
Bu Darmawan langsung menghambur ke depan bersama Benji ketika melihat mobil Byantara tiba. Bu Tatik yang khawatir juga mengekor di belakang.
"Aku sudah bisa jalan sendiri mas Byan!" ujar Anggita tersipu, ketika melihat Byantara membuka pintu mobilnya dan dari posisinya sepertinya hendak menggendong Anggita kembali.
Byantara tahu kalau Anggita masih segan padanya, walaupun sudah tidak seperti biasanya yang selalu memusuhinya terus. Karena sepanjang pulang tadi, Anggita diam dan hanya memejamkan mata saja, seakan Anggita ingin memberitahukan pada Byantara kalau Anggita tidak ingin diganggu. Byantara tidak tahu kalau Anggita masih merasa malu dan shock akan kejadian yang menimpanya, jadi Anggita menghindari berbicara dengan Byantara. Anggita takut kalau Byantara bertanya tentang apa yang sudah terjadi. Walaupun Anggita tidak sempat dilecehkan oleh Raka, tapi Raka sudah sempat menarik bajunya dan meninggalkan jejak di bahunya. Anggita benar-benar merasa malu, apalagi tadi Byantara sudah sempat melihat tanda merah itu!
**********
Anggita menurut, menerima uluran tangan Byantara yang membantunya saat keluar dari mobil. Byantara tentu merasa senang dengan Anggita yang menjadi lebih penurut.
Tapi Anggita tidak menyangka kalau Byantara tiba-tiba menariknya dengan kencang, membuat Anggita terhuyung ke arah Byantara dan menubruk dada Byantara.
"Tuh kan! Kamu masih lemas," ujar Byantara yang dengan seenaknya mengambil kesimpulan dan langsung menggendong tubuh Anggita tanpa ijin.
"Mas Byan! Ayo turunkan aku! Kau sengaja bukan?" tanya Anggita yang yakin tadi Byantara sengaja menariknya dengan kencang, Anggita cukup mengenal Byantara yang licik. Ada saja caranya, kalau menginginkan sesuatu.
Anggita yang ingin memukul dada Byantara karena kesal tidak jadi, karena kehadiran Benji, Bu Darmawan dan Bu Tatik.
"Mama baik-baik saja kan? Tanya Benji yang menarik-narik gaun Anggita.
"Mama hanya lemas karena ketemu orang jahat, makanya papa gendong," Byantara yang mewakili menjawab pertanyaan Benji.
"Ayo kita ke kamar dulu, nanti di kamar biar mama baru cerita!" sambung Byantara lagi.
"Ayo, cepat!" ujar Bu Darmawan yang langsung menggandeng tangan Benji untuk kembali ke dalam.
Kali ini mau tidak mau Anggita menurut lagi, Byantara menatap ke wajah Anggita dan tersenyum menang. Anggita yang kesal mencuri mencubit perut Byantara, agar tidak menjadi perhatian lain. Byantara hanya meringis dan sama sekali tidak peduli. Byantara malah merasa senang dengan cubitan Anggita. Sepertinya Byantara sudah gila karena cinta.
*********
__ADS_1
Ketika sudah menurunkan Anggita ke tempat tidur, Anggita langsung dikelilingi oleh Bu Darmawan , Benji, sedangkan Bu Tatik berdiri di belakang. Anggita benar-benar merasa terharu karena begitu banyak orang yang memperhatikannya.
"Tangan papa ada darah!" teriak Benji tiba-tiba.
Bu Darmawan dan Bu Tatik kompak, seketika melihat ke arah tangan Byantara. Dari tadi semua hanya memperhatikan Anggita. sehingga mereka tidak menyadari kalau tangan Byantara berdarah.
"Sudah! Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah tidak kenapa-kenapa. Ini tadi hanya terluka sedikit karena penculik itu menggunakan pisau," ujar Byantara menenangkan semuanya.
"Papa Benji hebat, sudah luka masih bisa gendong mama. Papa temannya Benji sudah kalah!" ujar Benji dengan polos yang merasa bangga dengan sang ayah.
"Ya sudah, Ibu ngobrol saja dengan Gita dulu, aku mau membersihkan badan dulu Bu," pamit Byantara keluar dari kamar Anggita.
*********
"Kau tidak apa-apa bukan?" tanya Bu Darmawan sambil menepuk-nepuk punggung tangan Anggita.
"Beruntung mas Byantara dan mas Sam tiba tepat waktu Bu. Penculik itu belum sempat melakukan rencananya," sahut Anggita yang merinding lagi membayangkan kejadian itu.
