
"Mas Byan, awas!" teriak Anggita kaget ketika melihat Raka yang mengarahkan pisau ke perut Byantara. Samuel yang sudah berhasil melepaskan ikatan pada mulut dan tangan Anggita, yang kini sedang membuka ikatan pada kaki Anggita ikut kaget dan menatap ke arah Byantara dan Raka berada.
Karena teriakan Anggita, Byantara menangkis serangan Raka dengan tangannya, seketika pergelangan tangan kemeja putih Byantara langsung berwarna merah. Byantara mau tidak mau bangun dari atas tubuh Raka, untuk menghindari serangan Raka yang menggunakan pisau secara membabi-buta.
Bagaimanapun Raka adalah seorang preman yang sudah terlatih untuk berkelahi, saat dia menggunakan senjata, Byantara tentu kalah.
Samuel yang hendak membantu dan ketika tengah melihat sekitarnya untuk mencari tongkat atau suatu alat agar dapat melawan Raka, tiba-tiba muncul Rizky di depan pintu pondok itu. Melihat sang Tuan yang sudah kewalahan menghadapi serangan Raka, Rizky dengan cepat langsung menghampiri Raka dan menendang tangan Raka dengan tepat dan keras, membuat pisau yang dipegang Raka langsung terpental. Sebentar saja Raka yang sebetulnya sudah babak belur dipukul Byantara, sudah berhasil dibekuk oleh Rizky, dengan mengunci tangan Raka di belakang. Samuel segera menghampiri Rizky dan memberikan tali yang tadi dipakai Raka untuk mengikat Anggita agar Rizky bisa mengikat Raka.
**********
Byantara langsung menghampiri Anggita, untuk melihat keadaan Anggita yang masih berada di tempat tidur.
"Kau tidak apa-apa Gita?" tanya Byantara khawatir, Byantara bahkan lupa dengan lukanya sendiri.
"Mas Byan, tangan mu terluka!" ujar Anggita dengan suara pelan dan bergetar, Anggita masih ketakutan dengan kejadian buruk yang hampir menimpanya tadi. Andai saja tidak ada Byantara dan Samuel yang muncul, Anggita tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengannya. Membayangkan hal itu, Anggita sungguh ketakutan dan trauma hingga seluruh tubuhnya menjadi lemas dan tidak bertenaga rasanya.
"Aku tidak apa-apa Gita, apa yang sudah dilakukan penjahat itu pada mu?" tanya Byantara.
Anggita yang teringat perlakuan Raka tadi, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tangannya menggenggam selimut yang menutupinya dengan erat. Byantara yang melihat mata Anggita berkaca-kaca menjadi curiga apa yang sudah dilakukan Raka terhadap Anggita.
Perlahan Byantara menggenggam tangan Anggita agar melepaskan selimut yang dipegang Anggita, ketika melihat baju Anggita yang berantakan dan bahu Anggita terdapat bercak merah, membuat Byantara emosi kembali. Dengan cepat Byantara membetulkan kembali baju yang dikenakan Anggita, sesudah itu langsung menoleh ke arah Raka dengan pandangan mengancam.
Byantara menghampiri kembali Raka yang sudah diikat dan tak berdaya itu, Byantara langsung menendang Raka dan ketika Raka jatuh terlentang, Byantara langsung menginjak dada Raka dengan emosi.
"Berani sekali kau menculik istri ku!" omel Byantara dengan kesal.
__ADS_1
"Dia bukan istri mu! Dia hanya perempuan penggoda! Mengapa kau malah membuang istri mu Sella?" tanya Raka menggunakan nama Sella, siapa tahu Byantara akan melepaskannya. Raka tidak tahu kalau dugaannya sudah salah, Raka tidak tahu kejadian yang sebenarnya, Raka hanya tahu dari Sella kalau Sella dicerai Byantara karena ada pelakor, dan pelakor itu adalah Anggita.
"Aku adalah sepupu Sella! Aku melakukan semua itu karena tidak rela kau telah membuang sepupu ku, karena wanita penggoda itu!" ujar Raka membuat alasan, berharap Byantara akan melepaskannya kalau mendengar dia adalah sepupu Sella.
Raka tidak menyangka kalau alasannya malah membuat Byantara semakin marah dan langsung menginjak-injak Raka dengan kesal. Apalagi Byantara teringat bekas bibir di bahu Anggita, membuat Byantara rasanya dia ingin membunuh Raka.
