
Setelah melakukan fitting baju pengantin. Mishel dan calon ibu mertuanya sekarang sedang menuju rumah sakit untuk bertemu dengan dokter kandungan. Ibu Ayunda setia menemani calon menantunya itu. Walaupun baru sebentar mengenal tapi wanita itu sudah merasa sayang pada calon istri putranya padahal dia bukan tipe yang mudah dekat dengan orang baru.
Sebenarnya Ayunda sangat berharap putranya bisa turut andil juga. Tapi anak itu terlalu banyak alasan saat tadi pagi ibu Ayunda meminta putranya untuk fitting baju pengantin dan memeriksakan kandungan calon istrinya. Ibu Ayunda harus banyak bersabar menghadapi sang putra, sepertinya Setelah semua kenyataan ini terbuka. Marco mulai menunjukkan sifat aslinya, tidak seperti dulu yang sangat penurut.
"Maafkan putra mamah ya nak, seharusnya dia juga ikut mencoba baju yang akan kalian gunakan besok dan menemani mu tapi anak itu memang benar-benar keterlaluan karena masih saja mementingkan pekerjaannya padahal berapa hari lagi kalian akan menikah," ujar Ayunda dengan nada kecewa.
"Tidak apa-apa Mah. Kalau kak Marco ikut aku malah jadi canggung nanti." Mishel tersenyum dan menunjukkan kalau dia memang tidak masalah justru bersyukur jika pria itu tidak datang.
"Terimakasih, kamu sudah mau mengerti Marco. Dia sungguh beruntung mempunyai calon istri sebaik kamu nak. Oh ya bagaimana kabar cucu mamah, apa dia masih membuat ibunya kesusahan?" tanya Ayunda sembari mengusap perut calon menantunya.
"Sedikit Mah, tapi tidak apa-apa. Katanya ini hanya terjadi di awal kehamilan jadi aku akan menikmati prosesnya." Senyum Mishel sungguh membuat Ayunda makin merasa bersalah. Sang putra sangat keterlaluan membiarkan wanita yang sedang mengandung anaknya kesusahan seorang diri.
Semoga Marco bisa secepatnya sadar kalau kamu adalah wanita yang baik nak. Ayunda selalu berdoa agar mereka bisa saling menerima.
Sampai di butik, Mishel langsung mencoba gaun pengantinnya. Sengaja dibuat yang sederhana dan ringan agar tidak membahayakan kandungannya. Beberapa kemudian, dia keluar dari ruangan ganti dan seketika semua orang yang ada di sana terperangah melihat perubahan yang terjadi. Mereka seperti sedang melihat seseorang masuk ke lorong waktu di mana seseorang yang keluar dari sana langsung berubah jauh berbeda dari sebelumnya.
"Ya ampun nak, kamu sangat cantik. Mamah sampai berpikir apa itu kamu tadi." Ayunda sudah menebaknya jika Mishel sebenarnya cantik hanya saja dia tersembunyi oleh penampilannya yang sederhana. Jika sudah menikah nanti Ayunda akan membuat Mishel lebih cantik agar putranya tak bisa berpaling lagi dari istri nya.
Mishel pun tadi terkejut saat melihat penampilan nya di depan cermin. Tapi dia merasa karena gaun mahal yang dia pakai itulah yang membuat dia terlihat sedikit lebih cantik.
"Sebentar nak, biar mamah foto." Ayunda sangat antusias mengambil gambar untuk dikirimkan pada putra dan suaminya. Dia ingin memamerkan kecantikan Mishel yang sangat alami pada mereka. Sungguh kecantikan Mishel berbeda sekali dengan wanita-wanita yang biasanya melakukan perawatan.
Mishel sedang berganti pakaian sementara Ayunda sedang sibuk pamer pada putra dan suaminya. Dia sangat yakin kalau saat ini putranya itu pasti sedang terkesima dengan kecantikan Mishel.
"Lihat, dia pasti terkejut dan tidak menduga kalau Mishel akan secantik ini. Aku jadi penasaran bagaimana reaksinya, aku akan meneleponnya."
Ayunda menghubungi sang putra yang ternyata sedang rapat bersama para bawahannya.
__ADS_1
Ponsel Marco bergetar sejak tadi. Beberapa pesan masuk tampaknya dari sang mamah tapi dia belum membacanya karena tentu dia harus memberikan contoh yang baik pada bawahannya dengan tidak bermain ponsel saat sedang rapat.
"Apa hanya itu yang kalian buat! Sudah aku bilang beberapa kali carilah ide yang segar. Jika seperti ini terus lebih baik aku cari tim baru saja."
Mereka hanya bisa menunduk saat sang atasan tidak puas dengan kinerjanya. Salah mereka memang karena belum begitu maksimal.
Marco menatap tajam mereka semua.
Panggilan masuk dari mamahnya mengalihkan perhatiannya, terpaksa Marco angkat karena dia takut ada sesuatu yang penting.
"Hallo Mah, ada apa?" tanya Marco lembut. Berbeda jauh dengan saat dia bicara pada orang lain.
