Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Pergi bersama Byantara


__ADS_3

Senyum Anggita langsung hilang begitu melihat kemunculan Byantara di ruang makan. Byantara tentu dapat merasakan perubahan wajah Anggita. Byantara akhirnya memindahkan pandangannya pada Sella yang baru muncul di ruang makan juga, Sella tadi dengan cepat mengikuti Byantara di belakang dan segera ikut duduk di samping Byantara.


Bu Darmawan langsung menghela nafas ketika melihat penampilan Sella yang sexy. Saat itu ruang makan hanya ada Bu Tatik saja, pelayan kepercayaan Bu Darmawan. Sedangkan pelayan lain sudah keluar setelah mempersiapkan semua makanan dan peralatan di meja makan.


Akhirnya Bu Darmawan tidak bisa menahan mulutnya lagi untuk mengomentari penampilan Sella.


"Sella! Kalau kau mau berpakaian sexy, itu kan cukup untuk dilihat suami mu saja. Di saat kau berada di luar kamar, harusnya kau bisa berpakaian yang lebih sopan. Yang melihat mu banyak, bukan hanya Byantara saja. Kau sendiri tahu kalau pelayan kita tidak semuanya berjenis kelamin perempuan saja! Apalagi sekarang ada Benji yang masih kecil!" tegur Bu Darmawan kesal.


"Kau juga Byantara! Harusnya kau bisa lebih mengatur istri mu itu. Ibu tahu kalau dia seorang foto model, tapi di rumah tidak perlu berpenampilan seperti itu!" tegur Bu Darmawan menatap tidak senang pada Sella. Apalagi sejak kedatangan Anggita, Bu Darmawan sering menyesal mengapa dulu Byantara menceraikan Anggita, kini tanpa sadar Bu Darmawan jadi sering membandingkan penampilan Sella dan Anggita.


Penampilan Anggita selalu membuat adem yang lihat, feminim dan anggun tanpa harus mengumbar sana sini! pikir Bu Darmawan yang tanpa sadar menatap ke arah Anggita dan tersenyum bangga, bagaimana juga Anggita adalah anak angkatnya. Hasil didikannya.


Sella hanya bisa diam dan menunduk malu karena ditegur di depan Anggita.


Ih! Dasar nenek cerewet! Baju saja diurus, kolot banget sih! Sudah bagus gak pakai model kayak bikini! Sella hanya berani menggerutu dalam hati.


********


Sedangkan Anggita tanpa sadar menatap ke arah Sella setelah mendengar perkataan Bu Darmawan.


Betul! Sella penampilannya terlalu sexy kalau untuk keluar dari kamar. Tapi Byantara membiarkannya saja, Byantara ternyata benar-benar mencintai Sella. Apa saja yang dilakukan Sella tidak pernah ada yang salah, berbeda sekali dengan ku dulu. Tapi mengapa tadi mas Byan mencium ku? Apakah dia menganggap ku perempuan murahan? Saat ini aku bukan siapa-siapa nya lagi, tapi dia dengan seenaknya mencium ku! Dia hendak menghina ku!" geram Anggita dalam hati, tanpa sadar Anggita teringat dulu kalau setiap dia tidur, dia selalu berpakaian tidur sexy untuk menarik perhatian Byantara, tapi dia malah ditegur Byantara.


"Kau tidak usah memancing ku dengan berpakaian sexy!" tegur Byantara kala itu.


Karena melamun, Anggita akhirnya tidak sadar ketika Benji meminta diambilkan ikan goreng tepung yang terletak dekat dengan Byantara dan Sella.


Ketika Byantara bangun dan menghampiri Benji, mengambilkan lauk yang dipinta Benji, Anggita baru sadar, tapi sudah terlambat. Benji tampak menatap ke Byantara bingung tidak menyangka Byantara yang bantu mengambilkan keinginannya.

__ADS_1


"Kalau suka, makan yang banyak Benji!" ujar Byantara menaruh banyak potongan ikan goreng tepung itu ke piring Benji.


"Baik, Om montel!" sahut Benji.


"Apa itu Om Montel Benji? Benji harus memanggilnya papa!" potong Bu Darmawan tiba-tiba..


"Ayo Benji, panggil papa!" desak Bu Darmawan lagi, membuat Benji menjadi ragu dan menatap ke arah Anggita, seakan menunggu persetujuan Anggita.


"Gita! Benarkan kalau Benji harus memanggil papa?" Kini Bu Darmawan mengalihkan pertanyaan pada Anggita.


