
Seharusnya mereka berjanji bertemu setengah lagi tapi karena rasa penasarannya, Marco sudah datang lebih dulu ke tempat di mana mereka akan bertemu. Di sebuah coffee shop di dekat perusahaan. Marco sudah menunggu dan berulangkali melihat jarum jam. Hingga sudah tiga puluh menit lamanya, wanita yang ia tunggu tidak kunjung datang.
"Kenapa dia belum datang, seharusnya tadi aku menjemputnya saja dari pada aku menunggu seperti ini," kesalnya. Dia sungguh penasaran dengan apa yang ingin Mishel bicarakan.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Mishel datang juga. Dia datang menggunakan taksi. Perut menonjolnya sudah tidak bisa ditutupi meski menggunakan pakaian longgar. Wanita itu jalan perlahan menuju cafe. Marco melihatnya dan langsung membenarkan posisi duduk dan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengurangi kegugupannya. Dia juga sudah menyiapkan alasan mengapa dia bisa ada di sana lebih dulu.
"Maaf, saya tidak tau kalau Anda sudah datang. Kalau saya tau, saya akan datang lebih awal," ujar Mishel.
"Tidak apa-apa, duduklah. Kebetulan tadi aku ada meeting di luar jadi sekalian mampir ke sini dari pada bolak-balik ke kantor," ucap Marco, ya alasan itu terlihat sangat natural. Dia sudah menyiapkannya sejak tadi. "Ah ya, kamu mau minum apa?" tanyanya kemudian.
"Jus saja jika ada," ujar Mishel.
"Baiklah aku akan memesannya. Tunggu sebentar." Marco bergegas memesan segelas jus dan kopi serta dua wafel untuk menemani minuman mereka.
__ADS_1
Mereka duduk berhadapan dengan canggung, keduanya masih sama-sama diam. Padahal Marco sudah tidak sabar mendengar apa yang ingin dikatakan wanita itu. Dia membasahi bibirnya berkali-kali untuk mengurangi rasa gugup.
"Eheemm, bagaimana kabar kalian?" tanya Marco memulai pembicaraan. Dia bingung menyebut bayi yang ada dalam perut Mishel bagaimana, jika menyebutnya bayimu sepertinya terdengar sangat jahat seperti Marco sama sekali tidak menginginkannya. Tapi jika menyebutnya bayi kita itu lebih tidak mungkin karena Marco merasa malu dan tidak berhak.
"Kami baik-baik saja."
Jawaban itu cukup melegakan setidaknya tidak ada masalah dengan mereka. Tapi kemudian Marco teringat perkataan mamahnya yang seharusnya sudah waktunya Mishel melahirkan tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda bayi itu ingin keluar ke dunia ini.
"Baguslah." Marco kemudian meminum kopinya.
"Tuan, sebenarnya maksud saya mengajak Anda bertemu karena saya ingin bertanya sesuatu?" tanya Mishel.
Marco pun serius mendengarnya. "Katakanlah, apa yang ingin kamu tanyakan."
__ADS_1
"Ini tentang janin yang ada dalam perut saya. Sampai sekarang saya belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Mungkin Anda tidak akan percaya tapi menurut saya mungkin dia merasakan jika kehadirannya di dunia ini tidak diinginkan ayahnya. Karena itu dia masih bersembunyi di dalam perut saya. Ah maaf jika apa yang saya bicarakan ini aneh. Anggap saja aku sudah tidak waras dan tidak tau malu. Bisakah saya meminta sesuatu pada Anda?" tanya Mishel. Dia sangat malu tapi ini semua demi anak yang ada di dalam kandungannya.
Marco termenung mendengar perkataan wanita itu, dia menyadari kesalahannya yang sudah keterlaluan dan menolak kehadiran anak itu sejak dia mengetahuinya. Padahal sudah jelas banyak orang yang sudah menasehatinya.
"Katakanlah apa permintaanmu," ujar Marco. Bahkan jika wanita di depannya itu sekarang meminta seluruh hartanya pun akan dia serahkan asal Marco masih memiliki kesempatan untuk menebus kesalahannya dengan menjaga mereka kedepannya.
"Bisakah Anda mengatakan jika Anda menyayangi anak ini dan sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Itu hanya pura-pura, tapi jika Anda keberatan saya tidak akan memaksa. Saya—"
"Aku mau," potong Marco.
Mishel tersenyum simpul mendengarnya. akhirnya calon anaknya bisa merasakan kasih sayang dari ayahnya walaupun itu hanya pura-pura.
"Terimakasih." Mishel sampai berkaca-kaca. Ini yang kamu inginkan nak, ayahmu sudah datang. Segeralah keluar jika kamu ingin bertemu dengan q, ibumu dan ayahmu serta Oma, opa dan nenek. Mishel bermonolog dengan suara hatinya.
__ADS_1
Keduanya dilanda kegugupan lagi saat, bingung bagaimana caranya memulai.