Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 24


__ADS_3

Hari ini akhir pekan. Marco sudah bangun pagi-pagi sekali, dia berniat untuk berolahraga lari pagi. Dia sudah memakai pakaian olahraganya, cepat panjang dan kaosnya. Dia akan berlari di sekitar lingkungan rumah orangtuanya. Dia memang memilih untuk pulang ke rumah orangtuanya setiap hari sekarang karena tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.


Hari masih cukup pagi, matahari pun belum begitu nampak. Saat akhir pekan banyak sekali yang keluar untuk berolahraga seperti Marco. Mereka biasanya menuju taman yang ada di kompleks perumahan itu. Menjadikan taman yang ditumbuhi pepohonan menjadi tempat beristirahat. Begitupun dengan Marco, walaupun sebenarnya dia memiliki tujuan lain mendatangi taman itu.


Pagi ini, seperti biasa di akhir pekan. Mishel dan ibunya juga sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan mereka jual di taman. Mereka menjual kopi, dan makanan ringan seperti roti panggang, sandwich dan yang lain. Mishel yang awalnya memiliki ide itu, tapi sebelumnya dia sudah meminta ijin pada Gerry dan Ayunda, mereka juga yang mengurus perijinannya karena di sana cukup ketat dan tidak sembarang orang bisa berjualan. Tidak setiap hari, hanya di akhir pekan yang ramai.


"Bu, sepertinya akan ramai hari ini," ujar Mishel.


"Semoga ya nak, jika mereka suka dengan makanan dan kopi buatan kita pasti mereka akan kembali."

__ADS_1


Mishel terlihat bersemangat meski perutnya tak lagi kecil. Di kehamilannya yang mendekati hari perkiraan lahir tentu itu cukup sulit untuk beraktivitas tapi dia memang paling tidak bisa hanya duduk diam dan menjadi beban. Dia masih merasa tidak enak pada mamah dan papah barunya yang begitu baik. Dia harus memulai mencari pekerjaan sendiri untuk kedepannya.


Tak lama pelanggan mulai berdatangan menuju tempat mereka berjualan. Sebuah gerobak makanan yang di depannya terpasang beberapa pasang meja dan kursi untuk pelanggan duduk. Mishel mulai sibuk melayani pembeli dengan hati dan suasana yang bahagia.


Di suatu sudut memperhatikan mereka. Awalnya Marco meremehkan mereka yang menurutnya hanya menjadi benalu orangtuanya dan jualan pasti hanya untuk pencitraan saja. Tapi setelah melihatnya sendiri membuat Marco tidak bisa berkata apa-apa. Apa lagi saat melihat wanita dengan perut membuncit itu tampak bahagia melayani para pelanggan. Mereka benar-benar berjualan bukan hanya untuk menarik simpati orangtuanya. Padahal pendapatan yang mereka dapatkan pastilah tidak seberapa dibandingkan jika menerima pemberian dari orangtuanya.


"Kau lihat lihat itu, penjual kopi yang ada di sana. Mereka ibu dan anak, anaknya itu yang sebagai pelayan hamil tampa suami. Tidak jelas ayah dari anaknya siapa, bukankah itu berarti anak haram."


"Benarkah, pantas dia harus bekerja keras dengan perut besar seperti itu."

__ADS_1


"Kabarnya, ibunya juga tidak jauh berbeda. Mereka ibu dan anak sama saja."


Marco tak sengaja mendengar sekelompok orang mencibir Mishel dan ibunya. Hal itu membuat dia kesal, apalagi saat mendengar orang-orang itu tertawa dan mengatakan anak itu adalah anak haram. Rasanya Marco ingin mengamuk sekarang.


Dia memperhatikan Mishel, ucapan mereka tadi walaupun sedikit jauh dari posisi Mishel berada agak jauh tapi karena mereka mengatakannya dengan keras pasti wanita itu mendengarnya juga. Tapi dia tampak baik-baik saja, itu karena dia sudah terbiasa mendapat cibiran.


Marco mendatangi tempat berjualan Mishel lalu duduk di salah satu tempat yang kosong. Dia memperhatikan dari dekat bagaimana wanita itu sibuk mondar-mandir tidak berhenti sejak tadi. Tapi masih banyak yang mencibirnya.


"Tuan, apa Anda mau pesan sesuatu?" tanya Mishel yang belum menyadari jika orang itu adalah Marco karena pria itu memakai topi sehingga wajahnya tertutup sebagian.

__ADS_1


__ADS_2