
Plak!! Satu tamparan mendarat di pipi Marco. Meski tidak begitu keras tapi tamparan itu menunjukkan betapa kecewanya perasaan seorang ibu yang selama ini meyakini jika putranya adalah laki-laki yang baik. Tapi baru saja dia mendapati kenyataan jika selama ini dirinya sudah ditipu oleh putranya sendiri.
"Mamah sangat kecewa padamu, Marco. Bagaimana kamu bisa bertindak seperti binata*ng. Setelah menodai seorang wanita baik-baik kamu lari dari tanggungjawab. Di mana Marco yang Mamah kenal, Mamah tidak pernah merasa melahirkan anak seperti kamu yang tidak bertanggungjawab. Lebih baik kamu bun*h saja mamahmu ini." Ayuni meluapkan kekecewaannya terhadap sang putra. Satu tamparan itu tidak cukup untuk membuat putranya itu sadar jika apa yang dia lakukan selama ini salah.
Kalau saja dia bukan putranya sendiri, Ayuni akan memberikan tamparan bukan hanya sekali tapi berulang kali sampai laki-laki itu tak berdaya dan memohon untuk dilepaskan.
Gerry mengusap punggung istrinya yang ini sedang dalam menangis kecewa. Tangis sang istri yang begitu menyayat hati itu membuat Gerry semakin marah pada sang putra yang telah melakukan perbuatan itu.
Baru kali ini ini Marco mendapatkan tamparan dari dari mamanya meski fisiknya sama sekali tidak merasakan sakit tapi hatinya sangat nyeri melihat kekecewaan di mata mamahnya yang terlihat jelas. Ditambah dengan air mata yang mengalir dari mata indah wanita yang telah melahirkannya. Marco paling tidak bisa melihat mamahnya sedih dan kini malah ia sendiri yang membuat sang mamah menangis.
Marco berlutut di depan mamahnya yang kini sedang menangis di pelukan sang papah. Dia tidak menyangkal semua yang mamahnya ucapkan karena semua itu benar adanya. Dia memang suka sekali bermain dengan wanita, tidak seperti yang kelihatan di depan mamahnya. Bibirnya terasa kaku untuk sekedar meminta maaf. Sejujurnya Marco tau jika apa yang ia lakukan itu salah tapi hatinya yang terlanjur sakit membuat dia melakukan hal itu. Melampirkan rasa sakitnya pada wanita lain.
"Mamah tidak mau tau dan tidak menerima alasan apapun. Kamu harus bertanggungjawab atas wanita itu dan anak yang ada dalam kandungannya. Perbaiki semua kesalahan yang sudah kamu buat, tebus dosa-dosamu dengan membahagiakan mereka."
__ADS_1
Marco mengangkat kepalanya keberatan, dia bahkan belum tau siapa wanita itu yang tiba-tiba datang ke rumah. Dia harus menyelidikinya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Bagaimana jika wanita itu adalah mantan-mantannya yang coba menjebaknya dengan janin yang entah milik siapa.
"Mahh, maafkan aku. Aku tau perbuatanku salah selama ini. Maaf karena sudah membuat Mamah kecewa. Tapi aku mohon ijinkan aku menyelidiki tentang wanita itu lebih dulu, kita tidak tau jika dia berbohong. Bagaimana jika ternyata janin itu bukan anakku, apa mamah mau aku merawat anak orang lain."
"Mamah yakin gadis itu tidak berbohong, Bagaimana dia menceritakan saat kamu menodainya dengan paksa dan akhirnya hamil. Mamah percaya padanya, dia gadis baik-baik," ujar Ayunda.
"Tapi Mah—"
"Stop Marco, papah sudah menyelidikinya. Papah sudah melihat rekaman cctv yang ada di hotel saat kejadian itu terjadi. Benar jika wanita yang kamu seret ke dalam kamar sama dengan wanita yang datang kemari, waktu kejadian dengan umur janinnya juga pas. Kamu mau mengelak apa lagi?!" sentak Gery pada putranya. "Papah sangat malu jika sampai kamu tidak bertanggungjawab. Sebagai laki-laki seharusnya kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Bagaimana kamu menghancurkan hidup gadis baik-baik itu."
