Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 20


__ADS_3

Kehidupan Marco setelah itu tidak lebih baik setelah pernikahan nya batal. Dia masih suka bermain di bar dan mabuk juga bersenang-senang dengan wanita tapi dia sudah hampir tidak pernah bermalam dengan wanita. Pernah beberapa kali mencobanya tapi wajah kecewa sang mamah dan wajah wanita itu membayangi pikirannya dan membuat moodnya hancur seketika.


Wanita yang biasa menghabiskan malam dengannya pun banyak yang kecewa. Mereka tak lagi bisa mendapatkan banyak uang dari Marco karena tidak bisa memuaskannya. Walaupun laki-laki itu masih suka memberi secara cuma-cuma pada wanita yang menemaninya minum. Dia semakin sering mabuk untuk mengobati kesendiriannya. Dia juga lebih banyak tinggal di apartemen tapi dia tetap menyuruh orang memantau hubungan kedua orangtuanya dengan Mishel.


Sejauh ini memang tidak ada yang mencurigakan dan membuat Marco mulai berpikir apa mungkin dia sudah salah menilai wanita itu. Meski dia berusaha menyangkal akan kenyataan itu.


Dengan papahnya meski satu perusahaan dan hanya berbeda lantai, dia juga jarang bertemu. Biasanya hanya jika ada urusan pekerjaan saja.


Tok tok tok. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan panjang Marco.


"Tuan, saya mendengar hari ini Tuan Besar tidak ada di kantornya," lapor Sean.


"Papah, kemana dia? Apa terjadi sesuatu?" gumam Marco.


"Tuan besar ada di rumahnya, kabarnya nyonya sedang sakit."


"Sakit? Apa kamu bilang, mamah sakit?" Marco terkejut, memang sudah beberapa hari ini dia tidak pulang ke rumah. Tapi sungguh keterlaluan sampai tidak ada yang mengabarinya tentang keadaan mamahnya.


Seketika Marco menghentikan pekerjaannya, dia menyambar jas dan juga kunci mobil miliknya.


"Apa Anda akan pulang ke rumah utama Tuan?" tanya Sean.


"Iya, tolong kau handle pekerjaanku dan atur ulang jadwal pertemuanku dengan klien," perintah Marco sambil berjalan menuju pintu.


Sean tersenyum melihat tuannya mengkhawatirkan ibunya. Dia juga ikut merasakan dampaknya karena hubungan ibu dan anak yang tidak akur itu. Tuan yang diikutinya manjadi banyak bekerja untuk mengalihkan pikirannya dari masalah.

__ADS_1


...


Marco melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, walaupun pikirannya dihinggapi kekhawatiran tapi dia juga harus tetap berhati-hati agar tidak menambah masalah.


Beberapa saat kemudian, dia sampai di rumah orangtuanya. Dia bergegas masuk untuk melihat keadaan mamahnya. Marco tidak peduli meski nanti mamahnya menolak dia untuk bertemu, dia akan tetap menerobos masuk dan memeluk mamahnya.


"Bi, apa mamah ada di kamarnya?" tanya Marco pada Nimas yang merupakan pembantu rumah tangga yang sudah bekerja cukup lama di rumah orangtuanya.


"Tuan Anda di sini ... Nyonya ada di kamarnya tapi—" Nimas tidak tau bagaimana caranya menyampaikan.


"Apa benar mamah sakit? Sejak kapan bi? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" tanya Marco.


Nimas pun tidak tau penyebab pastinya dia hanya menjalankan perintah majikannya. Saat sang nyonya mengatakan tidak perlu memberitahu putranya karena hanya sakit ringan.


"Itu ... kata Nyonya hanya sakit biasa jadi tidak memberi tahu Tuan karena tidak ingin membuat tuan muda khawatir," ujar Nimas.


"Baiklah Bi, biar aku lihat keadaan mamah."


"Tapi, Nyonya—" Nimas bingung bagaimana menyampaikan jika ada seseorang di sana yang mungkin tidak ingin tuan mudanya temui.


Marco segera naik ke atas dan kebetulan dia berpapasan dengan papahnya. Dia pun berhenti sebentar, menatap kecewa pada papahnya. Apa harus menyembunyikan hal seperti itu pada putranya sendiri.


"Kau pulang? Bagaimana dengan pertemuannya?" tanya Gerry menegur sang putra. Dia pura-pura tak melihat kekecewaan di mata anak lelakinya itu.