Rizky ketika melihat keadaan Raka yang sudah mengenaskan, akhirnya menarik Byantara untuk menghentikan kegiatannya itu.
"Tuan Byantara, kalau seperti itu terus nanti bisa mati. Nanti kita tidak punya saksi untuk menangkap otak pelakunya. Dan saya sudah mendapat beberapa bukti, kalau nona Sella juga yang sudah membayar orang untuk mencelakakan Tuan Samuel," ujar Rizky sekalian melaporkan penemuannya itu.
"Benarkah?" tanya Byantara.
"Benar Tuan! Kami sudah memperoleh bukti transfer pembayaran transaksi, dan itu berasal dari rekening nona Sella," ujar Rizky meyakinkan.
Byantara langsung terdiam, Byantara tidak menyangka kalau Sella begitu jahat. Saat dia mengetahui Sella berselingkuh di belakangnya, Byantara saat itu hanya berpikir kalau Sella seorang perempuan yang tidak setia saja, dan mungkin karena sikapnya yang dingin membuat Sella menjadi tidak setia.
Ternyata aku membuang permata hanya demi batu krikil di pinggir jalan! sesal Byantara. Penyesalan memang selalu datang terlambat, tetapi Byantara berharap kali ini dia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya itu, semoga belum terlambat!
**********
Byantara keluar sebentar dan kembali ke pondok dengan membawa jasnya. Saat Byantara kembali, Samuel terlihat duduk di pinggir tempat tidur Anggita dan memperhatikan Anggita. Anggita sendiri terlihat masih shock dengan kejadian yang menimpanya, tampak Anggita yang kini duduk dengan memeluk kedua lututnya dengan tatapan kosong.
"Ayo Gita, kita kembali ke Mansion!" ajak Byantara berusaha membuang rasa cemburunya melihat Samuel yang duduk di dekat Anggita, dan sedang memperhatikan Anggita. Bagaimanapun Samuel tadi sudah menolong dia menemukan Anggita.
"Aku...Aku....," tampak Anggita terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Kenapa Gita? Kalau ada apa-apa katakan saja!" malah Samuel yang bertanya lebih dulu.
"Badan ku tidak bertenaga," sahut Anggita dengan malu. Byantara sampai dahinya berkerut karena bingung, dia masih tidak mengerti apa maksud Anggita.
"Ayo! Ku gendong kau ke mobil!" sahut Samuel setelah beberapa saat sambil bangun dari duduknya. Samuel memang memiliki perasaan yang lebih peka dan pengertian.
Anggita menggelengkan kepala dan mengucapkan terimakasih pada Samuel. Memang Samuel baik kepadanya, tapi sepertinya tidak ada kesempatan buat mereka untuk bersama lagi. Anggita tidak ingin memberi harapan lagi pada Samuel. Padahal Anggita merasa dia tidak bisa berjalan karena masih shock dan tubuhnya benar-benar lemas karena kejadian tadi.
Huh, perasaannya sangat tidak peka! omel Gita dalam hati sambil mencuri pandang ke arah Byantara.
**********
"Permisi! Ada sesuatu yang harus aku lakukan!" ujar Byantara mengusir halus Samuel yang masih berdiri di pinggir tempat tidur dekat Anggita. Samuel akhirnya melangkah menjauhi tempat itu dan tidak banyak protes.
Byantara perlahan membuka selimut yang menutupi tubuh Anggita dan segera menyampirkan jasnya ke tubuh Anggita.
"Apakah kau kesulitan untuk bangun?" tanya Byantara.
Anggita mengangguk mengiyakan dengan tersipu dan mengomel dalam hati.
Ih! Masih pake nanya lagi! Dasar mati rasa! gerutu Anggita dalam hati.
"Ayo!" ajak Byantara tanpa menjelaskan apa yang mau dia lakukan, tapi Byantara langsung mengangkat tubuh Anggita ala bridal style, dan Byantara bisa bernafas lega, ketika Anggita sama sekali tidak memprotes apa yang sudah dia lakukan, dan malah memeluk lehernya kemudian.
Samuel hanya memperhatikan pasangan itu dari belakang. Kali ini Samuel sudah tahu kalau dia sudah tidak mempunyai kesempatan bersama Anggita lagi. Kali ini dia harus benar-benar belajar melupakan Anggita!
__ADS_1
Bersambung