"Ya, secepatnya kita akan menemui gadis itu dan keluarganya," ucap Gerry tegas. Meski dia selama ini menutupi kesalahan putranya tapi kali ini dia tidak akan mentolerir lagi. Ada cucunya yang saat ini membutuhkan pertanggungjawaban dari ayahnya. Dia tidak akan membiarkan calon cucunya terlantar.
...
__ADS_1
Keesokan harinya. Tepatnya siang harinya setelah Marco menyelesaikan meeting penting di perusahaan. Dia pulang lebih dulu untuk menemui gadis itu bersama kedua orangtuanya. Marco sudah memikirkannya semalaman, mengingat wanita itu. Wanita yang menghabiskan malam bersamanya saat dia dijebak oleh mantan pacarnya. Marco pikir saat ini sudah tidak ada wanita yang bisa menjaga kesuciannya apalagi wanita itu terlihat sudah cukup dewasa. Jadilah tanpa pikir panjang dia menarik wanita itu untuk melampiaskan pengaruh obat.
Walaupun samar, Marco mengingat jika malam itu memang berbeda rasanya. Dia yakin sudah biasa melakukan hal itu merasa wanita itu berbeda dan ternyata memang benar karena dia masih tersegel. Namun karena Marco sudah kepalang tanggung dia pun meneruskannya meski mendengar perlawanan dan permohonan wanita itu. Hah, itu karena pengaruh obat siaallaan yang dimasukkan ke dalam minumannya.
Paginya dia yang masih pusing hanya mengatakan agar wanita itu mengambil salah satu kartu yang ada di dompetnya sebagai ganti semalam. Sebenarnya Marco belum benar-benar sadar pagi itu jadi dia melakukan itu tanpa sadar seperti biasanya yang dia lakukan pada wanita yang tidur dengannya. Siangnya baru dia bangun setelah pengaruh obat itu benar-benar hilang. Dia juga melihat noda merah itu membekas di atas sprei tapi dia tidak ingat siapa wanita itu.
Marco pikir saat itu semuanya sudah selesai karena wanita itu sudah tidak ada. Ya, mungkin sudah mengambil uang atau kartu kredit di dalam dompetnya tapi ternyata tidak. Semuanya masih utuh. Sempat membuat Marco kepikiran tapi dia tidak berusaha mencari karena ia pikir wanita itu yang akan mencarinya. Sampai dia lupa dan tiba-tiba wanita itu muncul kembali membawa kabar yang mengejutkan.
Anak?? Satu kata itu belum ada di benak Marco sama sekali. Selama ini dia bahkan selalu bermain aman kecuali malam itu dia tidak ingat tapi sepertinya memang tidak menggunakan pengaman karena tidak ada bekasnya sama sekali.
"Hah, kenapa aku tidak kepikiran sampai ke sana. Aku sama sekali tidak berpikir wanita itu akan hamil anakku." Marco meninju kaca jendela mobilnya.
"Sean, apa kau percaya jika wanita itu hamil anakku? Kenapa mamah dan papah sangat mempercayai wanita itu," kesal Marco, dia berbicara pada sekretarisnya yang duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
"Bukankah kata Anda, Anda adalah laki-laki yang pertama untuknya. Kemungkinan besar iya Tuan," jawab Sean.
"Tapi bagaimana jika bukan!! Arrrgghhh, aku akan membuat dia menyesal jika sampai membohongiku dan keluarga ku," ucapnya dengan penuh amarah. Sebenarnya dia sama sekali tidak siap untuk terikat tali pernikahan dengan wanita manapun. Kalau saja dia lebih dulu tau dia akan memberikan sejumlah uang yang banyak untuk wanita itu sebagai gantinya. Karena Marco yakin sekali jika wanita itu sebenarnya hanya mengincar hartanya saja.