Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Bab 17


__ADS_3

Ayunda berangkat seorang diri hanya diantar oleh supir menuju ke rumah Mishel. Dia sungguh malu pada Mishel dan ibunya karena dia sudah sering mengatakan kalau putranya akan berubah perlahan tapi nyatanya menampakkan diri di hadapan mereka saja tidak semenjak hari itu. Akhirnya hari ini dia memutuskan untuk tidak lagi memaksa sang putra untuk menikah dengan wanita sebaik Mishel yang tidak pantas disakiti lagi.


Rencananya dia akan menyampaikan hal itu pada Mishel dan ibunya tapi sang suami melarangnya. Gerry mengatakan ingin menyampaikan permintaan maaf sendiri pada mereka dan berbicara baik-baik agar tidak ada pihak yang terluka. Mereka berdua juga sudah memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya karena Mishel dan ibunya tidak mungkin tinggal di lingkungan itu lagi jika pernikahan itu batal dilakukan.


"Nyonya, kita sudah sampai," ujar sang supir.


Ayunda melamun sepanjang jalan sampai tidak sadar kalau mereka telah tiba di depan rumah Mishel.


"Oh ya, aku akan turun sekarang. Tolong kamu bawakan barang-barang yang ada di bagasi," perintah Ayunda.


Saat wanita itu turun seperti biasa para tetangga akan langsung melihatnya dengan tatapan penuh selidik. Ayunda heran kenapa mereka suka sekali ingin tau urusan orang lain. Padahal dia yakin kalau Mishel dan ibunya tak pernah berbuat seperti itu pada mereka. Dia mencoba mengabaikan keberadaan mereka dan tetap berjalan ke rumah kecil itu.


Walaupun samar Ayunda bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi dia tidak ingin mencari masalah dengan mereka yang tidak sebanding dengannya. Bukan karena hartanya tapi menurutnya hanya orang-orang yang baiklah yang bisa sebanding dengan dirinya.


Setelah mengetuk pintu tak lama seseorang membukakan pintu.


"Mamah?" Mishel terkejut mendapati calon ibu mertuanya sudah ada di depan pintu rumahnya. Pasalnya semalam wanita itu mengatakan kalau anak lelaki nya yang akan datang dan lagi sekarang masih terlalu cepat dari jam yang sudah di jadwalkan.


"Pagi nak, maaf membuat mu terkejut karena datang tiba-tiba. Tadi Marco ada meeting mendadak jadi kamu pergi dengan mamah hari ini. Tidak apa-apa kan?" tanya Ayunda dengan hati yang nyeri.


"Eh iya, tidak apa-apa Mah." Mishel tersenyum pada wanita itu. Dia justru lebih tidak enak karena wanita paruh baya itu sering sekali mengatakan kata maaf yang sebenarnya tidak perlu. Karena wanita itu tidak bersalah, dia justru sangat baik pada Mishel. "Silahkan masuk Mah, Mishel tidak tau Mamah akan datang sekarang. Mishel akan siap-siap sekarang."


"Tidak perlu buru-buru, mamah sengaja datang lebih cepat agar kita bisa bersantai."


Ayunda sudah duduk di dalam rumah berdua dengan ibu Fira yang menemani. Sementara Mishel sedang berganti pakaian.


"Terimakasih banyak ibu Ayu, Anda selalu saja repot-repot membawakan banyak barang untuk kami. Saya tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan Anda."


"Panggil Ayunda, Ayu atau Ay saja Mbak, boleh kan aku panggil Mbak saja. Biar kita lebih akrab. Tidak perlu sungkan karena sekarang kita adalah keluarga."


"Iya Ay—Ayu." Ibu Fira masih kaku dan merasa aneh dengan panggilan akrab itu.


"Oh ya, nanti malam suamiku mau mengajak kalian untuk makan malam bersama. Apa Mbak ada waktu? Sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan mengenai masalah anak-anak kita," ujar Ayunda.

__ADS_1


Ibu Fira mengangguk. Ada sedikit kecemasan yang menghantuinya, mungkinkah ada masalah serius.


...


Mereka sudah ada dalam perjalanan ke rumah sakit. Ayunda senang melihat Mishel mau menggunakan pakaian yang ia belikan. Memang sebenarnya Mishel sangat cantik hanya saja selama ini tertutup oleh penampilannya yang sederhana tapi jika kita bisa melihatnya justru dia jauh lebih cantik hatinya.


"Kamu cantik sekali hari ini, mamah senang kamu mau memakai pakaian yang mamah belikan." Sepanjang perjalanan Ayunda tak berhenti menggenggam atau mengusap perut Mishel penuh kasih sayang.


"Terimakasih Mah, ini karena baju yang mamah pilih sangat cantik."


"No, bukan karena bajunya tapi karena kamu memang cantik. Bukan hanya luarnya saja tapi hatimu juga cantik. Mamah bisa merasakannya walaupun kita baru sebentar bertemu." Dan putra mamah pasti akan menyesal karena menyia-nyiakan wanita sebaik kamu nak, sambung Ayunda dalam hati.


