
Melihat keadaan Anggita, Byantara merasa bersalah. Sepertinya setiap kali dia selalu menyakiti perasaan hati Anggita. Kalau dulu dia memang dengan sengaja menyakiti hati Anggita, karena Anggita memaksa hendak menikah dengannya. Tapi kini saat dia mau berubah, apalagi Byantara kini sudah sadar kalau dia mencintai Anggita, tetapi selalu terjadi salah paham di antara mereka.
Mungkin ini hukuman buat ku, karena dulu sudah menyia-nyiakan Anggita. Tidak bisa dibiarkan seperti ini, bisa-bisa ini mempengaruhi kehamilan Anggita, pikir Byantara dalam hati akhirnya mematikan laptopnya dan segera bangun menuju ke kamar Anggita.
Masuk di kamar Anggita, membuat Byantara semakin merasa bersalah mendengar tangisan pilu Anggita yang menyayat hati. Padahal Anggita perempuan yang keras kepala dan jarang menangis.
Anggita yang menempelkan dahinya pada lututnya yang ditekuk, sama sekali tidak menyadari kehadiran Byantara yang bertelanjang kaki, agar tidak bersuara.
Melihat posisi Anggita, Byantara yang menjadi khawatir. Byantara langsung duduk di pinggir tempat tidur dan menangkap kedua tangan Anggita yang dilipat dan bertumpu pada lutut Anggita. Anggita tentu kaget menyadari kehadiran Byantara yang kini menatap matanya yang masih berair.
"Lepaskan aku! Kau kembali saja pada perempuan itu, jangan melampiaskan nya pada ku!" omel Anggita marah sambil berusaha menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Byantara.
"Stttt, jangan teriak. Nanti Benji terbangun! Mengapa posisi mu seperti itu? Kaki mu yang menekuk itu apakah tidak akan mengganggu bayi kita? Ayo kita bicarakan baik-baik di kamar ku!" bisik Byantara yang melihat ke arah Benji yang masih tertidur, walau tadi suara Anggita lumayan besar.
"Yang kau khawatir kan cuman bayi mu saja! Aku lebih tahu apa yang boleh dan tidak boleh. Aku tidak mau ke kamar mu, aku sudah capek! Kau lepaskan aku saja, aku mau tidur!" tolak Anggita.
"Kau dari tadi tidak tidur, kau masih menangis!" sahut Byantara menghela nafas, berusaha sabar menghadapi Anggita yang keras kepala itu. Perlahan sebelah tangannya berpindah ke wajah Anggita, dan dengan jarinya Byantara menghapus air mata Anggita.
"Aku menangis karena aku capek! Kau yang membuat ku seperti itu! Kau tidak menginginkan ku, tapi kau selalu membuat aku hamil anak mu," ujar Anggita kesal dan menyalahkan Byantara. Anggita tidak ingin Byantara tahu kalau dia menangis karena rasa cemburu dan sakit hatinya, bisa-bisa Byantara menjadi besar kepala pikir Anggita.
"Siapa yang bilang aku tidak menginginkan mu Gita? Aku sangat menginginkan mu, tapi kau selalu menolak ku! Sebaiknya kita bicara di kamar ku, kita harus menyelesaikan masalah kita, agar hidup ku tenang, Gita!" ujar Byantara yang bangun dari duduknya dan menarik tangan Anggita, mengajak Anggita ke kamarnya.
__ADS_1
Anggita sama sekali tidak mau bergerak, Anggita malah menggeleng-gelengkan kepalanya menolak permintaan Byantara.
"Aku capek, aku malas!" tolak Anggita tetap pada pendiriannya
Byantara benar-benar gemas dengan Anggita yang menurutnya sifat Anggita seperti anak-anak yang tengah merajuk. Tapi Byantara juga tidak kehabisan akal.
"Dasar kepala batu! Aku tidak akan membuat mu capek!" omel Byantara yang segera membungkukkan badannya, tahu-tahu Byantara sudah mengangkat tubuh Anggita dan dengan cepat membawa Anggita ke kamarnya. Kebetulan kaki Anggita yang menekuk, membuat dia dengan mudah untuk mengangkat tubuh Anggita. Anggita yang tidak menyangka kenekatan Byantara, sempat terdiam karena kaget. Setelah beberapa saat sadar, Anggita langsung memukul dada Byantara. "Turunkan aku!"