"Kau harus memberitahu Benji, Gita!" desak Bu Darmawan lagi.


Akhirnya Anggita mau tidak mau mengikuti permintaan Bu Darmawan


"Benji! Panggil papa, dia papanya Benji," ujar Anggita.


"Benji anak pintar!" puji Byantara merasa senang dan tanpa sadar mengangkat Benji dari kursinya, dan mengangkatnya tinggi sangking senangnya. Byantara merasa dia sudah terlalu lama menunggu Benji memanggilnya papa, akhir nya hari ini Benji memanggilnya dengan papa.


"Mas Byan! Jangan begitu, Benji baru makan, takutnya muntah kalau kau ayun-ayun seperti itu!" tegur Anggita yang merasa tidak senang.


"Ah maaf, aku gak tahu kalau bisa begitu," ujar Byantara yang segera meletakkan Benji ke tempat duduknya lagi.


"Mulai sekarang Benji kalau mau apa saja, bilang sama papa, papa pasti berikan. Dulu minuman merah itu namanya wine, bisa bikin mabuk, makanya papa gak mau ambilkan buat Benji," ujar Byantara yang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Benji.


"Tapi papa bilang Benji rakus," ujar Benji mengerucutkan bibirnya cemberut.


"Papa cuman bercanda, habis Benji lucu," ujar Byantara membuat alasan.

__ADS_1


"Iya, Benji itu lucu kok. Tadi pergi main saja, Benji selalu membuat nenek tertawa terus. Nenek saja senang banget pergi sama Benji!" puji Bu Darmawan membantu Byantara.


Akhirnya Benji sudah tidak marah lagi, namanya juga anak kecil, gampang marah tapi juga gampang melupakan rasa marahnya.


"Sudah! Ayo lanjutkan lagi makannya!" ujar Bu Darmawan tersenyum senang. Byantara juga merasa senang dan berjalan kembali ke tempat duduknya.


Hanya Anggita dan Sella yang tidak senang. Sella sudah pasti merasa cemburu dan iri, bahkan kini dia merasa kedudukannya semakin terancam. Sedangkan Anggita merasa khawatir, Anggita khawatir dia akan semakin sulit untuk lepas dari Mansion Darmawan kalau keadaannya seperti ini, Anggita juga ingin mengatur masa depannya sendiri, sudah pasti Anggita juga ingin punya keluarga sendiri juga!


*********


Keesokkan harinya Byantara dan Anggita membawa Benji ke sekolahan yang ditunjuk Bu Darmawan.


Tadinya Anggita sangat berharap kalau Byantara akan sibuk dan tidak sempat pergi bersama, tapi ternyata harapannya tidak terkabul.


"Mas Byan kalau sibuk, aku bisa pergi bersama ibu!" ujar Anggita canggung.


"Untuk Benji aku pasti ada waktu!" sahut Byantara menahan kekesalannya, Byantara tahu kalau Anggita berusaha menghindarinya.


"Ya sudah, kalau kau sempat biar kau dan Anggita yang pergi bersama Benji. Jadi kalian berdua bisa memutuskan sekolah itu cocok tidak buat Benji," ujar Bu Darmawan menengahi kecanggungan di antar Byantara dan Anggita.


Saat Byantara ikut duduk di belakang bersama Anggita dan Benji, kali ini Anggita sudah tidak bisa menolak lagi karena hubungan Byantara dan Benji sudah semakin membaik. Benji sendiri sudah tidak menolak, ketika Byantara duduk di samping kanannya. Sedangkan Anggita duduk di sebelah kiri.


Sepanjang perjalanan, Byantara yang lebih sering mengajak Benji berbicara. Ada-ada saja yang dibicarakan Byantara pada Benji, entah game kesukaan Benji bahkan sampai makanan dan snack kesukaan Benji. Anggita tidak mengira kalau Byantara yang sejak dulu jarang ngobrol, bisa menjadi aktif memulai pembicaraan dengan Benji. Anggita yang merasa canggung karena keberadaan Byantara lebih banyak diam. Anggita akhirnya mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil sambil melamun.


"Benar kan Ma?" tanya Benji menggoyang-goyangkan tangan Anggita tiba-tiba, membuat Anggita yang sedang melamun bingung, karena sama sekali tidak tahu apa yang sedang ditanyakan Benji.


Bersambung..........

__ADS_1


__ADS_2