"Mamah bisa saja, tapi aku rasa mamah jauh lebih cantik. Dulu saat muda pasti mamah sangat cantik. Sekarang saja masih terlihat cantik."


"Kamu memuji Mamah, lihat wajah mamah saja sudah penuh kerutan seperti ini. Dan sebentar lagi akan menjadi nenek. Tidak terasa ternyata mamah sudah tua."


"Tidak Mah, mamah masih terlihat muda kok," Sahut Mishel yang perlahan tidak terlalu canggung lagi pada wanita itu.


Ayunda mengusap kepala Mishel. Beruntungnya dia akan memiliki cucu yang terlahir dari wanita yang sangat baik seperti Mishel. Dia berharap cucunya nanti tidak membawa sifat buruk ayahnya.


"Ah iya, mamah tidak apa-apa." Ayunda berusaha tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke depan agar Mishel tak melihatnya bersedih.


Sebenarnya Mishel bisa merasakan jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja tapi dia tidak menayangkannya lagi. Mishel merasa bukan ranahnya untuk tau lebih jauh urusan mamah Ayunda. Mereka bahkan belum resmi menjadi mertua dan menantu.


Mereka sampai di rumah sakit dan tanpa harus mengantri, Mishel langsung bisa di periksa oleh dokter.


"Umurnya sekitar lima Minggu. Ukurannya masih sangat kecil. Semuanya sehat dan tidak ada masalah. Tinggal menjaganya dengan baik dengan makan makanan yang sehat dan meminum vitamin serta susu hamil agar janinnya tumbuh dengan baik."


Ayunda sangat terharu melihat gambar janin yang ada di layar monitor. Dia bahkan menyimpan fotonya satu. Dia tidak menyangka kalau akhirnya dia akan memiliki seorang cucu, setelah sekian lama menunggu kehadiran anggota keluarga baru.


"Terimakasih nak, terimakasih sudah mau mempertahankannya." Ayunda tau pasti sangat berat bagi Mishel yang belum menikah saat mengetahui kenyataan itu. Ayunda sangat bersyukur karena Mishel tetap mempertahankan janinnya dengan baik dan meminta pertanggungjawaban.


Mishel pun ikut terharu melihat mamah Ayunda menangis. Dia sangat bahagia karena kelak anaknya akan memiliki nenek yang sangat baik seperti mamah Ayunda.

__ADS_1


...


Marco kehilangan mood nya setelah melihat sang mamah kecewa padanya. Seharusnya dia senang karena tidak perlu lagi menikahi wanita itu tapi hatinya berkata lain. Apa mungkin keputusannya sudah benar dengan membatalkan pernikahan ini atau dia akan menyesal dikemudian hari.


Tidak! Marco tidak akan menyesal karena dia masih yakin kalau anak ini bukan darah dagingnya. Tapi kenapa pikirannya tidak tenang, belum lagi belakang ini dia sering memimpikan tentang anak kecil yang memanggilnya papah.


"Papah, ayo main."


"Papah, aku sayang Papah"


Bayang-bayang suara anak kecil itu membuat tidurnya tidak nyenyak beberapa hari ini. Mungkinkah ini pertanda kalau anak itu adalah anaknya tapi dia berusaha menyangkalnya. Berpikir kalau itu hanya karena masalah yang sedang menimpanya membuat dia mengigau.


Saat sedang melamun, sekretarisnya datang mengetuk pintu.


"Tuan, ada kabar dari WO undangan pernikahannya sudah jadi. Mereka memberitahu kemari karena katanya Nyonya mengatakan untuk membuangnya. Mereka bingung jadi ingin menanyakannya pada Anda."


Ternyata sang Mamah tidak main-main dengan ucapannya. Dia benar-benar tidak akan memaksanya lagi.


Marco menghela nafas, jika dia melanjutkannya sekarang dia juga belum begitu yakin bisa menjalani pernikahan itu. Ya, mungkin membatalkannya adalah pilihan yang terbaik.


"Bilang pada mereka, ikuti saja perintah Mamah," ujar Marco.


"Tuan, tapi kenapa? Bagaimana dengan pernikahannya?"


"Tidak akan ada pernikahan. Bagus juga karena belum ada pengumuman pernikahan jadi aku tidak perlu mengklarifikasi pada media tentang pembatalan pernikahan ini," ucapnya.


Sean tercengang mendengar hal itu, bukankah pernikahan ini sangat dinantikan oleh Nyonya dan Tuan besar tapi mengapa tiba-tiba batal. Ah iya , lalu bagaimana dengan wanita yang katanya sedang mengandung anak Tuan Marco.


"Apa Anda benar-benar tidak akan menikah Tuan? Apa Anda akan membiarkan anak itu lahir tanpa ayah?" tanya Sean yang penasaran. Seketika dia mendapatkan tatapan tajam dari atasannya karena sudah berani bertanya.


"Kau tidak perlu banyak bertanya, mamah yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini jadi tidak ada sangkut pautnya denganku."


Di saat yang bersamaan, dua teman Marco datang berkunjung dan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Apa! batal?" tanya mereka.


__ADS_2