"Kau diam-diam, nanti kita berdua jatuh! Aku turunkan setelah di kamar ku! Kau bisa membuat Benji bangun karena emosi mu," ujar Byantara yang segera menutup pintu penghubung dan melangkah ke tempat tidurnya, menurunkan Anggita di atas tempat tidurnya.
"Nah! Kau kan gak capek, gak usah pakai jalan," ujar Byantara tersenyum menang.
"Dasar Buaya! Kerjanya cuman merayu perempuan!" gerutu Anggita mengerucutkan bibirnya kesal.
"Huh! Mana ada maling ngaku maling? Bisa-bisa penjara penuh!" sahut Anggita ketus dan membuang mukanya ke samping, tidak mau melihat ke Byantara lagi.
Kali ini kesabaran Byantara benar-benar habis sudah!
*********
Byantara langsung mengambil posisi di samping Anggita. Dengan tangannya Byantara merangkum wajah Anggita agar menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Kau tahu kalau kau adalah pegawai ku sudah ku hukum? Perkataan ku selalu kau sanggah!" omel Byantara yang semakin gemas pada Anggita.
"Aku tidak perduli! Aku tidak suka pada mu! Aku muak melihat pria mesum seperti mu!" sahut Anggita yang menatap galak ke Byantara.
*********
"Emmm," Anggita berusaha mendorong Byantara agar menjauh dan menghindari luma*tan bibir Byantara. Anggita benar-benar tidak menyangka kalau Byantara tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirnya dengan paksa. Kedua tangannya menahan wajah Anggita, agar Anggita tidak bisa menghindar lagi.
Byantara sama sekali tidak memperdulikan Anggita yang memberontak, sehingga Anggita tidak bisa menolaknya lagi. Lama-lama Anggita menjadi terpengaruh saat Byantara merubah kecupannya menjadi lembut. Tanpa sadar Anggita mengalungkan tangannya ke leher Byantara dan menikmati kecupan Byantara dan sama sekali sudah tidak memberontak. Tangan Byantara pun sudah perlahan menurun dan mengelus-elus bahu Anggita, membuat Anggita yang minim pengalaman semakin terbuai.
Tetapi Byantara mengakhiri aksinya, setelah mengecup bahu Anggita dan meninggalkan jejak. Byantara mengakhirinya secara mendadak juga, seperti tadi saat dia menyerang Anggita dengan kecupan-kecupannya secara mendadak juga, membuat Anggita wajahnya langsung merona merah karena malu. Anggita benar-benar malu karena tadi dia bisa dengan mudah dipengaruhi Byantara.
Dengan kaki gemetar, Anggita langsung berdiri dan hendak berlari ke kamarnya menghindari Byantara. Byantara yang melihat gerakan Anggita, refleks ikut bangun dan segera memeluk pinggang Anggita dari belakang agar Anggita tidak menghindarinya.
"Kau puas mas Byan? Sudah berhasil mempermalukan aku?" tanya Anggita. Byantara langsung maju dan berpindah posisi menghadap ke arah Anggita, kedua tangannya memegang kedua bahu Anggita, agar Anggita tidak lari menghindarinya lagi.
"Gita, mengapa kau selalu berpikiran negatif pada ku? Dulu aku memang jahat pada mu, tapi kini aku sudah berubah. Tidak ada setitik pun pikiran di otak ku untuk mempermalukan kamu Gita! Kau sekali saja mendengar penjelasan ku Gita, aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku kini mencintai mu, aku tidak akan mengkhianati mu lagi dengan bermesraan bersama wanita lain, Gita! Aku hanya menginginkan mu, ibu dari anak-anakku!" ujar Byantara penuh perasaan, membuat Anggita terpaku dan tidak menyangka kalau seorang Byantara bisa menjadi romantis.
Byantara menarik Anggita masuk dalam pelukannya, dan mengecup ubun-ubun Anggita dan perlahan berpindah ke dahi Anggita penuh perasaan, membuat jantung Anggita berdegup kencang kembali.
"Maukah kau mendengarkan penjelasan ku, Gita?" bisik Byantara .
__ADS_1
Bersambung..............