berbicara apa lagi? Katakan saja! Sesudah itu lepaskan aku! Aku ingin segera pergi dari sini, aku malas melihat mu!"
"Tapi tiba-tiba aku merasa kau sungguh menarik dan menantang Gita! Semakin kau membenci ku, aku malah ingin memiliki mu kembali!" ujar Byantara yang kini dengan sebelah tangannya mengelus pipi Anggita.
"Aku memang gila! Salah mu sendiri dulu pernah berurusan dengan ku! Ck..ck..ck.. siapa yang sudah berani merobek lengan baju mu?" tanya Byantara yang kini tangannya turun ke bahu Anggita yang terbuka.
"Kau tidak usah sok baik dan perhatian, aku tidak akan terpengaruh. Aku tahu kau masih dendam pada ku dan hanya ingin mengerjai aku. Kalau kau tidak bisa memenuhi permintaan ku, lupakan saja. Aku tidak akan memaksa mu lagi!" ujar Anggita yang akhirnya. menyerah.
"Kau terburu-buru sekali Gita! Sudah tidak tahan ingin bertemu Samuel?" tanya Byantara membuat Anggita merasa Byantara sedang mengejeknya. Anggita mengira kalau Byantara lah yang sudah meminta nenek Tang untuk memberhentikannya sebagai perawat. Seperti saat dulu Anggita ingin melamar pekerjaan, tapi semua perusahaan kenalan sang ayah angkat tidak ada yang berani menerimanya, atas perintah Byantara.
Anggita menatap ke arah Byantara dengan rasa dendam dan benci, mata Anggita sampai berkaca-kaca karena berusaha menahan air matanya yang berdesakan ingin keluar.
__ADS_1
"Kau sudah puas Tuan Byantara? Kau sudah puas karena aku sudah diusir dari Mansion Tang. Apakah kau ingin membuat aku mati untuk yang kedua kalinya? Apakah aku perlu mati di hadapan mu baru kau puas?" tanya Anggita dengan geram.
Byantara kali ini yang merasa kaget dengan perkataan Anggita. Byantara sama sekali tidak tahu kalau Anggita sudah pergi dari Mansion Tang. Walaupun hatinya senang mendengar itu, tiba-tiba hatinya sendiri menjadi sakit mendengar perkataan Anggita. Byantara akhirnya sadar, benar dugaannya kalau Anggita sudah membenci dirinya. Bahkan bisa jadi merasa dendam padanya.
Hati Byantara bertambah sakit lagi ketika Anggita kembali melanjutkan perkataannya.
"Harusnya kau anggap saja Benji bukan anak mu! Sebetulnya empat tahun yang lalu aku sudah mau membuang Benji dari kandungan ku, aku disadarkan dokter di detik-detik terakhir. Sejak itu aku menganggap Benji sudah bukan anak mu Tuan Byantara, anggap saja sudah hilang. Nyawa Benji seperti nyawa yang ku pungut pulang! Kau dan Sella masih muda dan sehat, pasti suatu hari akan memiliki anak juga. Aku hanya memiliki Benji saja, Lepaskan aku kali ini, kalau kau masih punya hati nurani!" ujar Anggita.
"Kalau kau tidak bisa memenuhi permohonan ku, lupakan saja! Anggap saja aku tidak pernah memohon pada mu!" sambung Anggita menghela nafas lega, akhirnya dia bisa mengungkapkan semua isi hatinya.
*********
Aku tidak boleh terpengaruh oleh ucapannya, kalau ingin memilikinya kembali. Apa pun harus aku lakukan, walau kadang dengan cara yang kejam sekalipun, yang penting apa yang ku inginkan menjadi milik ku, aku tidak perduli apapun pendapatnya, putus Byantara dalam hati.
"Baiklah Gita, kalau kau ingin aku tidak mencabut modal ku di perusahaan Theo, aku ingin kau kembali ke Mansion ku! Ibu sudah lama rindu pada mu! Ibu sangat menginginkan mempunyai seorang cucu. Aku janji pada mu, saat aku memiliki anak dengan Sella, kau boleh pergi membawa Benji. Aku tidak akan mencegah mu!" ujar Byantara kali ini dengan muka serius.
Sampai kapan pun kau tidak bisa pergi, aku tidak akan pernah mempunyai anak bersama Sella!
Mendengar perkataan Byantara, Anggita sejenak terdiam dan mulai mempertimbangkan apa yang dikatakan Byantara.
Mungkin ini saat yang tepat buat aku membayar semua hutang budi ku! Pada Mas Theo, pada Ibu. Aku tidak rugi mengiyakan permintaannya, dan semoga setelah dia memiliki anak dengan Sella, aku juga sudah tidak punya beban apa-apa lagi untuk menjalankan hidup ku selanjutnya!
__ADS_1
Pikiran itu yang akhirnya membuat Anggita mengangguk, mengiyakan permintaan Byantara, Anggita tentu tidak pernah menyangka kalau dia sudah masuk dalam perangkap sang monster!
Bersambung..........