"Apa papah harus bertanya jika sudah tau jawabannya. Kenapa menyembunyikan hal seperti ini, apa aku tidak boleh melihat mamahku sendiri." Marco merasa seperti orang asing, orangtuanya masih ada tapi dia seperti kehilangan mereka.

__ADS_1


Gerry menepuk pundak putranya. Sang istri yang memintanya untuk tidak memberitahu sang putra, tentu saja dia akan menuruti apapun permintaannya. Walaupun begitu dia sengaja pulang cepat dan memberi tau sekretarisnya alasan dia pulang. Dengan begitu berita itu akan sampai pada Marco. Benar saja sang putra sudah berada di rumah sekarang. Jadi dia tidak melanggar janjinya pada sang istri tapi dia juga bisa memberi tau Marco dengan cara lain.


"Kamu pasti sudah tau jawabannya juga, papah paling tidak bisa menolak permintaan mamahmu. Dia hanya demam dan tekanan darahnya sedikit rendah tapi keadaannya sudah lebih baik. Jika kau ingin bertemu dengannya nanti saja karena sekarang sedang ada Mishel bersama mamahmu. Kamu pasti tidak ingin bertemu dengannya. Ayo ikut papah ke bawah."


Marco mengangkat ke dua alisnya. Kenapa wanita itu ada di rumah orangtuanya.


"Kamu pasti bertanya kenapa dia ada di sini, beberapa hari ini mamahmu tidak berselera makan dan kelihatan sedih. Setelah Mishel datang membuatkan dia bubur dan makanan, barulah mamahmu mau memakannya. Dia juga menemanimu dan menjaga mamahmu dengan sangat baik walaupun perutnya sudah cukup besar dan kesulitan untuk beraktivitas," terang Gerry, dia merasa putranya sudah terlalu salah paham pada Mishel. Marco terlalu terperangkap pikiran buruk dan menilai wanita sama padahal Gerry bisa menilai jika Mishel benar-benar berhati tulus.


Setelah mengobrol cukup lama dengan sang papah, Marco memutuskan untuk pergi ke lantai atas untuk melihat keadaan mamahnya. Walaupun papahnya melarang, dia tidak sabar lagi menunggu.


Sekarang disinilah Marco berada. Dia berdiri cukup lama di depan pintu kamar sang mamah yang sedikit terbuka mendengar pembicaraan mereka dan bagaimana wanita itu merawat ibunya dalam keadaan perut yang sudah membesar. Benar, perutnya sudah cukup besar dari terakhir Marco melihatnya. Melihat dia wanita itu mengusap perutnya membuat Marco merasa aneh dengan dirinya sendiri, entah kenapa dia juga ingin mengusapnya.


"Aku akan pulang sekarang, mamah beristirahatlah," ujar Mishel seraya menyelimuti tubuh Ayunda yang masih terlihat pucat.


"Terimakasih sudah menemani Mamah. Beberapa hari ini mamah juga merepotkanmu. Maafkan mamah, membuat kamu kesulitan." Ayunda memegang tangan Mishel, wanita baik yang sudah dihancurkan masa depannya oleh sang putra. Rasa bersalah itu akan tetap hinggap dalam hati Ayunda sebagai perempuan dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia berada di posisi Mishel. Walaupun wanita itu sudah memaafkan putranya dan Ayunda serta suaminya pun sudah memberikan pertanggungjawaban sebagai orangtua, menganggap Mishel seperti putrinya sendiri. Tapi tetap saja semua itu seakan tidak sebanding.


"Mamh bicara apa. Mamah kan ibuku juga jadi sudah semestinya aku merawat mamah. Aku harap mamah segera sembuh, aku rindu masakan mamah." Mishel meletakkan tangan satunya di atas punggung tangan Ayunda yang sedang memegangnya.


Ayunda tersenyum simpul, beruntung sekali bisa memiliki putri seperti Mishel.


"Aku pulang ya Mah."


"Iya nak, berhati-hatilah. Jaga cucu mamah dengan baik." Perut membuncit itu mendapatkan usapan lembut dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi nenek.


Mishel keluar setelah berapa tapi tubuhnya mematung saat berpapasan dengan laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu kamar Ayunda. Mereka saling menatap sebentar sebelum akhirnya Mishel mengalihkan pandangannya terlebih dahulu. Dia menundukkan kepalanya memberi hormat lalu melewati pria itu yang masih melihatnya dengan tatapan tak terbaca.

__ADS_1


Langkah Mishel kembali terhenti saat tiba-tiba seseorang memegang pergelangan tangannya dan ...


__ADS_2