"Benji, mama baik-baik saja!" ujar Anggita menghibur Benji sambil mengelus rambut Benji dengan penuh kasih. Anggita tahu Benji menunjukkan padanya kalau dia takut kehilangan Anggita.
**********
Anggita melakukan kegiatannya seperti biasa, agar Benji tidak khawatir lagi. Anggita membantu Benji untuk mandi, biasa setiap pulang sekolah pasti Benji akan mandi. Anggita menyibukkan diri berusaha merupakan kejadian saat Raka menarik bajunya dan mengecup bahunya. Setiap bayangan itu hadir di kepalanya, Anggita merasa jijik kembali.
Tidak berapa lama kemudian, Benji yang sudah lelah dengan kegiatan sekolahnya seharian, sebentar saja sudah tertidur. Anggita tidak ikut membaringkan tubuhnya di samping Benji seperti biasa, Anggita bangun dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi. Anggita sebetulnya dari tadi sudah tidak tahan ingin segera membersihkan diri, dan yang paling utama membersihkan tubuhnya dari sentuhan Raka.
*********
Byantara duduk di meja kerjanya di kamar, Byantara baru menerima telpon masuk dari Robby yang melaporkan masalah pekerjaan pada Byantara. Untuk kembali ke perusahaan, Byantara sudah merasa tanggung waktunya.
__ADS_1
Setelah hubungan telpon dengan Robby selesai, Byantara yang masih duduk di kursi kerjanya, tiba-tiba merasa tergoda untuk melihat keadaan Anggita lewat CCTV.
Byantara merasa kaget ketika melihat Anggita yang hanya menggulung tubuhnya dengan handuk dan duduk di meja rias termenung. Melihat rambut Anggita yang masih setengah basah, Byantara yakin kalau Anggita baru selesai mandi.
Ayo Byantara! Otak mu jangan berpikir ke mana-mana, sebaiknya aku segera menyudahi kegiatan ini, kalau tidak bisa berbahaya! tegur Byantara pada dirinya sendiri.
Ketika Byantara hendak menutup laptopnya, dan mengakhiri acara ngintipnya, suatu pemandangan membuat Byantara menghentikan gerakan tangannya yang hendak mematikan laptopnya.
Tampak Anggita meletakkan sesuatu ke atas meja rias, Byantara merasa kalau benda itu seperti pegangan ice cream. Tapi kegiatan Anggita sesudah itu yang membuat Byantara merasa tidak tenang dan hendak ke kamar Anggita.
Tampak Anggita termenung lumayan lama, sesudah itu tiba-tiba menggosok-gosok bahunya sendiri terus menerus, membuat Byantara sadar kalau Anggita sebetulnya masih belum melupakan kejadian tadi dan trauma. Byantara kembali merasa geram, Byantara teringat dengan tanda merah di bahu Anggita. Byantara yakin pasti karena hal itu.
Byantara akhirnya memutuskan ke kamar Anggita lewat pintu tembusan, untuk melihat keadaan Anggita dan menghibur Anggita.
**********
"Mas Byan! Mengapa kau ke kamar ku?" tanya Anggita membalikkan badannya ke belakang, ketika melihat bayangan Byantara dari kaca riasnya.
"Kau jangan mengingat kejadian tadi lagi Gita! Aku juga merasa bersalah pada mu. Akulah yang secara tidak sengaja membuat semua itu terjadi, karena dulu aku lebih mempercayai Sella. Maafkan aku Gita!" ujar Byantara menghampiri Anggita dan memegang kedua bahu Gita yang masih telanjang karena Anggita yang baru selesai mandi dan masih menggunakan handuk.
"Yang penting kau sudah tidak apa-apa dan bekas merah itu paling besok juga sudah hilang, jangan kau ingat-ingat lagi kejadian itu!" hibur Byantara.
Anggita sempat merasa heran mengapa Byantara sepertinya mengetahui kegiatannya di kamar. Tapi belum sempat Anggita bertanya, pandangan Byantara berpindah ke alat tes kehamilan yang baru Anggita pakai tadi.
Anggita dengan cepat mengambil alat tes kehamilan itu dan menyembunyikan ke belakang tubuhnya.
"Mas Byan jangan suka ke kamar ku seenaknya saja, mana janji mas Byan yang mau membuatkan kunci?" tagih Anggita.
"Apa yang tadi kau sembunyikan di belakang punggung mu, Gita?" tanya Byantara penasaran, sama sekali tidak memperdulikan protes dari Anggita
__ADS_1
Bersambung............