Benih Yang Tak Diakui

Benih Yang Tak Diakui
Kedatangan Theo di Mansion


__ADS_3

Ketika sampai di ruang makan Anggita cukup menyesal karena hanya melihat Byantara yang duduk di meja makan, sedangkan Sella tidak kelihatan.


Harusnya aku ke kamar ibu dulu, kupikir ibu dan Benji sudah di ruang makan, sesal Anggita.


Lagi pula kok tumben si Sella gak ikut sarapan, biasanya nempel terus, jangan-jangan Sella tahu kalau kemaren mas Byan berada di kamar ku, pikir Anggita merasa aneh karena kali ini tidak melihat Sella ikut sarapan. Anggita juga merasa canggung kini hanya ada dia dan Byantara saja di ruang makan itu.


Tapi saat melihat bangku kosong itu, malah Byantara menatap ke arahnya, membuat Anggita seketika langsung membuang muka.


Cih! Lelaki mesum! gerutu Anggita merasa kesal lagi teringat kejadian semalam.


Akhirnya Anggita memutuskan keluar dari ruang itu untuk mencari Benji dulu di kamar Bu Darmawan, agar mereka bisa sarapan bersama. Berdua saja dengan Byantara dalam satu ruangan, sungguh tidak enak!


**********


"Tunggu Gita!" panggil Byantara sambil menarik pergelangan tangan Anggita. Entah kapan Byantara bangun dari duduknya, tahu-tahu Byantara sudah berada di belakangnya, padahal Anggita baru melangkah beberapa langkah.


"Lepaskan aku!" ujar Anggita dengan galak, berusaha menarik lepas tangannya dari genggaman tangan Byantara.


"Lepaskan! Apa mau mu lagi?" tanya Anggita kesal, karena usahanya melepaskan cengkraman tangan Byantara tidak berhasil.


"Kau jangan menghindari aku, Gita. Bisakah kita berdamai? Kau jangan memusuhi ku, bisakah kita berbicara baik-baik ?" tanya Byantara.


"Tidak! Kau suka memaksakan kehendak, aku tidak mau berbicara pada mu! Bukankah dulu ini mau mu? Dulu aku berbicara baik-baik pada mu, pernahkah kau menghargai ku? Dulu aku ingin berdamai dengan mu, pernahkah kau mengabulkan keinginan ku? Aku bukan perempuan lembut dan pemaaf seperti Sella, jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan mas Byan. Aku tinggal di sini hanya karena menghargai ibu, itu saja!" ujar Anggita.


"Tapi kejadian semalam....," Belum sempat Byantara menyelesaikan bicaranya, Anggita langsung memotong pembicaraan Byantara


"Lupakan saja! Jangan kau ulangi lagi mas! Ingat janji mu membuat kunci di kamar ku! Sekarang lepaskan tangan mu, aku mau memanggil Benji!" sahut Anggita.


Belum sempat Byantara melepaskan cengkraman tangannya, tampak Benji dan Bu Darmawan yang juga muncul di ruang makan. Benji langsung menatap tidak senang pada Byantara dan segera menarik lepas tangan Byantara.


"Papa! Jangan ambil mama Benji!" ujar Benji tidak senang. Benji yang sudah terbiasa tinggal berdua saja dengan Anggita, merasa cemburu pada Byantara. Benji takut perhatian sang ibu berkurang karena ada Byantara, sejak dia memergoki Byantara tidur di tempat tidurnya.

__ADS_1


Anggita langsung menggandeng Benji menuju ke meja makan.


"Ayo Benji makan dulu, hari ini Benji hari pertama sekolah, jangan sampai terlambat ya," ujar Anggita yang segera menyendokkan makanan untuk Benji. Sedangkan Byantara hanya bisa memandang Ibu dan anak itu dan tidak bisa berkata apa-apa.


Mungkin ini balasan untuk perbuatan ku dulu, sudah bersikap keterlaluan pada Gita, sesal Byantara dalam hati.


"Kau harus sabar Byan!" ujar sang ibu berbisik sambil menepuk bahu Byantara untuk menyemangati.


*********


Benji begitu senang dengan sekolah barunya. Saat Anggita ijin untuk pulang terlebih dahulu, Benji pun langsung mengangguk mengiyakan tanpa ragu.


"Wah Benji anak yang pintar dan berani Gita, seperti Byantara dulu!" ujar Bu Darmawan yang kembali menggencarkan promosinya.


"Padahal banyak anak seumur itu kalau baru masuk sekolah tidak mau ditinggal, bahkan ada beberapa yang menangis saat hari pertama, Gita!" sambung Bu Darmawan.