"Sayang, apa kamu sudah melihat foto yang mamah kirim. Bagaimana, cantik kan calon menantu mamah. Sayang sekali kamu tidak ikut, kamu pasti menyesal kan karena tidak melihatnya sendiri." Ayunda bicara panjang lebar.
"Mah ... aku sedang rapat jadi belum sempat melihatnya. Nanti aku akan membuat pesan mamah saat aku sudah selesai rapat."
Ayunda mematikan panggilannya. Membuat Marco menghela nafas dan penasaran dengan apa yang sudah mamahnya kirimkan padanya. Dia pun membukanya sekarang juga.
Seketika Marco terkesima tanpa mengedipkan matanya saat melihat foto siapa yang ada di ponselnya. Bagaimana waktu itu bisa berubah secantik itu dalam waktu singkat. Tapi baguslah, setidaknya dia tidak akan membuat Marco malu jika terpaksa harus menemani suaminya ke pesta atau acara-acara resmi maupun tidak resmi.
"Ehemmm, Tuan." Panggil sang sekretaris melihat tuannya melamun sambil senyum-senyum sendiri.
Marco tersadar kemudian segera meletakkan ponselnya. Dia berdehem sebentar lalu kembali melanjutkan rapat. Yang sangat disayangkan karena pria itu tidak bisa fokus lagi mendengarkan bawahannya berbicara.
"Tuan, bagaimana pendapat Anda?" Sean dibuat heran dengan atasannya. "Tuan." Nada Sean pun sedikit meninggi karena sejak tadi tuannya terus melamun.
Barulah Marco sadar. "Kau berani membentak ku Sean!!" Dia melotot tidak terima pada sekretarisnya.
__ADS_1
"Ti—tidak Tuan, saya hanya sedang memanggil Anda karena sejak tadi Anda melamun."
"Kapan aku melamun, Cih. Kalian juga, perbaiki semuanya baru serahkan padaku."
Setelah mengomel Marco pergi dari ruangan rapat begitu saja. Meninggalkan mereka yang tampak lemas karena artinya mereka harus lembur lagi menyelesaikan semua ini dalam waktu dekat.
"Sekretaris Sean, kenapa dengan Tuan Marco?" tanya salah satu anggota tim.
"Aku juga tidak tau, sementara kalian turuti saja kemauan tuan. Aku akan coba membujuknya agar memberikan waktu lebih lama." Sean pun segera menyusul tuannya.
Sementara itu Mishel sudah selesai mencoba gaun. Mereka rencanakan akan berjalan-jalan sebentar ke Mall. Tentu saja Ayunda yang mengajak karena dia sudah bertekad akan membuat putranya tidak bisa menghina Mishel lagi karena penampilannya.
Sampai di mall mereka langsung ke tempat yang menjual pakaian, tas dan sepatu ternama. Ayunda mengambil beberapa dress untuk dicoba menantunya.
"Sayang, kamu coba ini ya. Mamah akan carikan sepatu dan tas. Ayo ambil."
"Tapi Mah, aku sungguh tidak memerlukan pakaian Mah." Melihat nama brand di toko itu saja Mishel bisa menebak seberapa mahal harganya barang-barang yang ada di sana. Mishel bukan tidak tau, dia sering melihatnya di sosial media. Brand itu sering dipakai oleh artis-artis terkenal.
"Nak, perutmu akan semakin besar. Kamu harus mencari pakaian yang baru agar lebih membuat kamu nyaman. Mamah melakukan ini untuk cucu mamah, tolong jangan menolaknya," bujuk Ayunda dengan raut wajah sedih. Sebenarnya dia hanya pura-pura agar Mishel mau menurutinya.
"Baiklah Mah, akan aku coba."
Mishel sudah ada di ruangan ganti. Betapa terkejutnya dia saat melihat berapa nominal harga dress yang sedang ia pegang. Gajinya satu tahun saja tidak akan mampu membelinya. Tapi dia sudah berjanji dan tidak ingin membuat mamah Ayunda yang sangat baik itu kecewa. Mishel pun mencobanya.
Beberapa dress sudah Mishel coba. Bukan hanya hanya itu. Sepatu dan tas pun Mamah Ayunda belikan. Sampai mereka membutuhkan dua orang karyawan toko itu untuk membawakannya ke mobil.
"Mamah senang sekali berbelanja denganmu, sudah lama Mamah ingin berbelanja dengan anak-anak mamah tapi mereka semua laki-laki. Baru sebentar pergi saja pasti sudah bilang kalau mamah terlalu lama." Ayunda terkekeh sendiri padahal memang dia kalau belanja pasti kalap, apa saja di beli.
__ADS_1
"Terimakasih Mah." Walaupun begitu, Mishel tetap sangat bersyukur memiliki calon mertua yang sangat baik padanya. Padahal dia bukan bersalah dari keluarga yang setara dengan mereka. Mishel sempat berpikir kalau orang tua laki-laki itu akan menolaknya tapi ternyata mereka justru sangat terbuka menemaninya.