Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 33


__ADS_3

Malamnya setelah pertemuan itu. Mishel tidak bisa tidur sepanjang malam mengingat saat pria itu menyentuh perutnya. Bukan karena rasa takut dan trauma tapi ada perasaan aneh yang menelusup ke dalam hatinya. Apalagi saat terbayang wajah pria yang terlihat sangat bahagia saat janin yang ada di dalam perutnya bergerak menendang. Persis seperti seorang calon ayah yang menyayangi calon anaknya dan tidak sabar ingin bertemu.


Andai itu terjadi dulu saat dirinya mencoba membuka kesempatan untuk dia memperbaiki kesalahannya. Mungkin Mishel akan bahagia. Saat dirinya membutuhkan sosok seorang suami di masa-masa terberatnya ketika di awal kehamilan. Namun sekarang, semua sudah terlambat. Mishel sudah terbiasa sendiri dan sudah bisa menerima takdirnya dengan lapang dada. Tapi dia senang jika memang benar laki-laki itu sudah mau menerima anaknya tapi hal itu tidak akan merubah apapun termasuk keputusan yang sudah dia ambil.


"Aaww ...." Mishel meringis saat merasakan tendangan yang begitu kuat di dalam perutnya. Dia kemudian mengusap perut buncitnya dengan lembut.


"Apa kamu juga tidak bisa tidur nak? Apa kamu senang telah bertemu ayahmu, kau lihat kan, dia sangat menyayangimu dan ingin segera bertemu denganmu. Jadi segera lah keluar dari perut ibu ya nak." Mishel bermonolog dengan janinnya.


Dua hari kemudian. Semua berjalan seperti biasa. Tidak banyak yang bisa Mishel lakukan karena perutnya yang sudah membesar membuat dia kesusahan beraktivitas. Tapi tidak membuat dia malas Mishel masih tetap melakukan apa yang dia bisa seperti sekarang dia sedang memasak bersama ibunya. Malam ini Ayunda dan suaminya akan makan malam bersama di rumah yang mereka tempati. Jadi Mishel dan ibunya pun menyiapkan makanan agak banyak. Walaupun ada pembantu di sana, tidak membuat mereka manja dan suka memerintah. Ibu Fira bahkan seringkali ikut berbenah bersama para pelayan katanya dia bosan jika hanya duduk diam.


"Nak, rumah lama kita sudah ada yang akan membelinya. Setelah orang yang membeli rumah kita memberikan uangnya, kita bisa segera mencari rumah yang baru," ujar ibu Fira sambil memotong sayur. Dia tidak melihat ke arah putrinya, karena sebenarnya dia sedih karena rumah itu. Rumah peninggalan orangtuanya yang memiliki banyak kenangan.


Mishel mungkin tidak melihat ibunya menangis tapi dia bisa melihat punggung wanita yang telah melahirkannya itu bergetar. Mishel segera memeluk ibunya dari belakang.


"Ibu, benarkah ibu akan menjual rumah kita. Rumah itu bukankah memiliki banyak kenangan tentang kakek dan nenek. Bu, mari kita cari jalan lain. Sampai anakku sedih besar kita masih memiliki banyak waktu untuk mengumpulkan uang. Tidak perlu rumah besar atau apartemen mewah. Bagiku rumah yang nyaman saja cukup. Jangan jual rumahnya Bu, aku akan segera mengumpulkan uang untuk kita pindah dari sini."


"Kamu itu bicara apa, rumah itu memang peninggalan dari kakek mu sebelum dia meninggal. Tapi dari pada itu, kenangan bersama mereka terkubur dengan kenangan menyakitkan yang ayahmu tinggalkan. Seharusnya sudah dari dulu ibu menjualnya agar kita bisa melupakan masa-masa itu. Tapi akhirnya sekarang kita bisa juga terbebas dari kenangan yang menyesakkan. Jadi ibu menjualnya bukan hanya karena kamu tapi untuk ibu juga," ujar Ibu Fira. Di umurnya yang semakin tua dan tidak tau kapan saja dia akan menghembuskan nafas terakhir. Dia hanya ingin ketenangan.


Ayunda dan suami datang membawa kue dan makanan penutup lainnya. Mereka sudah lama tidak makan bersama. Sekarang Ayunda ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Mishel mengingat kehamilannya.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak nak." Ayunda menambahkan beberapa lauk ke atas piring Mishel.


"Terimakasih mah."


Mereka pun makan malam dengan diwarnai obrolan ringan. Meski lebih banyak Ayunda yang berbicara, dia terlihat sangat antusias menyambut cucu pertamanya. Memang sudah terlihat sejak dulu. Dia sudah menyiapkan banyak hal.


"Kalau nanti kamu mau bekerja, tidak apa-apa jika menitipkannya pada mamah. Mamah akan menjaganya dengan baik."


Mishel pun tenang dan merasa terharu karena mereka begitu baik.


Obrolan berlanjut di ruang tamu. Mereka duduk di sofa. Masih membicarakan tentang masa depan anak yang belum lahir ke dunia itu. Namun tiba-tiba, Mishel merasakan sesuatu yang salah dengan perutnya. Dia seperti mulas dan ingin buang air besar tapi bukan.


"Ya ampun nak, apa kau akan melahirkan sekarang?" Ayunda mendekati dan mencoba menenangkan Mishel. "Tenanglah nak, tarik nafas panjang lalu keluarkan perlahan. Ikuti apa yang mamah katakan," perintahnya.


Mishel pun mengikutinya. Dia merasa lebih baik. Rasa sakit di perutnya menghilang.


"Bagaimana? Masih sakit?" tanya Ayunda.


"Rasa sakitnya hilang Mah," ujar Mishel.

__ADS_1


"Ok. tidak apa-apa sekarang sebaiknya kamu beristirahat. Mungkin itu bisa jadi kontraksi palsu. Jika nanti intensitas kontraksinya semakin sering baru kita ke rumah sakit. Mamah sudah menyiapkan semuanya, dokter dan ruang persalinan siap siaga menunggu kedatanganmu jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebaiknya sekarang kamu beristirahat, katakan pada mamah atau ibumu jika rasa sakit itu datang dengan jarak yang tidak lama."


Ayunda menatap Ibu Fira meminta pendapatnya.


"Apa yang dikatakan Nyonya Ayu memang benar nak. Kau harus istirahat untuk persiapan jika memang kamu akan menjalani persalinan sebentar lagi. Kami akan menjagamu, jadi jangan khawatir," ucap ibu Fira setuju. Tidak disangka Ayunda begitu tenang dan masih bisa berpikir jernih. Jika tadi tidak ada mereka pasti Ibu Fira sudah kebingungan dan panik.


Ibu Fira dan Ayunda menjaga Mishel bersama-sama. Mereka terus memberikan energi positif agar wanita itu lebih tenang.


"Aaaww Mah, sa—sakkit sekali. Aaawww."


Setelah merasa kontraksi yang dirasakan Mishel lebih sering, Ayunda pun menelepon pihak rumah sakit untuk bersiap.


"Ayo kita pergi sekarang," ujar Ayunda. "Kamu bisa jalan nak?"


"Sakit .... sangat sakit." Mishel sepertinya tidak bisa berjalan karena kontraksi itu terus terasa.


"Baiklah, tarik nafas panjang nak seperti yang mamah ajarkan. Mamah akan memanggil papah untuk menggendong mu ke mobil."


"Biar aku saja."

__ADS_1


__ADS_2