"Iya Bu, untung Benji suka dan tidak menangis. Soalnya gurunya juga minta ditinggalkan saja, agar terbiasa dan belajar mandiri Bu," sahut Anggita.


"Maaf Bu, aku pulang saja. Soalnya Gita mau merapikan barang-barang Gita di kamar," ujar Anggita memberi alasan, Anggita sebenarnya malas bertemu dengan teman arisan Bu Darmawan, karena banyak dari teman arisan Bu Darmawan yang mengenal dia.


"Minta Pak Manto antar kau pulang dulu saja, nanti baru ibu pergi lagi," ujar Bu Darmawan.


"Malah merepotkan Bu, biar Gita naik kendaraan online saja, biar gak usah bolak balik dan menghabiskan waktu ibu," tolak Anggita sambil tersenyum.


Akhirnya Bu Darmawan tidak memaksa lagi saat Anggita tetap pada pendiriannya.


********


"Mas Theo!" panggil Anggita saat memasuki gerbang mansion, dia melihat Theo yang baru keluar dari mobilnya.


"Dari mana Gita? Naik apa kau?" tanya Theo.

__ADS_1


"Aku habis antar Benji ke sekolah mas Theo." sahut Anggita tersenyum rama dan menceritakan kalau dia pulang dengan kendaraan online, karena Bu Darmawan langsung ke acara arisan.


"Wah Benji sudah sekolah? Padahal aku kangen ingin melihat Benji. Sudah lama tidak melihat, aku sedang sibuk Gita," ujar Theo berbasa-basi, padahal yang membuat Theo kangen tentu Anggita.


"Iya mas, sekarang Benji sudah pintar bicara mas, besok-besok kalau mau datang hari Sabtu atau Minggu, biar bisa ketemu Benji," ujar Anggita.


"Baiklah Gita, sekalian aku ingin berbicara pada mu Gita," ujar Theo.


"Serius banget mas? ayo masuk ke ruang tamu saja, biar lebih nyaman bicaranya.," ujar Anggita, tanpa sadar dari tadi merek berbicara sambil berjalan, tahu-tahu sudah berada di pintu masuk. Theo pun mengekor di belakang Gita menuju ruang tamu.


Sella yang sejak tadi berdiri di depan jendela kamarnya merenungi nasibnya, melihat kedatangan Theo yang disambut Anggita dengan ramah akhirnya memutuskan turun ke bawah Mansion. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menguping pembicaraan Anggita dan Theo.


**********


"Bagaimana kabar usaha mu mas Theo? Ada kemajuan tidak?" tanya Anggita sambil menyodorkan segelas minuman untuk Theo.


"Akhir-akhir ini mengalami kemajuan pesat Gita! Aku senang sekali, aku tentu berharap agar usaha ku semakin pesat dan tidak bergantung lagi pada Byantara. Saat itu kau tentu sudah tidak perlu berkorban untuk ku, Gita!" ujar Theo.


"Jangan bicarakan masalah itu lagi mas, aku senang sudah bisa membantu mas Theo. Bagaimana keadaan ibu mu? Ada kemajuan terapi nya?" tanya Anggita.


"Gita, ibu ku biasa saja, tapi setidaknya tidak pernah drop. Gita aku sungguh merasa bersalah pada mu, demi aku akhirnya kau harus tinggal dengan Byantara. Apakah Byantara pernah menyakiti mu?" tanya Theo tiba-tiba merasa bersalah, apalagi Anggita sebetulnya sudah begitu baik dan memperhatikan ibunya. Tapi karena keegoisannya, dia malah bekerja sama dengan Byantara, menjebak Anggita kembali ke Mansion Darmawan.


"Kau jangan khawatirkan aku mas Theo, di sini ada ibu, ibu selalu baik pada ku, setidaknya masih ada yang memihak pada ku. Yang penting kau baik-baik saja mas, aku tidak ingin gara-gara aku, mas Byan menyulitkan mu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku," ujar Anggita yang membuat Theo semakin merasa bersalah karena sudah memanfaatkan kebaikan Anggita..


"Baiklah Gita, yang penting aku sudah melihat keadaan mu baik-baik saja, itu sudah cukup. Aku permisi pulang dulu, Benji juga sedang gak ada," pamit Theo.


"Baik mas Theo, hati-hati," ujar Anggita mengiringi kepergian Theo.


**********


"Apa maksud mu membuat Anggita kembali ke Mansion Darmawan? Bukankah dulu kau bekerja sama dengan ku karena ingin memiliki Anggita? Mengapa kini kau menyerahkan Anggita pada Byantara kembali?" tanya Sella yang muncul tiba-tiba, saat Theo hendak masuk ke mobilnya.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2