
Mishel seperti familiar dengan suara pelanggan itu tapi itu mungkin hanya mirip karena orang itu tidak mungkin ada di sana.
"Saya akan segera membuatkan pesanan Anda. Mohon tunggu sebentar." Setelah mencatat pesanan Mishel pun pergi dari sana. Memberikan pesanan pada ibunya lalu dia kembali mengantarkan pesanan dari meja ke meja.
Marco diam-diam mengawasi wanita itu, meski perutnya sudah membesar tidak membuat dia banyak mengeluh justru terlihat bahagia bisa melayani pelanggan. Saat itu juga Bu Fira melihat Marco saat lelaki itu mengangkat kepalanya. Dia juga melihat Marco sedang memperhatikan putrinya. Bu Fira tidak berharap banyak pada laki-laki itu. Dia lebih senang putrinya bersama dengan laki-laki yang bisa membahagiakan dan menjaganya. Bu Fira menyadari jika cinta tidak bisa dipaksa, beruntung dulu pernikahan putrinya yang mengatasnamakan pertanggungjawaban tidak terjadi.
"Bu mana pesanan untuk meja 5?" tanya Mishel.
"Sebentar, ibu sedang membuatnya. Kamu beristirahat lah jika lelah nak, nanti biar ibu yang mengantar. Pelanggan juga sudah mulai sepi."
"Tidak apa-apa, aku saja Bu." Mishel menikmati pekerjaan barunya. Andai saja bisa berjualan setiap hari sayangnya hanya di akhir pekan taman itu ramai pengunjung karena taman itu hanya digunakan oleh orang-orang yang tinggal di komplek itu.
Mishel mengantarkan makanan lagi. Mungkin karena terlalu lama berdiri dan berjalan membuat perutnya sedikit kram. Dia meringis sedikit tapi dia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Silahkan nyonya, kopi Anda," ucap Mishel.
"Terimakasih nak, waahh perutmu sudah besar apa sebentar lagi dia akan keluar?" tanya pelanggan itu.
"Perkiraan dokter sekitar seminggu lagi, Nyonya." Mishel menjawabnya dengan bahagia, mengusap perut yang sempat menegang tadi.
"Ya ampun, itu sebentar lagi. Seharusnya kamu jangan terlalu lelah nak. Perkiraan dokter bisa saja meleset, bisa lebih cepat atau lambat. Aku harap kalian sehat selalu ya."
"Di mana suamimu nak, apa dia membiarkan kamu bekerja?"
"Tidak Nyonya, saya masih sendiri." Tidak ada yang perlu ditutupi karena Mishel merasa percuma saja karena berita seperti itu pasti cepat terkuak.
"Ya ampun, maafkan aku. Tidak apa-apa nak, kamu pasti bisa menjadi wanita yang kuat."
__ADS_1
Tak lama kemudian pesanan yang dipesan oleh Marco sudah jadi dan kini saatnya Mishel mengantarkannya. Dia masih belum bisa melihat wajah pria itu karena menunduk dan tertutup topi.
"Pesanan Anda tuan. Selamat menikmati." Mishel pun pamit setelah tugasnya selesai.
Satu persatu pelanggan pergi karena hari juga semakin siang. Hanya tinggal beberapa saja yang masih duduk. Mishel membiarkannya. Dia lanjut membersihkan meja yang sudah kosong. Saat matahari mulai meninggi dan sudah sangat hangat. Mishel merasa kepalanya sedikit berkunang-kunang dan rasanya kerongkongannya terasa sangat kering. Mishel berpegangan pada meja-meja saat itu terjadi. Dan beruntung Marco melihatnya, saat tubuh Mishel terhuyung dia sigap berlari dan menangkap tubuhnya.
"Apa yang terjadi, bangunlah." Marco mencoba menepuk pipi wanita itu tapi dia tak kunjung sadar.
"Mishel!!" Bu Fira pun Panik melihat putrinya tiba-tiba chat pingsan. "Nak, apa yang terjadi padamu." Bu Fira sangat khawatir.
"Aku akan membawanya," ujar Marco.
Bu Fira mengangguk.
__ADS_1